Ideologi dan Kaum Intelektual (1)

Di posting oleh Muhammad Habil Ahmad pada 09:51 AM, 16-Jun-09

Menurut seorang penulis Perancis, Ideologi adlh suatu kata magis yg mampu mencetuskan pemikiran dan godaan hidup atas manusia, khususnya bagi kaum muda dan lebih khusus lagi bagi kaum Intelektual suatu masyarakat yg bagi mereka bahkan bisa mengundang pengorbanan diri. Walaupun kata Ideologi telah merasuk ke dlm bahasa kaum muda dan Intelektual Iran, sepanjang pengetahuan saya, ia sama sekali belum mempunyai definisi ilmiah yg tepat, oleh sebab itu, barangkali perlu kita upayakan suatu pembenahan secara terperinci atas kata itu.

Kata Ideologi biasa diasosiasikan dgn kaum Intelektual, keduanya saling melengkapi. Dengan alasan ini, kaum Intelektual seharusnya punya suatu ide yg gamblang tetang kata Ideologi, yg akan membimbing mereka dlm mengembangkan suatu pola pemikiran tertentu. Karena kita hidup dlm suatu kurun waktu ketika generasi kita yg tengah bangkit dan bertanggung jawab dituntut utk memilih Ideologinya sendiri - yg bisa mencetuskan arah bagi kehidupan mereka - maka kita harus mencoba menguji Ideologi sbg suatu subyek yg Independen dan Ilmiah. Suatu pembenahan menyeluruh terhadap subyek tersebut (tentu saja) berada di luar jangkauan pembahasan ini, karena itu saya hanya akan mendiskusikan dasarnya saja.

Istilah "Ideologi" - yg dibentuk oleh kata "Ideo" yg berarti pemikiran, khayalan, konsep, keyakinan dan sebagainya, dan kata "Logi" yg berarti logika, ilmu atau pengetahuan - dpt didefinisikan sbg ilmu tentang keyakinan2 dan gagasan2. Oleh sebab itu, menurut definisi tersebut, Ideologi mengandung keyakinan2 dan gagasan2 yg ditaati oleh suatu kelompok, suatu kelas sosial, suatu bangsa, atau suatu ras tertentu. Berdasarkan definisi ini, kita dpt membedakan Ideologi dari ilmu, walaupun keduanya sangat berkaitan erat.

Ilmu adalah pengetahuan manusia tentang dunia fisik dan gejala2nya. Ia merupakan citra mental manusia terhadap hal2 yg kongkret, Ilmu merupakan penemuan berbagai kaitan prinsip, kualitas, karakteristik pada manusia, alam, maupun satuan2 lainnya. Kaitan antara "orang yg tahu" dengan "sesuatu yg harus diketahuinya" itulah pengetahuan. Kaitan ini adalah seperti hubungan cermin dgn suatu obyek yg dihadapkan pada cermin itu utk dipantulkan. Cermin itu tak mempengaruhi obyek, tak pula obyek mempengaruh cermin; hubungan keduanya adlh pasif atau negatif. Hukum gravitasi yg mendasari jatuhnya suatu benda di atas bung tdk mempengaruhi seorang fisikawan. Sebagai suatu hukum yg mantap, terkenal dan telah terumuskan, hukum gravitasi sulit utk mengubah pikiran dan sikap si fisikawan. Sadar akan hal ini, si fisikawan tdk akan mencoba-coba mengganggunya, karena ia tahu bahwa campur tangannya hanya akan mengarah pada kesimpulan tak logis. Dalam hal sains, ilmuwan harus tetap objektif dan tdk memihak, atau kalau tdk, ia tdk akan menjadi ilmuwan yg berhasil dlm lapangannya. Pikiran seorang fisikawan ibarat cermin dihadapkan pada suatu kenyataan utk memantulkan hukum2, ciri2, fase2 dari kenyataan itu. Yg dipantulkan oleh cermin itu adlh ilmu secara umum. Kemudian muncul proses2 pengklasifikasian ilmu ke dlm ilmu2 fisika, kimia, ekonomi, sosiologi dan sebagainya.

