Dahulukan Akhlak di Atas Fiqih (1)

Di posting oleh Muhammad Habil Ahmad pada 08:56 PM, 01-Mar-11

Ketika Utsman bin Affan berada di Muna dalam rangkaian ibadah hajinya , ia shalat Zhuhur dan Ashar, masing-masing empat rakaat. Abdurrahman bin Yazid mengabarkan bahwa ketika kejadian itu disampaikan kepada Abdullah bin Mas'ud, ia menerimanya dengan mengucapkan Inna lillahi wa Inna Illaihi Raji'un. Buat Ibn Mas'ud , peristiwa itu adalah sebuah musibah. Utsman sudah meninggalkan sunnah Rasulullah dan sunnah Abu Bakar dan Umar. "Aku shalat dua rakaat. Aku shalat bersama Umar bin Khatab di Muna juga dua rakaat." (Al-Bukhari 2:563 ; Muslim 1:483)

Menurut Al-A'masy, Abdullah bin Mas'ud ternyata shalat di Muna empat rakaat juga. Orang pernah menyampaikan kepada kami hadist bahwa Rasulullah saw
, Abu Bakar dan Umar shalat di Muna dua rakaat "Ibn Mas'ud menjawab, "Memang benar. Aku sampaikan lagi kepada kalian hadist itu sekarang. Tetapi Utsman sekarang ini menjadi imam. Aku tidak akan menentangnya. Wal Khilafu Syarr. Semua pertentangan itu buruk." (Sunan Abu Dawud 2:491, hadist nomor 1960; Sunan Al-Baihaqi, 3:143-144).

Peristiwa ini menunjukkan perbedaan fiqih di antara dua sahabat besar Utsman bin Affan dan Abdullah bin Mas'ud. Secara harfiah, fiqih berarti pemahaman. Secara teknis, fiqih berarti hasil perumusan para Ulama ketika mereka berusaha memahami nash - petunjuk dalam Al-Quran dan Sunnah . Menurut pemahaman Ibn Mas'ud, karena Rasulullah, Abu Bakar, dan Umar meng-qasharnya. Menurut pemahaman Utsman, ia tidak boleh meng-qashar shalat di Muna , karena ia (konon diberitakan) sudah beristri dengan penduduk Mekkah. Jadi posisi Utsman tidak sama dengan posisi Rasulullah saw, Abu Bakar, dan Umar.

