<?xml version="1.0" encoding="utf-8"?>
<rss version="2.0"
					xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
					xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
				  >
<channel>
<title>Lucky Arif Blog</title>
<link>http://lucky.mywapblog.com/</link>
<description><![CDATA[]]></description>
<pubDate>Mon, 08 Feb 2010 19:11:00 -0600</pubDate>
<item>
<title>Penelitian : Daya Tahan Tubuh Perempuan Lebih Kuat.</title>
<link>http://lucky.mywapblog.com/post/171.xhtml</link>
<pubDate>Mon, 08 Feb 2010 19:11:00 -0600</pubDate>
<description><![CDATA[Para pria tak perlu malu kalau<br />
harus terbaring lemah gara-gara<br />
batuk atau pilek. Mereka punya<br />
alasan untuk itu: sistem<br />
kekebalan tubuh mereka<br />
memang tidak setangguh<br />
perempuan.<br />
Sebuah studi yang dilakukan tim<br />
peneliti di McGill University,<br />
Kanada, mengindikasikan kalau<br />
hormon estrogen berperan<br />
menambah kekebalan tubuh<br />
perempuan terhadap penyakit<br />
infeksi. Hormon estrogen itu<br />
diduga kuat melawan ekspresi<br />
enzim yang selama ini<br />
menghalangi proses peradangan<br />
— baris pertama pertahanan<br />
tubuh terhadap invasi bakteri<br />
dan virus asing.<br />
Enzim yang dimaksud adalah<br />
Caspase-12. Enzim ini milik<br />
manusia, dan dalam studi yang<br />
hasil-hasilnya telah dimuat<br />
dalam Proceedings of the<br />
National Academy of Sciences<br />
itu enzim ditanamkan pada<br />
sekelompok tikus jantan dan<br />
betina.<br />
Dengan enzim-enzim itu, tim<br />
peneliti menemukan cuma yang<br />
jantan yang jadi lemah dan<br />
mudah terinfeksi penyakit. Tim<br />
peneliti itu menyimpulkan<br />
estrogen yang diproduksi tikus<br />
betina menghalangi kerja<br />
Caspase-12 karea mereka juga<br />
mendapati lokasi pasti dimana<br />
estrogen terikat kepada gen itu.<br />
Karena eksperimen dilakukan<br />
menggunakan gen manusia,<br />
para ilmuwan itu yakin kalau<br />
hasil riset juga berlaku untuk<br />
manusia. “Hasil ini<br />
mendemonstrasikan kalau<br />
perempuan memiliki respons<br />
peradangan yang lebih baik<br />
daripada pria, ” kata Maya Saleh,<br />
ketua tim.<br />
(BBC)]]></description>
</item>
<item>
<title>Zionisme dan Sepakbola: DariPaganisme ke Lapangan Hijau</title>
<link>http://lucky.mywapblog.com/post/170.xhtml</link>
<pubDate>Thu, 28 Jan 2010 18:16:00 -0600</pubDate>
<description><![CDATA[Jika anda saya tanya perihal<br />
dimanakah negara yang akan<br />
menjadi tuan rumah Piala Dunia<br />
2010 nanti? Pasti anda akan<br />
cepat menjawab, Afrika Selatan.<br />
Lalu jika anda saya tanya<br />
siapakah kapten AS Roma saat<br />
ini? Tentu anda lugas menyebut<br />
Il Attacante, Fransesco Totti.<br />
Sambil sesekali anda bubuhi<br />
kata-kata khas romanisti kepada<br />
saya &quot;Jagoan gua tuh, enak aja<br />
lu.&quot;<br />
Oleh Pizaro, Konselor Muslim<br />
Peserta Diskusi Sabtuan Islamic<br />
Studies INSIST dan Humas Kajian<br />
Zionisme Internasional (KaZI)<br />
Akan tetapi jika kemudian<br />
pertanyaannya saya ubah,<br />
seperti negara atau wilayah<br />
manakah nantinya menjadi awal<br />
mula hembusan angin akhir<br />
zaman akan menyemilir umat<br />
muslim seperti tertuang pada<br />
agama kita?<br />
