Penerjemahan Karya Cendikiawan Muslim [09:51 AM, 15-Dec-09]
Penerjemahan memberikan
pengaruh bagi
perkembangan ilmu
pengetahuan di Barat.
Sebuah proses transfer ilmu
terjadi. Ini berjalan melalui
kegiatan penerjemahan. Pada
awal abad ke-12, banyak
manuskrip karya cendekiawan
Muslim dialihbahasakan oleh
para sarjana Eropa. Pusat
penerjemahan tersebut berada
di Toledo, Spanyol.
Sebelumnya, selama hampir
empat abad, Toledo berada
dalam kekuasaan wilayah Islam
di bawah kendali pemerintahan
Dinasti Muawwiyah. Namun,
pada 1085, wilayah itu
kemudian lepas dari kekuasaan
pemerintahan Islam dan jatuh ke
dalam kendali pemerintah
Kristen Eropa.
Bahkan, Toledo disebut-sebut
sebagai pusat penerjemahan
karya cendekiawan Muslim
terbesar dalam sejarah ilmu
pengetahuan. Banyak
cendekiawan Barat yang
kemudian bergegas menuju
Toledo untuk ikut ambil bagian
dalam penerjemahan dan
menimba ilmu di sana.
Selain itu, banyak kota lain yang
menjadi tempat kegiatan
penerjemahan karya-karya
cendekiawan Muslim dilakukan.
Kota-kota tersebut adalah
Barcelona, Tarazon, Segovia,
Leon, Pamplona, Toulouse,
Beziers, Narbonne, dan Marseille.
Maraknya penerjemahan dan
berdatangannya para sarjana ke
pusat-pusat penerjemahan itu
kemudian memantik
kebangkitan ilmiah di wilayah
Eropa. Dalam proses
penerjemahan, lahir sejumlah
penerjemah ternama saat itu.
Mereka adalah John dari Seville,
Hugh dari Santalla, para sarjana
yang bekerja di bawah
kekuasaan Raja Kristen Spanyol
Alfonso, Herman dari Dalmatia,
dan Rudolph dari Bruges. Dari
Prancis, ada Armengaud putra
Blaise, Jacob Anatoli, Musa bin
Pita, dan Jacob ben Mahir.
Sedangkan, penerjemah dari
Italia antara lain adalah Plato
dari Tivoli, Gerard dari Cremona,
Aristippus Catania, Salio Padua,
serta John dari Brescia. Ada pula
penerjemah yang datang dari
Inggris, yaitu Robert dari
Chester, Daniel dari Morley, serta
M Scot.
Para penerjemah itu
menerjemahkan karya-karya
cendekiawan Muslim dari bahasa
Arab ke bahasa Latin. Pun,
dialihbahasakan ke dalam
bahasa masing-masing sarjana
tersebut. Ada penerjemah yang
paling produktif, yaitu Gerard
dari Cremona, Italia.
Gerard menerjemahkan sekitar
87 karya cendekiawan Muslim,
seperti Toledan Tables of Al-
Zarqali Canones Arzachelis, Islah
Al-Majisti karya Jabir ibn Aflah
atau Correction of Almagest of
Ptolemy . Ada pula karya Banu
Musa berjudul Liber Trium
Fratrum .
Terjemahan lainnya adalah karya
Al-Khawarizmi berjudul De Jebra
et Elmucabala , karya Abu Kamil
berjudul Liber Qui Secundum
Arabes Vocatur Algebra et
Almucabala , dan karya Abu'l
Qasim Al-Zahrawi berjudul Liber
Azaragui de Cirurgia atau
Treatise on Surgery .
Karya lain yang diterjemahkan
Gerrard adalah milik Al-Farabi
yang berjudul De Scientist ,
karya Al-Kindi dalam bidang
fisika dan mekanik, karya Ibn Al-
Haytham dalam bidang fisika
berjudul De Crepusculis et
Nubium Sscensionibus , dan
karya Al-Kindi berjudul De
Gradibus Medicinarum .
John dari Sevilla menerjemahkan
karya Al-Battani berjudul
Treatise on Astronomy , karya
Thabit ibn Qura yang berjudul De
imaginibus Astronomicis , karya
Maslama ibn Ahmed al Majriti
yang berjudul De Astrolabio ,
dan karya Al-Farabi yang
berjudul Ihsa al-Ulum .
Tak hanya itu, John juga
menerjemahkan karya Abu
Ma'shar berjudul Al-Madkhal ila
`Ilm Ahkam al-Nujum , karya Al-
Ghazali yang berjudul Maqasid
Al-Falasifa , serta karya Al-
Farghani berjudul Kitab fi
Harakat al-Samawiya wa
Jawami' Ilm al-Nujum .
<B>Menjadi pijakan<B>
Melalui penerjemahan ini, teori-
teori yang diungkapkan oleh
cendekiawan Muslim menjadi
sebuah pijakan dalam
pengembangan bidang
selanjutnya. Dalam bidang optik,
misalnya, karya-karya Muslim
menjadi fondasi penting bagi
perkembangan ilmu tersebut.
Sejumlah cendekiawan Muslim
yang ahli di bidang optik
mengembangkan ilmu mereka
dan melakukan kritik serta
menghapus asumsi keliru para
pemikir Yunani tentang optik.
