"Natal Bersama dan Misi Kristen" [09:18 PM, 03-Jan-10]
Para misionaris, seperti van Lith,
berkeinginan memisahkan orang
Jawa dengan Islam. Baca Catatan
Akhir Pekan [CAP] Adian Husaini
ke-275
Oleh: Dr. Adian Husaini
Pada 27 Desember 2009, saya
sempat menonton acara
Perayaan Natal Bersama melalui
TVRI. Acara itu seperti sudah
dianggap sebagai ritual tahunan
kenegaraan. Biasanya pejabat
tinggi banyak yang diundang.
Malam itu, Presiden SBY juga
datang. Ada juga Wapres
Boediono, dan sejumlah pejabat
tinggi negara lainnya. Menyimak
rangkaian acaranya, Perayaan
Natal Bersama itu jelas sebagai
suatu bentuk Proklamasi agama
Kristen dan realisasi konsep Misi
Kristen di Indonesia.
Pesan utama yang ingin
disampaikan melalui acara
tersebut sangat jelas bahwa
Jesus, Putra Tuhan, sang Juru
Selamat sudah tiba untuk
menebus dosa manusia.
Berbagai lagu dan sendratari
yang ditampilkan membawa
pesan tersebut. Disamping lagu
dan tari, ada pesan Natal dan
juga Doa Syafaat dibawakan
oleh pejabat KWI (Katolik) dan
PGI (Protestan).
Menarik jika kita amati wajah
Pak SBY dan pejabat muslim
lainnya yang hadir acara itu. Kita
juga mencoba menebak-nebak,
apa kira-kira perasaan Pak SBY
dan orang Muslim di situ, ketika
mendengar lagu-lagu dan seruan
tentang kedatangan Jesus
sebagai anak Allah dan Juru
Selamat. Kita berprasangka baik,
dan menduga-duga, hati Pak SBY
yang Muslim itu pasti berkata:
" Ini tidakbenar! Sebab, saya
Muslim. Saya yakin benar, bahwa
Nabi Isa tidak mati di tiang salib.
Saya yakin, Nabi Isa adalah
utusan Allah, rasul Allah; bukan
Tuhan atau anak Tuhan. "
Pak SBY yang punya sebuah
Majlis Zikir tentu sudah pernah
mendengar ayat Al-Quran: "Dan
ingatlah ketika Isa Ibn Maryam
berkata, wahai Bani Israil
sesungguhnya aku adalah
utusan Allah kepada kalian, yang
membenarkan apa yang ada
padaku, yaitu Taurat, dan
menyampaikan kabar gembira
akan datangnya seorang Rasul
yang bernama Ahmad
(Muhammad). " (Terjemah QS as-
Shaff: 6).
Ada juga ayat Al-Quran yang
menyatakan: "Dan mereka
mengatakan, (Allah) Yang Maha
Pemurah itu punya anak.
Sungguh (kalian yang
menyatakan bahwa Allah punya
anak), telah melakukan tindakan
yang sangat mungkar. Hampir-
hampir langit pecah gara-gara
ucapan itu dan bumi terbelah
dan gunung-gunung runtuh,
karena mereka menuduh Allah
Yang Maha Pemurah punya
anak. " (Terjemah QS Maryam:
88-91).
Sebagai Muslim, Pak SBY tentu
paham benar ayat-ayat Al-Quran
tersebut. Dalam Perayaan Natal
Bersama itu, orang-orang Muslim
" dipaksa" mendengar cerita-
cerita tentang Jesus yang
bertentangan dengan keimanan
mereka. Kata beberapa orang,
praktik-praktik pencampuran
Perayaan Hari Raya Agama
seperti itu perlu dilakukan demi
tujuan mulia, yaitu untuk
membina Kerukunan Umat
Beragama. Malah, ada yang
berpendapat, agar MUI
mencabut fatwa tentang Haram-
nya seorang Muslim merayakan
Natal Bersama. Sebagai Muslim,
dan juga sebagai Presiden, Pak
SBY ketika itu "harus" duduk
mendengarkan semua cerita
tentang Jesus, yang sudah pasti
tidak diyakininya. Pada kondisi
seperti itulah, Pak SBY juga
terpaksa tidak menyatakan
secara terbuka, bahwa dia
mempunyai kepercayaan dan
keimanan yang berbeda dengan
kaum Nasrani.
Sebenarnya, jika kita berpikir
jernih, praktik-praktik semacam
ini seharusnya dihentikan.