Yang menarik untuk kita perhatikan adalah sikap Abdullah bin Mas'ud . Ia menegaskan pendapatnya tentang shalat qashar di Muna; tetapi ia tidak mempraktekkan fiqihnya itu karena menghormati Utsman sebagai imam dan karena ia ingin menghindari pertengkaran. Inilah contoh ketika sahabat yang mulia mendahulukan akhlak di atas fiqih. Secara sederhana, prinsip mendahulu
kan dengan kalimat perintah : Tinggalkan fiqih, jika fiqih itu bertentangan dengan akhlak. Fiqih Ibn Mas'ud adalah meng-qashar shalat ; tetapi akhlak mengharuskan menghormati imam. Ibn Mas'ud meninggalkan fiqih demi memelihara akhlak yang mulia. Fiqih ditinggalkan demi menghindari pertengkaran.
Prinsip inilah yang dicontohkan oleh guru besar dan sendiri Al-Ikhwan Al-Muslim, Imam Hasan Al-Banna. Pada permulaan malam Ramadhan, ia datang ke sebuah masjid di Mesir. Ia menemukan jemaah masjid itu sudah terbelah menjadi dua. Mereka sedang bertengkar berhadap-hadapan, dengan suara yang keras. Satu kelompok menjelaskan bahwa tarawih yang sesuai dengan sunnah Rasulullah saw adalah sebelas rakaat. Kelompok lainnya, dengan merujuk pada hadist, menegaskan bahwa shalat tarawih dengan dua puluh tiga rakaat lebih utama. Hasan Al-Banna bertanya kepada kedua kelompok itu, "Apa hukumnya shalat tarawih ?" Keduanya menjawab, "sunat!" beliau bertanya, "Apa hukumnya bertengkar di Rumah Tuhan dengan suara keras ?" keduanya menjawab (mungkin dengan suara lirih), "Haram!" Imam bertanya, "Mengapa kalian lakukan yang haram untuk mempertahankan yang sunat ?" Dengan kalimat yang lain. Imam Hasan Al-Banna menegur kaum muslimin "mengapa kalian mempertahankan fiqih dengan meninggalkan akhlak ?".
Muhammad Jalil'Isa, dalam kitabnya Ma la yajuzu fih al-khilaf bayna al-muslimin, melaporkan berbagai konflik diantara muslimin karena kesetiaan yang berlebihan kepada fiqih yang di anutnya.
Di Masjid lahore, India, seorang santri ditanya tentang kejadian di Afganistan. Ada seseorang yang sedang sholat melihat kawan disampingnya menggerak-gerakkan telunjuknya ketika mengucapkan kalimat tasyahhud pada tahiyyatnya. Ia memukul jarinya dengan keras sehingga patah. Santri itu menjawab, "Memang, peristiwa itu terjadi!" ketika ditanya apa sebabnya, ia menjawab bahwa orang itu sudah melakukan hal yang haram dalam sholat, yaitu menggerak-gerakkan telunjuknya ketika ditanyakan lagi apa keterangan yang menunjukkan haramnya menggerak-gerakkan telunjuk, santri itu menunjuk kitab fiqih yang ditulis oleh Syaikh Al-Kaydani. Haramnya menggerak-gerakkan telunjuk itu didasarkan pada kitab fiqih. Santri itu lupa bahwa melukai dan mematahkan jari seorang muslim yang sedang shalat jelas-jelas haram berdasarkan dalil-dalil yang tegas dalam Al-quran dan sunnah. Haramnya menggerak-gerakkan telunjuk diperdebatkan diantara para Ulama; tetapi haramnya mematahkan telunjuk orang Islam disepakati oleh semua Mazhab. Yang pertama berkaitan dengan fiqih; yang kedua berkaitan dengan akhlak. Kejadian ini darat Anda temukan pada pasal 12, Muqaddimah Kitab Al-Mughni.
Pada pasal yang sama diceritakan juga peristiwa lainnya di Afghanistan. Seorang pengikut mazhab Hanafi mendengar seorang makmum membaca Al-Fatihah hanya wajib bagi imam dan orang yang shalat Munfarid. Demi mempertahankan fiqih itu, pengikutnya yang fanatik merasa berbuat baik dengan menjatuhkan seorang mushalli yang berbeda mazhabnya.
Contoh lain yang menunjukkan sikap mendahulukan fiqih diatas akhlak adalah meninggalkan shalat berjamaah karena imamnya berlainan mazhab dengannya. Lebih ekstrem lagi, kalau ia beranggapan bahwa shalat dengan mengikuti imam yang berlainan mazhab itu batal atau tidak sah, sehingga shalat perlu diulangi lagi. Al-Syathibi, alim besar, dalam Kitabnya yang terkenal Al-I'tisham, nomor 5 pasal ketujuh menulis, "Diantara kekeliruan memelihara yang sunnah adalah keyakinan orang awam bahwa itu adalah wajib. Sebagian pengikut mazhab Syafi'i keluar meninggalkan shalat jamaah subuh karena imam tidak membaca ayat Sajdah dan tidak sujud karenanya. "Muhammad'Isa melaporkan bahwa apa yang disebut Al-Syathibi itu masih sering terjadi pada zaman sekarang ini. Di sebuah masjid di Kairo, shalat subuh diulangi karena imamnya tidak membaca Sajdah.