Sepanjang evaluasi, dilibatkan dua kerangka yg digunakan dlm sains dan metodologi. Kedua kerangka yg sering kita campur adukan itu adalah : judgement de faite dan judgement de valeur, yg pertama menunjuk kepada evaluasi dan pembahasan atas realitas eksternal yg merupakan suatu "faite", suatu "subtansi", suatu "ini adalah . . . ", atau "maka ia adalah . . . ". Bila seseorang ada pada peringkat pertama penilaian (judgement) ini, yaitu peringkat judgement de faite, maka yg dilakukannya hanyalah menemukan ciri dari "faite", fakta (circumtances) dan gejala eksternalnya. Ia menguji sesuatu yg riil dan kongkret, serta menyatakannya sbg begini atau begitu. Peringkat kedua adlh judgement de valeur yg mempersoalkan karakter dan kualitas dari suatu gejala, kebaikan dan keburukannya, kegunaan dan bahayanya; serta bagaimana mengubahnya, bagaimana mengubah aspek2 negatifnya menjadi aspek2 positif, bagaimana memperbaharui dan menyempurnakannya, serta bagaimana memusnahkannya. Membicarakan sesuatu dlm kerangka seperti ini berarti melakukan penilaian tentang nilai (value judgement).


Dua cara penilaian ini mesti dibedakan. Sebagai contoh, dlm memperbincangkan Islam di Iran dlm kerangka judgement de faite, maka penggambaran kita tentang bagaimana Islam menaklukan Persia, mempengaruhi masyarkatnya, mempengaruhi kebudayaan dan sejarahnya, dan bagaimana Islam menguasai sistem2 politik dan sosialnya mestilah utuh. Kita harus menahan diri dari melibatkan keyakinan2 dan sentimen2 pribadi kita dlm menggambarkan fakta2 ini. Jika tidak, maka kita akan merusak masalah kita, obyektifitas kita dan metode ilmiah kita. Dalam peringkat kedualah kita diperbolehkan melibatkan diri dlm mengevaluasi, memperbandingkan, mengontraskan dan menguji apakah Islam terbukti sbg kekuatan positif atau negatif yg menyebabkan peningkatan atau kemunduran kebudayaan Iran: apakah Islammenawarkan manfaat2 baru dan menggusur etika2 lama, apakah ia mengharuskan nasionalisme atau justru menguatkannya, apakah ia memberi obor kemerdekaan bagi rakyat yg tertindas atau justru membiarkan mereka dlm status-quo. Inilah proses pengujian, pembobotan, pengukuran, pengklasifikasian, dan penimbangan terhadap realitas eksternal.

Sementara dlm peringkat judgement de faite kita lakukan suatu penyelidikan secara cermat terhadap fakta2 eksternal, maka dlm peringkat judgement de valeur kita berusaha mengklarifikasikan fakta2 ke dlm nilai yg mungkin kita terima atau kita tolak. Ini merupakan peringkat Ideologis yg melibatkan kita utk menggarap masalah2 dan isu2 dlm kerangka bagaimana memanfaatkan, memecahkan, mengupas, atau memperkerjakan mereka utk memenuhi kebutuhan kita. Inilah perbedaan Ideologi dgn Ilmu.

Selama ini Ideologi dikaitkan dgn filsafat. Tetapi harus diingat bahwa Ideologi hanya sedikit berkaitan dgn filsafat, sebagaimana halnya dgn ilmu pengetahuan. Filsafat dpt di definisikan sbg pencarian utk memahami sesuatu yg umum dan tak diketahui, yg ilmu pengetahuan sendiri tdk mampu mencapainya. Berikut ini adlh beberapa topik umum dan tak diketahui yg digeluti oleh bidang filsafat; tujuan manusia, makna kemaujudan (eksistensi), filsafat kehidupan manusia, tujuan penciptaan manusia, posisi dan statusnya dlm alam semesta, dan sebagainya. Ilmu pengetahuan tdk melibatkan diri dgn topik2 tersebut, karena ia tak dpt menggarap topik2 itu dgn suatu cara analitis. Ilmu pengetahuan berkaitan dgn detil2, hubungan2 dan proses2 yg berlangsung di antara beragam jenis obyek dan gejala dlm dunia fisik. Di lain pihak, filsafat menyelidiki ke dlm kemungkinan2 ideal, kebenaran dan substansi, gejala dan konsep2 yg berlangsung di alam dan yg ada dlm benak manusia. Filsafat melibatkan diri dgn pertanyaan2 Besar. Baik filsafat maupun sains cenderung kepada penguasaan dan penemuan hal2 yg tdk diketahui. Dengan demikian filsafat adlh ilmu, tetapi ia merupakan ilmu di balik ilmu, karena apa yg akrab dgn filsafat tdk mungkin dieksperimentasikan ke dlm laboratorium ilmuan. Karena lebih umum dan mendasar, filsafat merupakan peringkat lebih tinggi dari ilmu.