Membangun kerukunan umat
beragama tidak perlu dilakukan
dengan cara-cara yang dapat
menyuburkan kemunafikan
seperti itu. Rasulullah saw, para
sahabat, dan para ulama Islam -
yang sejati - tidak pernah
mengajarkan tindakan seperti
itu. Untuk membangun
kerukunan umat beragama,
banyak cara lain yang bisa
dilakukan. Sebenarnya, jika kaum
Nasrani merayakan hari raya
mereka, di kalangan mereka
sendiri, itu juga tidak ada
masalah dan tidak perlu
mengundang kontroversi.
Berita tentang ke-Tuhanan Jesus
tentu tidak mudah ditelan
begitu saja oleh kaum Muslim.
Sebab, Islam memiliki kitab suci
Al-Quran yang dengan sangat
gamblang menjelaskan
kesalahan kepercayaan kaum
Kristen tersebut. Al-Quran
menyatakan, bahwa berita
tentang penyaliban Jesus (Nabi
Isa) adalah bohong belaka.
Penyaliban Jesus, dalam
pandangan Islam, tidak memiliki
dasar yang kuat. "Dan untuk
memperingatkan kepada orang-
orang yang berkata: "Allah
mengambil seorang anak.
Mereka sekali-kali tidak
mempunyai pengetahuan
tentang hal itu. Begitu pula
nenek moyang mereka.
Alangkah jeleknya kata-kata
yang keluar dari mulut mereka;
mereka tidak mengatakan
(sesuatu) kecuali
dusta. " (Terjemah QS al-Kahfi:
4-5).
Ayat-ayat dalam kitab suci yang
secara tegas membantah klaim-
klaim kaum Kristen tentang
ketuhanan Jesus seperti ini
hanya dijumpai dalam Al-Quran.
Ayat semacam itu tidak kita
dijumpai pada Kitab Veda
(Hindu), Tripitaka (Budha), atau
Su Si (Konghucu). Karena itu,
wajar, selama seorang mengaku
dan meyakini keimanan Islam-
nya, hatinya akan dengan tegas
menolak semua pernyataan
yang tidak benar tentang Nabi
Isa. Kaum Ahlul Kitab yang
hatinya ikhlas dalam menerima
kebenaran pasti akan mengakui
kenabian Muhammad saw dan
kebenaran Al-Quran (QS 3:199).
Keyakinan kaum Muslim tentang
Nabi Isa seperti itu seharusnya
dihormati oleh kaum Kristen.
Sehingga, tidaklah etis jika
"memaksa" seorang Muslim
yang berpegang kepada iman
Islam-nya untuk duduk
mendengar cerita tentang Yesus
dalam versi Kristen yang sama
sekali berbeda versinya dengan
cerita tentang Nabi Isa dalam
versi Islam. Inilah sebenarnya
hakekat saling hormat-
menghormati antar pemeluk
agama. Mereka bisa bekerjasama
satu sama lain, dalam berbagai
hal. Tetapi, bukan membiasakan
diri bersikap "pura-pura" dalam
soal keimanan. Sikap saling
menghormati bisa ditumbuhkan
dengan tetap berpegang kepada
keimanan masing-masing.
Islam juga menghormati sikap
pemimpin Katolik Paus Yohanes
Paulus II, ketika menyatakan,
bahwa Islam, bahwa Islam
bukanlah agama penyelamatan:
" Islam is not a religion of
redemption." Paus juga
menyatakan, dalam Islam tidak
ada ruang bagi Salib dan
Kebangkitah Yesus. Yesus
memang disebutkan, tetapi, kata
Paus, dia hanya sekedar seorang
Nabi, yang menyiapkan
kedatangan Nabi terakhir, yaitu
Muhammad. Karena itulah, Paus
berkesimpulan: "For this reason,
not only the theology but also
the anthropology of Islam is
very distant from Christianity."
Jadi,menurut Paus, secara
teologis dan antropologis, ada
perbedaan yang mendasar
antara Islam dan Kristen. (Lihat,
John Cornwell, The Pope in
Winter: The Dark Face of John
Paul II's Papacy, (London:
Penguin Books Ltd., 2005).
Ada lagi yang sering tidak
dipahami oleh pemeluk agama
selain Islam atau bahkan
kalangan Muslim sendiri. Yaitu,
bahwasanya Islam adalah agama
wahyu yang memiliki uswah
hasanah (contoh teladan).
