MyWapBlog.com - Desktop Version
  • 1
  • 2
  • 3
  • 4
  • 5
(7 ratings)
Report Abuse

Latest Posts

  1. Home
    This is a private post. Please visit the blog and sign-in to read.
  2. Pottery in Zimbabwe
    The use of clay as media in making pots is a craft started long back...
  3. Jeme kite nilah mang
    Kamu mau cari aplikasi buat hp kmu, atau cari info penting lainnya...! Klik aja site dibawah...
  4. Rumah Sakit Tidak Layak Pakai
    Artikel ini gue posting karena melihat fakta tentang keberadaan,lingkungan,pelayanan rumah sakit tersebut. Gue dengan sengaja...
  5. Prazty
    This is a private post. Please visit the blog and sign-in to read.

Zionisme dan Sepakbola: DariPaganisme ke Lapangan Hijau [07:16 AM, 29-Jan-10]

Jika anda saya tanya perihal
dimanakah negara yang akan
menjadi tuan rumah Piala Dunia
2010 nanti? Pasti anda akan
cepat menjawab, Afrika Selatan.
Lalu jika anda saya tanya
siapakah kapten AS Roma saat
ini? Tentu anda lugas menyebut
Il Attacante, Fransesco Totti.
Sambil sesekali anda bubuhi
kata-kata khas romanisti kepada
saya "Jagoan gua tuh, enak aja
lu."
Oleh Pizaro, Konselor Muslim
Peserta Diskusi Sabtuan Islamic
Studies INSIST dan Humas Kajian
Zionisme Internasional (KaZI)
Akan tetapi jika kemudian
pertanyaannya saya ubah,
seperti negara atau wilayah
manakah nantinya menjadi awal
mula hembusan angin akhir
zaman akan menyemilir umat
muslim seperti tertuang pada
agama kita?
Mungkin anda akan tersenyum,
atau beberapa dari anda akan
menerawang ke awan dan
ketika mata anda sudah kembali
ke asal, jawaban juga belum
anda dapat. Lantas jika anda
saya tanya siapakah sahabat
Nabi Muhammad SAW yang
pernah bermimpi tentang
kematian dirinya saat
digambarkan mengeluarkan
burung dari mulutnya? Mungkin
saya juga akan dapat
kerenyutan dahi dari anda
semua, tak lebih.
Ya begitulah sepakbola telah
menjadi mazhab kesekian dalam
dinamika keimanan umat
muslim. Yang beberapa
Imamnya bernama Christian
Ronaldo, Wayne Rooney, Didier
Drogba, dan bahkan Benny Dolo.
Mereka memiliki penganut setia
bernama Jama 'ah Interisti,
Milanisti, Juventini, Liverpudian,
Madridistas, atau Jama 'ah atas
nama Pendukung Indonesia Siap
Mati Demi Merah Putih.
Thesa yang menyerempet
konyol ini memang terasa tidak
berlebihan. Bayangkan seorang
wartawan Indonesia sampai
polos berkata, bahwa "Bola
sebagai media egaliter dan
media persatu," kilah Hery
Prasetyo, Jurnalis Tabloid Bola
Soccer. Lebih jauh, Hery
menuturkan bahwasanya "Sepak
bola lebih sukses daripada
serangkaian Konfrensi-konfrensi
yang dilakukan untuk
menyatukan seluluh umat di
dunia. " Dahsyat. "Di sini tidak
ada lagi sekat etnis, suku agama
maupun warna kulit," lanjutnya.
Berhenti di selebrasi muslimkah?
Tentu tidak. Sebab seorang
pendeta di sebuah kuil Budha di
Thailand berkomentar lebih
radikal lagi bahwa "Sepak bola
telah menjadi agama dan
memiliki pengikut jutaan
banyak." Uniknya lagi, di Kuil itu,
tahun 2000 silam, teronggok
sebuah patung David Beckam,
Kapten kesebelasan inggris yang
kesohor itu.
Lain Asia, lain cerita. Pada rimba
yang berbeda, dalam rangka
festival dan konser bertajuk
"Kick-off 2006 Kick-off faith",
Gereja Berlin, Gereja
Brandenbourg dan Gereja Berlin-