Hunain bin Ishaq dan Al-Kindi
termasuk yang melontarkan
kritik itu.
Namun, memang, Ibn Al-
Haytham merupakan ilmuwan
yang lebih dikenal membuat
gebrakan revolusioner dalam
bidang optik. Ia berhasil
menjelaskan fakta-fakta utama
dari persepsi visual dan
mengubah tujuan serta ruang
lingkup teori optik secara
mendasar.
Selain itu, Haytham pun mampu
mengintegrasikan teori optik ke
dalam teori anatomi dan
fisiologis. Karya-karyanya
tentang optik ini telah
diterjemahkan ke berbagai
bahasa di dunia dan
memengaruhi perkembangan
optik di Barat.
Perkembangan farmasi di Barat
juga mendapat pengaruh dari
umat Islam. Seorang penulis,
Levey, mengatakan, sebenarnya
karya-karya dalam bahasa Latin
mengenai bidang itu merupakan
kompilasi yang sedikit diubah
dari karya-karya Muslim
sebelumnya.
Sebagai contoh, buku berjudul
Conciliator and De Venenorum
Remediis karya Albano, seorang
professor di Padua pada tahun
1306, hanyalah sebuah intisati
dari karya Ibn Rushd dan Al
Maradini yang telah dicetak
berulang kali selama bertahun-
tahun.
Sebagian besar karya terkait
dengan apotek, menurut Levey,
sangat dipengaruhi oleh karya-
karya Ibnu Sina, Ibnu Sarabiyun
yang akrab dipanggil Serapion,
Al-Zahrawi, dan Ibnu Masawaih
yang dikenal pula dengan nama
Al-Maradini.
Seorang dokter termasyhur
yang hidup pada abad ke-15
bernama Saladin
mengungkapkan, Muslim telah
menciptakan kategorisasi dalam
bidang farmasi ini, antara lain
soal pemeriksaan dari apoteker,
kualitas yang diinginkan
apoteker, obat-obatan
pengganti, dan senyawa obat-
obatan.
Pengaruh Islam dalam bidang
farmasi menyelusup hingga
Jerman, Prancis, Inggris, dan
Spanyol. Ini terlihat dari daftar
bahan-bahan keperluan farmasi,
seperti tumbuhan, mineral,
senyawa obat-obatan untuk
penggunaan internal dan
eksternal, minyak, serta pil.
Sebagian besar bahan-bahan
yang telah lama digunakan di
dunia Islam itu masih digunakan
di negara-negara tersebut
hingga akhir abad ke-19. ed:
ferry
Jejak Ilmu Kedokteran Islam
di Barat
Melalui penerjemahan, karya
Muslim di bidang kedokteran
pun meninggalkan jejaknya di
dunia Barat. Diketahui pula,
seorang ahli kedokteran
kelahiran Tunisia, Constantine,
memperkenalkan obat-obatan
modern ke Eropa melalui wilayah
selatan Italia.
Keahlian Constantine ini
kemudian diketahui bersumber
dari ahli pengobatan Muslim
bernama Qaryawan. Tak hanya
itu, Constantine juga pernah
menerjemahkan karya ahli
kedokteran Muslim, Ali Abbas Al-
Majusti, yang berjudul Kitab al-
Maliki .
Selain itu, karya-karya lainnya
juga telah menyebar luas di
Eropa, terutama terjemahan
karya-karya Ibnu Sina, Al-Razi,
Ibn Zuhr, dan Ibnu Rusyd.
Bahkan, mereka dikenal pula di
Barat sebagai pelopor dalam
bidang kesehatan mental.
Al-Razi pernah mendirikan
bangsal khusus bagi penderita
penyakit mental di Baghdad,
Irak. Sebelumnya, di Barat, jenis
penyakit ini diyakini disebabkan
oleh setan dan kemudian dikenal
luas dengan demonological
theories . Namun, Al-Razi
mematahkan teori itu.
Terjemahan Kitab al-Tasrif karya
Al-Zahrawi juga memberikan
kontribusi penting, terutama
dalam bidang pembedahan.
Dalam karyanya itu, ia
mengungkapkan teori dan
praktik dalam pembedahan. Ia
pun merancang sendiri alat-alat
bedahnya.
Kitab al-Tasrif ini diterjemahkan
ke dalam bahasa Latin oleh
Gerard dari Cremona dan
diterbitkan di Venesia pada
1497, di Basel pada tahun 1541,
dan di Oxford tahun 1778.
Selama berabad-abad, alat-alat
bedah yang diciptakan Al-
Zahrawi tetap digunakan. meta,
ed:ferry
Oleh: Dyah Ratna Meta Novi
Republika

Comments
4 Responses to "Penerjemahan Karya Cendikiawan Muslim"
Subscribe to Comment Feed (RSS / ATOM)
Melba Michel [02:08 PM, 28-May-10]
Hah I am literally the only reply to your great article?!
Warren Frye [06:42 PM, 30-May-10]
Heh I'm honestly the first reply to your awesome post?
Rebekah Haines [02:49 AM, 31-May-10]
If only I had a quarter for each time I came here! Incredible article!
you tube videos [02:43 AM, 13-Jul-10]
If only I had a greenback for every time I came here... Incredible article!
<a href="http://youtubeabbreviation.blogspot.com" title="You Tube">You Tube Videos</a>
New Comment