Sebagai agama wahyu (agama
langit), Islam mendasarkan
keyakinan dan semua praktik
ritualnya berdasarkan wahyu
dan contoh dari Nabi
Muhammad saw. Karena itu,
hanya orang Muslim yang kini
memiliki bentuk ibadah yang
satu. Orang Muslim membaca al-
Fatihah yang sama dalam shalat;
ruku' dengan cara yang sana;
sujud dengan cara yang sama,
dan salam dengan cara yang
sama pula. Semua itu ada contoh
dari Nabi Muhammad saw.
Bahkan, kaum Muslim berdebat
tentang hal-hal yang "kecil"
dalam ibadah shalat, seperti
apakah dalam tahiyat, jari
telunjuk digerakkan atau tidak.
Sebab, memang ada riwayat
yang berbeda dari Rasulullah
saw tentang hal itu. Yang jelas,
semua Muslim ingin mencontoh
Sang Nabi sampai hal-hal yang
" kecil" seperti itu diperdebatkan.
Tapi, semua orang Muslim, saat
melaksanakan tahiyat dalam
shalat, pasti mengeluarkan jari
telunjuk, bukan jari jempol atau
jari kelingking.
Karena kuatnya berpegang pada
keteladanan Nabi Muhammad
saw dalam ibadah itulah, maka -
misalnya -- orang Islam tidak
mudah untuk diajak mengganti
salam Islam dengan salam
lainnya. Karena salam resmi
orang Islam, sesuai ajaran Nabi
saw adalah: Assalaamu 'alaikum
warahmatullaahi
wabarakaatuh. " Ucapan salam
seperti ini berdasarkan contoh
dari Nabi Muhammad, bukan
berasal dari budaya atau hasil
Kongres umat Islam pada saat
tertentu. Di mana pun, kapan
pun, umat Islam akan
mengucapkan salam seperti itu.
Apa pun suku dan bangsanya.
Upaya untuk "pribumisasi"
salam Islam dan menggantinya
dengan "Selamat pagi" dan
sejenisnya, telah gagal dilakukan.
Dulu, semasa menjabat sebagai
Menteri P&K (1978-1982), Dr.
Daoed Joesoef menolak
mengucapkan salam Islam,
dengan alasan, ia bukan hanya
menterinya orang Islam.
Sekarang, cara berpikir Daoed
Joesoef itu sudah out of date,
sudah ketinggalan zaman. Kini,
Presiden SBY pun sangat fasih
dalam mengucapkan salam.
Bahkan, biasanya ia mendahului
dengan ucapan basmalah.
Sekarang sudah banyak tokoh
non-Muslim yang dengan lancar
mengucapkan salam Islam. Saya
pernah bertanya kepada
seorang tokoh non-Muslim,
apakah dia boleh mengucapkan
salam Islam, seperti yang baru
saja dia ucapkan. Dia menjawab:
Boleh!
Kondisi seperti itu berbeda
dengan umat Islam. Untuk
urusan salam saja, Rasulullah
saw memberikan contoh dan
panduan yang sangat rinci.
Bagaimana seharusnya seorang
Muslim memberikan salam
kepada sesama Muslim,
bagaimana menjawab salam dari
non-Muslim, dan sebagainya.
Umat Islam secara ikhlas
berusaha mengikuti apa yang
diajarkan oleh Rasulullah saw
tersebut. Sifat dan posisi ajaran
Islam seperti ini seyogyanya
dipahami. Termasuk dalam soal
perayaan Hari Besar Agama.
Panduan dalam soal ini juga
sangat jelas. Karena itu, jika
umat Islam menolak untuk
mengikuti Perayaan Hari Besar
agama lain, itu pun harusnya
dipahami dan tidak dicap
sebagai bentuk rasa
permusuhan dengan agama lain.
Pemahaman akan sifat dan
karakter masing-masing agama
itu perlu dipahami oleh masing-
masing tokoh agama, agar tidak
memaksakan pemahamannya
kepada orang lain.
Budaya dan Misi
Aspek lain yang menonjol dalam
Peraayaan Natal Bersama 27
Desember 2009 adalah upaya
kaum Kristen untuk
menampilkan citra adanya
penyatuan Kristen dengan
budaya Indonesia. Para penari
mengenakan pakaian adat dari
berbagai daerah. Citra
penyatuan Kristen dengan adat
istiadat di Indonesia sudah lama
diusahakan oleh para misionaris
di Indonesia. Strategi budaya
dijalankan agar misi Kristen lebih
mudah diterima oleh rakyat
Indonesia, dan agar citra Kristen
sebagai agama penjajah dapat
hilang di mata rakyat.