Wilmersdorf menggelar sepak
bola antara Imam Mesjid
melawan para Pendeta dan yang
menjadi hakim garisnya dari
orang Yahudi.
Tak bisa dilupakan juga, ketika
belasan ribu warga Jakarta dan
sekitarnya yang antre berjam-
jam memanfaatkan kesempatan
foto bersama trofi Piala Dunia
saat dipamerkan di Jakarta
Convention Centre (JCC), Selasa,
26 Januari 2010. Acara tersebut
merupakan rangkaian
Federation Internationale de
Football Association (FIFA) World
Cup Trophy Tour yang
disponsori Coca-Cola.
Warga sampai tulus ikhlas antre
berfoto bareng trofi piala dunia
yang didominasi anak muda itu,
khususnya pelajar SMA yang
mendapat undangan khusus dari
Coca-Cola. Hanya dalam hitungan
detik, hasil foto bersama trofi
Piala Dunia itu bisa langsung
diambil.
Tugu meyerupai
Dari Jakarta, sekarang kita
terbang ke Madiun. Demi
sepakbola, dalam satu hari saja
ada dua anak bangsa meregang
nyawa. Adalah Ahmad Fatoni
(21), warga Gresik yang terjatuh
ketika kereta masih berada di
Kertosono; serta Ari Sulistyo
(17), warga Dukuh Menanggal
Surabaya yang terjatuh di
Banyumas. Menurut kesaksian
teman-temannya, mereka duduk
di atas kereta sehingga tidak
sadar menabrak kabel-kabel lalu
terjatuh terpelanting ke bawah
dan terlindas kereta. Dan itu
terjadi sebelum pertandingan
Persib Bandung dan Persebaya
Surabaya, minggu 24 Januari
2010.
Sebenarnya dinamika fanatisme
sepakbola di Indonesia sudah
berada pada level yang
mengkhawatirkan. Semula
penulis melihat Kajian tentang
Sepakbola menjadi titik pijak
pada garapan psikologi sosial
ataupun sosiologi. Namun
setelah melakukan penelaahan
mendalam, problem sepakbola
Indonesia memiliki sisi kelam
yang pada ujungnya bisa
dikaitkan pada hegemoni
Zionisme yang bisa mencederai
akidah. Terlebih, Sepakbola dan
Zionisme masih minim untuk
diungkap. Alhasil penulis coba
menelusuri pada wilayah rel
tersebut.
Kasus almarhum Fathoni dan Ari
adalah puncak gunung es atas
ideologi sepakbola yang begitu
menipu pada level
penerapannya. Hal ini setidaknya
pernah penulis rasakan sendiri.
Saat menjadi pelajar aliyah,
penulis termasuk salah satu
supporter klub terbesar di
Jakarta, lengkap dengan kartu
anggota-nya. Kala itu, saat di
stadion, telinga dan jiwa kami
begitu massif di "doktrin" tak
ubahnya seperti seorang
mujahid hendak menuju medan
jihad.
Kaos yang bertulis rasis,
dikenakan seorang Bonek di
pojok kanan
Untuk membela klub tercinta,
kami dimotivasi yel-yel tentang
harga murah sebuah nyawa
demi gengsi sebuah klub
tercinta. Dan gila-nya lagi
banyak suporter yang rata-rata
remaja itu mengamini dengan
sepenuh hayat. Kasus gap
antara Viking dan The Jak,
Aremania dan Bonekmania,
sampai saat ini bisa menjadi
representasinya. Kita sesama
anak bangsa dan umat muslim
seperti diadu sedemikian rupa
oleh mereka. Hal ini kemudian
berekses pada kata-kata rasis
sepanjang pertandingan yang
semarak dilontarkan. Tidak
hanya berbuah pada selebrasi
kata "sikat", "hajar", namun
muara itu sampai juga pada
aksara "bunuh!" atau "Dibunuh
saja!". Itu belum termasuk kata-
kata binatang yang rasanya
penulis tidak sampai hati
mebeberkannya disini.
Jika anda tidak percaya, silahkan
anda datang ke stadion atau
coba anda simak betul-betul kala