Mungkin anda akan tersenyum,<br />
atau beberapa dari anda akan<br />
menerawang ke awan dan<br />
ketika mata anda sudah kembali<br />
ke asal, jawaban juga belum<br />
anda dapat. Lantas jika anda<br />
saya tanya siapakah sahabat<br />
Nabi Muhammad SAW yang<br />
pernah bermimpi tentang<br />
kematian dirinya saat<br />
digambarkan mengeluarkan<br />
burung dari mulutnya? Mungkin<br />
saya juga akan dapat<br />
kerenyutan dahi dari anda<br />
semua, tak lebih.<br />
Ya begitulah sepakbola telah<br />
menjadi mazhab kesekian dalam<br />
dinamika keimanan umat<br />
muslim. Yang beberapa<br />
Imamnya bernama Christian<br />
Ronaldo, Wayne Rooney, Didier<br />
Drogba, dan bahkan Benny Dolo.<br />
Mereka memiliki penganut setia<br />
bernama Jama &#039;ah Interisti,<br />
Milanisti, Juventini, Liverpudian,<br />
Madridistas, atau Jama &#039;ah atas<br />
nama Pendukung Indonesia Siap<br />
Mati Demi Merah Putih.<br />
Thesa yang menyerempet<br />
konyol ini memang terasa tidak<br />
berlebihan. Bayangkan seorang<br />
wartawan Indonesia sampai<br />
polos berkata, bahwa &quot;Bola<br />
sebagai media egaliter dan<br />
media persatu,&quot; kilah Hery<br />
Prasetyo, Jurnalis Tabloid Bola<br />
Soccer. Lebih jauh, Hery<br />
menuturkan bahwasanya &quot;Sepak<br />
bola lebih sukses daripada<br />
serangkaian Konfrensi-konfrensi<br />
yang dilakukan untuk<br />
menyatukan seluluh umat di<br />
dunia. &quot; Dahsyat. &quot;Di sini tidak<br />
ada lagi sekat etnis, suku agama<br />
maupun warna kulit,&quot; lanjutnya.<br />
Berhenti di selebrasi muslimkah?<br />
Tentu tidak. Sebab seorang<br />
pendeta di sebuah kuil Budha di<br />
Thailand berkomentar lebih<br />
radikal lagi bahwa &quot;Sepak bola<br />
telah menjadi agama dan<br />
memiliki pengikut jutaan<br />
banyak.&quot; Uniknya lagi, di Kuil itu,<br />
tahun 2000 silam, teronggok<br />
sebuah patung David Beckam,<br />
Kapten kesebelasan inggris yang<br />
kesohor itu.<br />
Lain Asia, lain cerita. Pada rimba<br />
yang berbeda, dalam rangka<br />
festival dan konser bertajuk<br />
&quot;Kick-off 2006 Kick-off faith&quot;,<br />
Gereja Berlin, Gereja<br />
Brandenbourg dan Gereja Berlin-<br />
Wilmersdorf menggelar sepak<br />
bola antara Imam Mesjid<br />
melawan para Pendeta dan yang<br />
menjadi hakim garisnya dari<br />
orang Yahudi.<br />
Tak bisa dilupakan juga, ketika<br />
belasan ribu warga Jakarta dan<br />
sekitarnya yang antre berjam-<br />
jam memanfaatkan kesempatan<br />
foto bersama trofi Piala Dunia<br />
saat dipamerkan di Jakarta<br />
Convention Centre (JCC), Selasa,<br />
26 Januari 2010. Acara tersebut<br />
merupakan rangkaian<br />
Federation Internationale de<br />
Football Association (FIFA) World<br />
Cup Trophy Tour yang<br />
disponsori Coca-Cola.<br />
Warga sampai tulus ikhlas antre<br />
berfoto bareng trofi piala dunia<br />
yang didominasi anak muda itu,<br />
khususnya pelajar SMA yang<br />
mendapat undangan khusus dari<br />
Coca-Cola. Hanya dalam hitungan<br />
detik, hasil foto bersama trofi<br />
Piala Dunia itu bisa langsung<br />
diambil.<br />
Tugu meyerupai<br />
Dari Jakarta, sekarang kita<br />
terbang ke Madiun. Demi<br />
sepakbola, dalam satu hari saja<br />
ada dua anak bangsa meregang<br />
nyawa. Adalah Ahmad Fatoni<br />