Penyebaran agama Kristen
dengan strategi budaya Jawa
pada dekade pertama abad XX,
misalnya, terutama ditempuh
oleh kalangan Yesuit dan juga
misi Katolik pada umumnya. Misi
Kristen ingin menggusur atau
memisahkan citra penyatuan
Islam dengan Jawa. Tokoh
misionaris Katolik, misalnya,
telah lama berusaha menggusur
dominasi bahasa Melayu dan
menggantinya dengan bahasa
Jawa. Di sekolah Katolik di
Muntilan, misalnya, penggunaan
bahasa Melayu dihindari sejauh
mungkin. Sebab, bahasa Melayu
identik dengan bahasa kaum
Muslim. Penggunaan bahasa
Melayu dikhawatirkan akan
menyiratkan dukungan
terhadap agama Islam.
J.D. Wolterbeek dalam bukunya,
Babad Zending di Pulau Jawa,
mengatakan: "Bahasa Melayu
yang erat hubungannya dengan
Islam merupakan suatu bahaya
besar untuk orang Kristen Jawa
yang mencintai Tuhannya dan
juga bangsanya. "
Senada dengan ini, tokoh Yesuit
Frans van Lith (m. 1926)
menyatakan: "Dua bahasa di
sekolah-sekolah dasar (yaitu
bahasa Jawa dan Belanda)
adalah batasannya. Bahasa
ketiga hanya mungkin bila
kedua bahasa yang lain
dianggap tidak memadai. Melayu
tidak pernah bisa menjadi
bahasa dasar untuk budaya
Jawa di sekolah-sekolah, tetapi
hanya berfungsi sebagai parasit.
Bahasa Jawa harus menjadi
bahasa pertama di Tanah Jawa
dan dengan sendirinya ia akan
menjadi bahasa pertama di
Nusantara. (Seperti dikutip oleh
Karel A. Steenbrink, dalam
bukunya, Orang-Orang Katolik di
Indonesia).
Kiprah Pater van Lith dalam
gerakan misi di Jawa
digambarkan oleh Fl. Hasto
Rosariyanto, SJ dalam bukunya,
Van Lith, Pembuka Pendidikan
Guru di Jawa, Sejarah 150 th
Serikat Jesus di Indonesia
(2009). Dalam buku ini
diceritakan, bahwa dalam suatu
Kongres bahasa Jawa, secara
provokatif van Lith
memperingatkan orang-orang
Jawa untuk berbangga akan
budaya mereka dan karena itu
mereka harus menghapus
bahasa Melayu dari sekolah. Van
Lith lebih suka mempromosikan
bahasa Belanda, karena
dianggapnya sebagai bahasa
kemajuan.
Upaya untuk menggusur bahasa
Melayu dari kehidupan
berbangsa di Indonesia,
sebagaimana dipromosikan van
Lith tidak berhasil dilakukan.
Pada 28 Oktober 1928, para
pemuda dari berbagai suku
bangsa justru mendeklarasikan:
" Kami berbahasa satu, bahasa
Indonesia." Demi persatuan
bangsa, para pemuda dari Jawa
juga merelakan bahasa Jawa
tidak dijadikan sebagai bahasa
nasional Indonesia.
Van Lith, yang datang ke
Indonesia pada 1896, menulis
dalam sebuah suratnya:
"Jika para misionaris ingin
membawa orang non-
Kristen kepada Kristus,
mereka harus menemukan
titik-awal bagi penginjilan.
Di dalam agama merekalah
terletak hati dari orang-
orang ini. Kalau para
misionaris mengabaikan ini,
mereka juga akan
kehilangan titik temu untuk
menawarkan kabar gembira
dalam hati mereka. Di Pulau
Jawa, khususnya, di mana
penduduk yang paling maju
dari seluruh kepulauan ini
tinggal, mempelajari
Hinduisme, Budhisme, Islam,
dan budaya Jawa adalah
sebuah keharusan yang
tidak bisa ditunda. Agama-
agama ini telah
berkembang, tetapi agama
asli tidak pernah tercabut
dari hati orang-orang ini. "
Dalam salah satu artikelnya yang
ditemukan sesudah
kematiannya, van Lith juga
menyemangati teman-teman
misionaris agar menempatkan
diri sesama warga dengan orang
Jawa:
"Kalau kita, orang Belanda,
ingin tetap tinggal di Jawa
dan hidup dalam damai dan
menikmati keindahan serta
kekayaan pulau tercinta ini,
maka ada satu tuntutan,
yaitu bahwa kita harus
selalu belajar
memperlakukan orang Jawa
sebagai saudara kita. Di
tengah-tengah orang Jawa,
kita tidak bisa berlagak
seperti penguasa, atau
sebagai majikan, atau
sebagai komandan, tetapi
seharusnya sebagai sesama
warga. Kita harus belajar
menyesuaikan diri, belajar
menguasai bahasa orang-
orang ini dan adat
kebiasaan mereka; hanya
dengan berlaku demikian
kita bisa menjalin
persahabatan dengan
mereka ini. "
Demi pendekatan budaya, van
Lith sampai bisa menerima
orang Katolik Jawa melakukan
sunat. Padahal, dalam suratnya,
Paulus menyatakan:
" Sesungguhnya, aku, Paulus,
berkata kepadamu: jikalau kamu
menyunatkan dirimu, Kristus
sama sekali tidak akan berguna
bagimu ". (Gal. 5,2). Van Lith
menerima sunat bagi orang
Katolik Jawa, tetapi menolak
tambahan doa Arab (Islam). Ia
juga menentang sunat sebagai
bentuk pertobatan menjadi
Muslim.