setiap tim bermain di layar kaca.
Ini bukan perkara sepele. Karena
Menurut Sayyid Quthb, kita mati
karena membela negara yang
tidak ada urusan dengan iman
saja dapat dikatakan mati bukan
di Jalan Allah, terlebih ini
berperang demi gengsi urusan
remeh temeh dunia, semisal
sepakbola. Dengan yakin penulis
bisa menyimpulkan ini bagian
dari mati konyol.
"Tidaklah termasuk golongan
kami barangsiapa yang menyeru
kepada ashabiyyah (fanatisme
kelompok). Dan tidaklah
termasuk golongan kami
barangsiapa yang berperang
atas dasar ashabiyyah
(fanatisme kelompok). Dan
tidaklah termasuk golongan
kami barangsiapa yang
terbunuh atas nama ashobiyyah
(fanatisme kelompok). " (HR. Abu
Dawud)
Selanjutnya Rasulullah pernah
menyebut kematian orang-
orang yang terbunuh di bawah
bendera ashabiyah sebagai mati
jahiliyah. Syaikh Safiyurrahman
al Mubarakfuri dalam kitab Al
Ahzab As Siyasiyyah fil Islam
mengutip sebuah hadits yang
diriwayatkan dari Abu Hurairah
ra, bahwa Rasulullah Saw telah
bersabda:
"Barangsiapa berjuang di bawah
bendera kefanatikan,
bermusuhan karena kesukuan
dan menyeru kepada kesukuan,
serta tolong menolong atas
dasar kesukuan maka bila dia
terbunuh dan mati, matinya
seperti jahiliyah". (HR. Muslim)
Namun suatu yang jenaka bisa
kita tarik sebagai bahan
evaluasi. Bayangkan kita saja
yang ngaji belum tentu siap mati
demi agama, tapi mereka yang
" ngaji"-nya di lapangan malah
rela menggadai nyawa, walau
hanya demi urusan rumput
hijau. Tampak sepele dan
menggelikan memang, tapi itu
nyata di sekeliling kita.
Kisah Aremania dan gerakan
sepuluh ribunya menjadi catatan
menarik kesekian yang patut
untuk dibahas. Bayangkan
mereka yang rata-rata muslim
itu berhasil mengumpulkan uang
Rp 61 juta di tengah saudara
semuslimnya di Palestina,
Afganistan, Sudan, dan lain-lain
berperang serta kelaparan.
Bahkan dengan mengamen yang
dimulai pukul 13.30 WIB dalam
waktu tidak lebih dua setengah
jam terkumpul uang Rp
1.828.900. Para Aremania dari
Malang dan Kota Batu ini
mengambil tempat di patung
Apel alun-alun dan dikoordinasi
langsung oleh Yuli Sumpil.
Bergeser ke bagian Barat. Di
Bandung, ada gambaran
militansi utuh digelar oleh
bobotoh Persib. Untuk
membantu tim kesayangannya
berlaga di kompetisi Superliga
Indonesia 2009/10 dan
mempertahankan pemain senior
supaya tidak hengkang dari
Bandung, pertengahan agustus
2009 lalu, kelompok suporter
Viking Persib Club bakal
memberikan bantuan dana hasil
patungan anggotanya. Dan
ditengah geliat kemiskinan,
bukan main-main Viking hanya
membatasi sumbangan minimal
Rp15 ribu per orang.
Itu baru pada level suporter,
sekarang kita beranjak pada
elemen kepemerintahan.
Gubernur provinsi DKI Jakarta
beberapa tahun yang lalu, demi
kelangsungan nyawa Persija rela
menggelontorkan uang Rp 23
Miliar. Tak sedikit uang itu
disedot buat bayar pemain asing
yang tidak jelas apa
sumbangsihnya bagi negara,
apalagi sumbangannya buat
umat Islam. Itu semua tanpa
dosa dilakukan pemerintah DKI
ditengah para Pedagang Kaki
Lima yang kios-kiosnya
dirubuhkan. Di tengah para
pedagang asongan yang
dilarang mengeluarkan insting
bisnisnya di perempatan lampu
merah. Di tengah para pedagang
kecil-kecilan yang gerobak