Agak mirip Kejadian diatas adalah pengalaman salah seorang dosen Al-Azhar, Muhammad Abdul Wahhab Fayid; "Aku menjadi imam saat shalat maghrib berjamaah disebuah masjid besar di Al-Aryaf. Aku tidak mengeraskan bacaan bismillah dalam Al-Fatihah. Usai shalat, salah seorang yang mengaku sebagai Ulama berteriak, "Saudara-saudara, ulangi shalat kalian! Karena shalat kalian batal!" seorang muazin kemudian menyampaikan iqamat dan Ulama yang berteriak itu menjadi imam shalat maghrib yang kedua. Aku sendiri merasa bimbang dan karena itu aku ulangi shalat itu dibelakang dia bersama orang banyak.
Setelah selesai shalat, aku menemuinya dan berkata kepadanya, "Saya ini sudah shalat dibelakang engkau untuk kedua kalinya. Tetapi, saya ingin tahu apa kesalahan saya sehingga shalat saya menjadi batal !". Ia berkata, 'Karena engkau tidak membaca bismillah pada awal Al-Fatihah.' Aku berkata 'Saya membacanya dalam hati. Ada hadist yang menerangkan membaca bismillah dengan sirr sebagaimana ada hadist yang menerangkan pembacaan bismillah dengan jahar. Kedua-duanya diperbolehkan. Bahkan imam Malik ra berkata : membaca basmalah itu makruh. Saya tidak yakin bahwa seorang yang berkata bahwa shalat Imam Malik seluruhnya batal!! Yang diyakini oleh para Ulama ialah bahwa Imam Syafi'i, jika ia shalat dibelakang Malik dan tidak mendengar bacaan Basmalah, ia tidak meninggalkan shalatnya itu. Bahkan ketika disampaikan kepadanya bahwa jika sekiranya Imam Hanafi berwudhu dan setelah wudhu menyentuh kemaluannya, sahkah shalat Imam Syafi'i dibelakangnya ? (Dalam mazhab Hanafi, menyentuh kemaluannya tidak membatalkan wudhu). Imam Syafi'i menjawab : "Mana mungkin aku tidak shalat dibelakang Abu Hanifah."
Alangkah jauhnya perbedaan antara pengikut dengan Imamnya! Pengikut Imam Syafi'i meninggalkan shalat berjamaah karena Imamnya shalat menurut mazhab Hanafi. Imam Syafi'i merasa terhormat bila ia shalat berjamaah dibelakang dan mengikuti Abu Hanifah. Pernah pada suatu hari, Imam Syafi'i ditunjuk sebagai Imam untuk shalat subuh di masjid Kufah. Tidak jauh dari masjid itu, ada kuburan Imam Hanafi. Imam Syafi'i tidak membaca junut di dalam shalat subuhnya dan tidak melakukan sujud sahwi sebagaimana seharusnya di dalam Fiqih Syafi'i. Ketika orang-orang bertanya kepadanya mengapa ia meninggalkan fiqihnya. Imam Syafi'i menjawab sambil menunjuk kekuburan Abu Hanifah: "Aku menghormati penghuni kuburan itu".
Sebetulnya, kita bisa membedakan paradigma berfikir para mujtahid. Para Ulama besar berpegang pada prinsip mendahulukan akhlak di atas fiqih dan orang-orang awam yang guminter sebaliknya.
Di indonesia, saya mengenal banyak orang yang mengikuti paradigma kedua. Salah seorang diantara mereka mengajarkan fiqih yang diperolehnya dari hasil pemahaman dia diatas fatwa hasil ijtihad Ulama besar. Ia menjemur cuciannya di tempat jemuran yang dekat dengan rumah tetangganya. Hujan turun dengan lebat. Karena kebaikan budi, tetangganya mengumpulkan jemuran kawan saya itu dan menyimpannya di dalam wadah cucian. Ia menyerahkannya kepada santri yang "faqih" itu. Sang santri mendelik marah, "Karena ulah anda, aku harus mencuci kembali seluruh cucian ini." Menurut kawan saya itu, pakaian yang sudah disentuh oleh tangan basah orang yang berbeda mazhab menjadi najis. Kawan saya itu juga tidak mau shalat Jumat di kampungnya dan tidak pernah ikut shalat berjamaah bersama mereka. Ketika ia berbuka puasa, ia memilih waktu buka puasa yang berbeda dengan orang-orang Islam lainnya di kampungnya. Ia mendahulukan fiqihnya ketimbang mematuhi sabda Nabi saw, "Siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir hendaknya ia memuliakan tetangganya."

Bagikan ke Facebook Bagikan ke Twitter

Komentar

6 tanggapan untuk "Dahulukan Akhlak di Atas Fiqih (1)"

firdi52 pada 06:03 PM, 13-Mar-11

smg brmnfaat

Fikri Adi Sumarno pada 04:18 PM, 22-Jun-11

Lam kenal sob..
Ijin follownya..
Follow balik ya ?
Thnks..

yuki pada 09:31 PM, 25-Aug-11

sangat luar biasa perbedaan ini,,,,bagi yg bisa mengambil hikmah n mengamalkan....

Ochthy pada 03:08 AM, 16-Oct-11

lamken brow,, visit balik yo http://duniaislam.mwb.im

Gebleg pada 11:34 AM, 10-Jan-12

mampir mas

rbCehCTtU pada 07:35 PM, 10-Oct-12

Mohon dukungannya dalam Pemilihan Blog Guru Terbaik "GURARU BLOG AWARD 2011".Klik untuk mekndnuug saya.Terima kasih atas suppor yang rekan berikan..

Langgani komentar: [RSS] [Atom]

Komentar Baru

[Masuk]
Nama:

Email:

Komentar:
(Beberapa Tag BBCode diperbolehkan)

Kode Keamanan:
Aktifkan Gambar