Para misionaris, seperti van Lith,
berkeinginan memisahkan orang
Jawa dengan Islam. Sebab, orang
Jawa memang sangat kokoh
memegang identitasnya sebagai
Muslim, meskipun mereka belum
mengamalkan ajaran Islam
sepenuhnya. Sulitnya orang
Jawa ditembus misi Kristen
digambarkan oleh tokoh misi
Katolik, Pater van den Elzen,
dalam sebuah suratnya
bertanggal 19 Desember 1863:
"Orang Jawa menganggap
diri mereka sebagai Muslim
meskipun mereka tidak
mempraktekkannya. Mereka
tidak bertindak sebagai
Muslim seperti dituntut oleh
ajaran "Buku Suci" mereka.
Saya tidak dapat
mempercayai bahwa tidak
ada satu pun orang Jawa
menjadi Katolik semenjak
didirikannya missi pada
tahun 1808. Dulunya Jawa
ini sedikit lebih maju
daripada sekarang ini. Sejak
tahun 1382, ketika Islam
masuk, Jawa terus
mengalami kemunduran.
Saya dapat mengerti
sekarang, mengapa Santo
Fransiskus Xaverius tidak
pernah menginjakkan
kakinya di Jawa. Tentulah ia
mendapat informasi yang
amat akurat tentang
penduduk di wilayah ini,
termasuk Jawa. Dan
Portugis yang telah berhasil
menduduki beberapa
tempat disini menganjurkan
agar ia pergi ke Maluku,
Jepang, dan Cina, karena
tahu tak ada apa-apa yang
bisa dibuat di Jawa. Akan
tetapi, dalam pandanganku
di pedalaman toh ada
sesuatu yang dapat
dilakukan."
Demikianlah semangat misi
Kristen untuk mengubah agama
orang Jawa, dari Islam menjadi
Kristen. Berbagai cara telah dan
terus digunakan untuk
menjalankan misi tersebut. Kaum
Muslim memahami semangat
kaum Kristen tersebut. Tapi,
tentunya, tidak mudah bagi
kaum Muslim untuk menerima
begitu saja usaha kaum
misionaris tersebut. Sebab, bagi
orang Muslim, keimanan adalah
harta yang paling berharga
dalam kehidupan mereka.
[Depok, 14 Muharram 1431 H/1
Januari 2010/
www.hidayatullah.com]
Catatan Akhir Pekan
[CAP] adalah hasil
kerjasama antara
Radio Dakta 107 FM
dan

Comments
2 Responses to ""Natal Bersama dan Misi Kristen""
Subscribe to Comment Feed (RSS / ATOM)
HPblogger [11:06 PM, 03-Jan-10]
Semua orang punya hati dan pikiran, juga punya hak untuk memilih. Allah sendiri memberi kesempatan kepada mereka yang tidak mengikuti aqidahNya. Jadi entah itu mengikuti perayaan natal dsb. mereka sudah tahu konsekwensinya dan itu adalah pilihan mereka. Santai gan
Lucky Arif [10:41 AM, 04-Jan-10]
Ya kalau tidak di jadikan
contoh saya setuju atau
katakanlah sembunyi2
menghadiri natalan tsb
silahkan saja, tapi ini ditonton
oleh jutaan masyarakat islam !
Bagaimana nanti jika
jutaan orang yang menonton yang
kurang ilmu agamanya lalu
mencontoh ?
Hehe..Satu orang dapat
membuat sesat jutaan orang.
Tetapi kalau menurut saya sich, sesuatu yang kurang baik itu
harus diluruskan dan bukan
dibiarkan sesat.
New Comment