kayunya dibakar hanya karena
mengganggu jalan, dan di
tengah rakyat kelaparan yang
tak berapa lama statusnya cepat
berganti menjadi almarhum.
Bisa disimpulkan inilah suntikan
ideologi materialisme buta yang
mendera akidah kita. Pemerintah
DKI rela lebih memilih uang
untuk membayar pemain asing
ketimbang memberi makan PKL
yang rata-rata mereka kelaparan
dan warga asli DKI Jakarta
sendiri. Jika ditanya, tak lama
mereka berdalih: atas instruksi
Undang-undang dan sudah
sesuai prosedur hukum. Jadilah
penulis seperti ingin
mengatakan, "Selamat datang di
negeri Materialisme, Welcome to
Kabbalah 's Value". Padahal Allah
jelas berfirman, "Hai orang-
orang yang beriman, janganlah
kamu mengkhianati Allah dan
Rasul (Muhammad) dan (juga)
janganlah kamu mengkhianati
amanat-amanat yang
dipercayakan kepadamu, sedang
kamu mengetahui" (QS Al-Anfaal
27).
Dan amanah itu akan
dipertanggungjawabkan di
hadapan Allah,
Imam yang diangkat untuk
memimpin manusia itu adalah
laksana penggembala, dan dia
akan dimintai
pertanggungjawaban akan
rakyatnya (yang
digembalakannya). [HR. Imam al-
Bukhari dari sahabat Abdullah
bin Umar r.a.]
Kisah diatas hanyalah segelintir
catatan bagaimana Ideologi
Materialisme dan Hedonisme
Yahudi perlahan tanpa kita
sadari tersamar dalam keIslaman
kita. Gagasan yang dikonstruk
dari filosofi Pagan ala Kabbalah
Mesir Kuno ini memang tidak
muncul dalam rupa
menyeramkan. Karena Zionisme
Yahudi tahu betul apa strategi
yang langsung menembus titik
lemah musuh-musuh-nya. Tidak
usah diinvasi oleh rudal atau jet-
jet canggih yang dimoncongnya
bertulis KFR itu, tapi cukup
dengan sepakbola umat muslim
akan semakin menjauh dari cita-
cita Islam, kalau tidak mau
disebut kafir.
Gambar Setan sebagai
Representasi
Freemason yang berpusat di
Inggris memang menyebarkan
pengaruhnya, salah satunya
melalui olah raga yang paling
popular. Sepak bola sudah
menjadi ikon bisnis dunia.
Program penghapusan Agama
ala Freemasonry Yahudi ini
menjadi tidak terlelakkan kala
kita-kita juga telah menjadi
agennya. Negara kita begitu
bernafsu menjadi Tuan Rumah
Piala Dunia, yang sama sekali
tidak jelas kadar keuntungan
Iman bagi umat muslim. Sebab
semuanya itu demi Rupiah
semata. Padahal banyak PR yang
layak diselesaikan tinimbang
membayang-bayangkan
memenuhi Negara ini dengan
dagelan sepakbola seperti itu.
Masih banyak guru yang tidak
sejahtera dan kualitasnya
terpendam. Masih jamak anak
bangsa yang potensial tapi
hidup dari memungut sampah di
stasiun kota. Masih menjadi
mayoritas kala kita berdiskusi
tentang sekolah-sekolah yang
berdiri seadanya. Masih banyak
kampus-kampus Islam yang
perpustakaan-nya minim buku
bermutu. Menyedihkan.
Gambar Setan sebagai
Representasi "Satanic Symbols".
Pagan dan Sihir adalah jelmaan
ideologi Freemasonry dari hasil
kepercayaan Mesir Kuno
Jadi dengan skenario itu, tak
bisa dipungkiri bahwa sepakbola
adalah media pencetak uang
andalan bagi Freemason. Sebagai
contoh, Manchester United
pernah dikuasai oleh Ruppert
Murdoch, raja media Yahudi.
Salah satu klub bola terkaya di
dunia. Fans setia mereka sudah
tersebar diseluruh penjuru
dunia. Termasuk dari anak-anak
kita yang tergila-gila memiliki
kaosnya.
Logo Setan Chelsea, sebuah