Ideologi meyakini tiga peringkat. Peringkat pertama adlh cara kita memahami dan menerima akan semesta, kemaujudan, dan manusia. Peringkat kedua terdiri atas cara tertentu kita dlm memahami dan mengevaluasi segala benda dan gagasan yg membentuk lingkungan sosial dan lingkungan mental kita. Peringkat ketiga, berupa penyodoran usulan2, metode2, pendekatan2 dan ideal2 yg akan kita manfaatkan utk mengubah status-quo yg tdk memuaskan kita. Pada peringkat ketiga inilah, suatu Ideologi harus mulai menyelenggarakan misinya dgn memberikan bimbingan melalui usulan-usulan, tujuan-tujuan dan ideal-ideal yg diinginkan serta rencana-rencana praktis, yg sedang berlangsung pada suatu masyarakat mesti berubah dan berkembang.

Ideologi menuntut agar kaum Intelektual bersikap setia (committed). Bagi Ideolog tertentu Ideologinya adlh suatu keharusan. Setiap Ideologi mulai dgn suatu peringkat sikap kritis, kritis atas status-quo suatu masyarakat dan berbagai aspek kebudayaan, ekonomi, politik, dan moralnya yg cenderung menghambat perubahan yg diinginkan. Peringkat Ideologi ini merupakan peringkat yg pasif, melibatkan dirinya dlm pengakuan rencana2, proyek2 dan ideal-ideal baru sbg pengganti rencana, proyek dan ideal lama. Peringkat sikap kritis ini mengemukakan cara2 baru utk menggantikan cara2 lama, sehingga status quo mungkin mengalami suatu perubahan secara mendasar. Dalam peringkat ini pulalah bimbingan mereka tersebut harus dpt menunjukkan komitmen dan keresponsifan mereka terhadap Ideologi mereka. Dan komitmen inilah yg selanjutnya akan menuntut mereka utk berbuat, berdakwah dan berkorban.

Filsafat maupun ilmu pengetahuan tdk menganut suatu komitmen seperti itu. Ilmu pengetahuan menggambarkan bagaimana suatu benda jatuh, atau menjelaskan apakah yg disebut sbg gaya gravitasi itu. Tak ada bedanya, apakah seseorang menerima atau menolak ilmu itu. Seorang ilmuwan, berbeda dgn seorang Ideolog, tdk akan memaksakan asumsinya kepada ilmuwan lain; dan andaikata ilmuwan lain tetap bertahan pada keyakinan2 lama mereka, ia tdk akan membentuk kelompok utk menentang mereka. Karena alasan inilah, baik filsafat maupun ilmu pengetahuan tdk mampu menyalakan suatu revolusi dlm sejarah, walaupun selama berabad2 keduanya menunjukan berbagaia perubahan. Ideologilah yg senantiasa mengilhami dan memimpin serta mengorganisasi perjuangan, peperangan, pemberontakan dan pengorbanan yg luar biasa sepanjang sejarah kemanusiaan. Sifat dan keharusan dasar Ideologi meliputi keyakinan, tanggung jawab, keterlibatan dan komitmen.

Bagikan ke Facebook Bagikan ke Twitter

Komentar

1 tanggapan untuk "Ideologi dan Kaum Intelektual (1)"

Kita harus melakukan nada pada 08:13 AM, 05-Jan-10

sangat menarik, terima kasih

Langganan komentar: [RSS] [Atom]

Komentar Baru

[Masuk]
Nama:

Email:

Komentar:
(Beberapa Tag BBCode diperbolehkan)

Kode Keamanan:
Aktifkan Gambar