simbolisasi Pagan
Belum lagi Chelsea, klub
sepakbola yang bercokol di
papan atas Liga Inggris saat ini.
The Blues memiliki jutaan
penggemar seantero bumi,
Eropa, Amerika, Asia hingga
Papua. Ia dikuasai oleh Roman
Abramovich seorang Yahudi
tulen. Dan uniknya di kedua logo
klub tersebut terbentang
gambar setan, yang notabene
menjadi symbol Pagan Kabbala.
Nuansa itu semakin kental
dengan sebutan MU yang
tersohor sebagai The Red Devils,
Si Setan Merah dan gambar tiga
singa di Footbal Association (FA)
mirip dengan lambang Spihnx
(Manusia berkepala Singa) yang
acap kita temui di loge-loge
Masonik.
Bahkan ketika salah seorang
fans MU di sebuah situs
dikonfrontir tentang hegemoni
Yahudi di MU, ia malah
membalas, "Fans MU bukan
mendukung Yahudi-nya bro, tapi
klubnya !!!! ini dunia olahraga
coy bukan tempat SARA. "
Bayangkan, persoalan Yahudi
hanya dianggap persolan SARA
yang tidak kalah penting dari
sebuah fanatisme sepakbola.
Padahal justru Yahudilah
penganut Fasisme sejati. Sudah
jutaan anak-anak Palestina,
Afghanistan, Sudah, Somalia, dan
negera muslim lainnya merana.
Ini jelas dalam Kitab Talmud
Yahudi, bagaimana mereka
menjadikan Talmud sebagai
landasan teologis mereka untuk
beraksi.
"Hanya orang-orang Yahudi
yang manusia, sedangkan
orang-orang non Yahudi
bukanlah manusia, melainkan
binatang. " (Kerithuth 6b hal.78,
Jebhammoth 61a)
"Angka kelahiran orang-orang
non-Yahudi harus ditekan sekecil
mungkin. " (Zohar II, 4b) "Angka
kelahiran orang-orang non-
Yahudi harus ditekan sekecil
mungkin. " (Zohar II, 4b) "Orang
Yahudi boleh berdusta untuk
menipu orang kafir ". Baba
Kamma 113a.
Selain itu, beberapa musim lalu,
MU dengan logo setan-nya
tersebut, juga ditunjang oleh
sponsor Vodafone yang
lambangnya mengandung
Ouroboros. Jika kita mempelajari
symbol-simbol Yahudi,
Ouroboros termasuk ke dalam
' Satanic Symbols' yang memiliki
arti sebagai keabadian,
kesemestaan, yang juga
mewakili kekuatan Lucifer.
Lalu, remaja kita juga digempur
untuk selalu berfikir sepakbola.
Jika kita tanya kepada pelajar SD
dan SMP tentang gambaran
profesi kedepan. Mereka dengan
lantang menjawab, "Ingin jadi
pemain bola, dong"
Main sepak bola memang tidak
haram. Itu sah-sah saja. Tapi
yang mengkhawatirkan adalah
cita-cita itu lahir dari
menjejalnya tayangan sepakbola
dari malam ketemu pagi (subuh),
lanjut ke sore, mahgrib, sampai
ketemu malam kembali. Inilah
trik musuh-musuh Allah
mengatur jadwal pertandingan
sedemikian rupa agar tidak
berbenturan antara sesama liga-
liga elit dunia dan habisnya
waktu umat muslim untuk
menontong sepakbola adalah
keniscayaan. Coba kita telisik
acara TV kita, menjelang Isya
ada liga Inggris. Agak malam
muncul daratan liga Italia. Dan
ketika pucuk hari menggelayut
saat subuh menyingsing,
datanglah Lionel Messi dan
kawan-kawan.
Ini juga dikonstruk oleh petinggi
Indonesian Super League (ISL).
Jika kita perhatikan kenapa
negara dengan penganut Islam
terbesar di dunia ini, ketika
melaksanakan pertandingan
sepakbola saja selalu
berbenturan dengan waktu
shalat. Kini pada sore, ISL kerap
bertarung pas adzan Shalat
Ashar berkumandang pukul
15.30. Kemudian saat
pertandingan waktu malam,
bergesekan antara waktu
Maghrib dan Isya. Padahal
logikanya apa susahnya PSSI
menggelar waktu pertandingan
malam tepat pukul delapan atau
selebihnya. Atau ketika sore
dilangsungkan pukul empat
setelah shalat Ashar.
Ketika
penulis aktif menjadi supporter,
mau shalat saja susahnya bukan
main. Stadion terbesar sekelas
Senayan ternyata tidak memiliki
cucuran air yang memadai.
Bahkan tempat khusus shalat di
dalam stadion saja tidak ada.
Tapi kalau sudah pemenuhan
daya terang, pemerintah akan
mengeluarkan cucuran dana
berlimpah. Sekulerisme dalam
spakbola terjadi karena memang
FIFA tidak pernah menuangkan
item adanya tempat ibadah di
stadion sebagai suatu
keharusan. Tentu ini menjadi
tanda tanya apabila jargon
sepakbola sebagai pemersatu
digemborkan oleh FIFA.
Ouroboros, Ular mengiggit sama
dengan lambang Vodafone,
Sponsor MU
Negara Arab pun juga demikian.
Arab Saudi yang katanya ketat
dalam penerapan sunnah, malah
membiarkan pemainnya bermain
tanpa menutup aurat. Bahkan di
Mesir tahun lalu muncul fatwa
boleh tak berpuasa bagi pemain
sepakbola. Ya Mesir, negara yang
pemerintahnya hobi berkoalisi
dengan Israel itu. Seperti
kelihatan konyol memang, Islam
sebagai agama paripurna harus
tunduk dengan sepakbola, justru
di Negara yang tak akan lupa
oleh sjearah, sbeagai Negara
tempat turunnya para Nabi.
Malah sekarang ini ada gejala
baru. Menurut sebuah berita,
para pengusaha dan anggota
kerajaan di negeri Arab sekarang
ini berbondong-bondong
membeli klub sepakbola Premier
League. Tercatat ada nama
Syeikh Mansour yang memiliki
klub Manchester City. Ada pula
Pangeran Faisal yanag tengah
dalam proses membeli klub
Liverpool. Yang terakhir adalah
Ali Al Faraj yang membeli klub
Porstmouth.
Ali Faraj ini kemudian
memperkerjakan seorang Israel,
Avram Grant. Grant adalah
seorang Yahudi yang pernah
melatih klub Chelsea, namun
kemudian digantikan oleh Luis
Felipe Scolari karena dianggap
gagal memenuhi ekspektasi sang
pemilik klub, Roman Abramovic.
Di Portsmouth, Grant akan
ditunjuk sebagai Direktur
Sepakbola klub tersebut untuk
durasi dua tahun. Grant sendiri
bukanlah orang baru dalam
tubuh Portsmouth. Empat tahun
lalu, sebelum melatih Chelsea, ia
pernah menjabat sebagai
Direktur Teknik.
Itulah sekelumit bagaimana
Zionisme menyerang hal-hal
yang tampak sepele tapi kini
menjadi bahan hiburan bagi
dunia. Setiap umat muslim patut
waspada, apalagi anda-anda
yang bergelar mujahid dakwah.
Jangan sampai terlenakan oleh
perkara elementer seperti ini,
dan tidak terasa bahwa musuh-
musuh Allah sudah
menghunguskan senjata di
hidung kita.
Mungkin sekarang ini orang
Yahudi sedang tertawa
terbahak-bahak melihat umat
Islam yang matanya miring dan
tekantuk lalu pulas tidur hingga
lupa kewajiban lima waktunya.
Demi Arsenal, Demi goyangan
Samba Barcelona, hingga tarian
bola Sriwijaya. Dan mungkin
para annggota Mason sekarang
sedang tersenyum-senyum
sendiri, lalu tak lama
menonggakan kepala dan
dengan indah bernyanyi.
"Kuyakin hari ini pasti
menang....oooo....aaaaaa.....ooooo
o...aaaaaa".
Wallahu'alam bishshawab.

( Sabili )

Comments

Subscribe to Comment Feed (RSS / ATOM)

No comments yet. Why not make the first one!

New Comment

[Sign In]
Name:

Email:

Comment:
(You may use BBCode.)