(21), warga Gresik yang terjatuh<br />
ketika kereta masih berada di<br />
Kertosono; serta Ari Sulistyo<br />
(17), warga Dukuh Menanggal<br />
Surabaya yang terjatuh di<br />
Banyumas. Menurut kesaksian<br />
teman-temannya, mereka duduk<br />
di atas kereta sehingga tidak<br />
sadar menabrak kabel-kabel lalu<br />
terjatuh terpelanting ke bawah<br />
dan terlindas kereta. Dan itu<br />
terjadi sebelum pertandingan<br />
Persib Bandung dan Persebaya<br />
Surabaya, minggu 24 Januari<br />
2010.<br />
Sebenarnya dinamika fanatisme<br />
sepakbola di Indonesia sudah<br />
berada pada level yang<br />
mengkhawatirkan. Semula<br />
penulis melihat Kajian tentang<br />
Sepakbola menjadi titik pijak<br />
pada garapan psikologi sosial<br />
ataupun sosiologi. Namun<br />
setelah melakukan penelaahan<br />
mendalam, problem sepakbola<br />
Indonesia memiliki sisi kelam<br />
yang pada ujungnya bisa<br />
dikaitkan pada hegemoni<br />
Zionisme yang bisa mencederai<br />
akidah. Terlebih, Sepakbola dan<br />
Zionisme masih minim untuk<br />
diungkap. Alhasil penulis coba<br />
menelusuri pada wilayah rel<br />
tersebut.<br />
Kasus almarhum Fathoni dan Ari<br />
adalah puncak gunung es atas<br />
ideologi sepakbola yang begitu<br />
menipu pada level<br />
penerapannya. Hal ini setidaknya<br />
pernah penulis rasakan sendiri.<br />
Saat menjadi pelajar aliyah,<br />
penulis termasuk salah satu<br />
supporter klub terbesar di<br />
Jakarta, lengkap dengan kartu<br />
anggota-nya. Kala itu, saat di<br />
stadion, telinga dan jiwa kami<br />
begitu massif di &quot;doktrin&quot; tak<br />
ubahnya seperti seorang<br />
mujahid hendak menuju medan<br />
jihad.<br />
Kaos yang bertulis rasis,<br />
dikenakan seorang Bonek di<br />
pojok kanan<br />
Untuk membela klub tercinta,<br />
kami dimotivasi yel-yel tentang<br />
harga murah sebuah nyawa<br />
demi gengsi sebuah klub<br />
tercinta. Dan gila-nya lagi<br />
banyak suporter yang rata-rata<br />
remaja itu mengamini dengan<br />
sepenuh hayat. Kasus gap<br />
antara Viking dan The Jak,<br />
Aremania dan Bonekmania,<br />
sampai saat ini bisa menjadi<br />
representasinya. Kita sesama<br />
anak bangsa dan umat muslim<br />
seperti diadu sedemikian rupa<br />
oleh mereka. Hal ini kemudian<br />
berekses pada kata-kata rasis<br />
sepanjang pertandingan yang<br />
semarak dilontarkan. Tidak<br />
hanya berbuah pada selebrasi<br />
kata &quot;sikat&quot;, &quot;hajar&quot;, namun<br />
muara itu sampai juga pada<br />
aksara &quot;bunuh!&quot; atau &quot;Dibunuh<br />
saja!&quot;. Itu belum termasuk kata-<br />
kata binatang yang rasanya<br />
penulis tidak sampai hati<br />
mebeberkannya disini.<br />
Jika anda tidak percaya, silahkan<br />
anda datang ke stadion atau<br />
coba anda simak betul-betul kala<br />
setiap tim bermain di layar kaca.<br />
Ini bukan perkara sepele. Karena<br />
Menurut Sayyid Quthb, kita mati<br />
karena membela negara yang<br />
tidak ada urusan dengan iman<br />
saja dapat dikatakan mati bukan<br />
di Jalan Allah, terlebih ini<br />
berperang demi gengsi urusan<br />
remeh temeh dunia, semisal<br />
sepakbola. Dengan yakin penulis<br />
bisa menyimpulkan ini bagian<br />
dari mati konyol.<br />
&quot;Tidaklah termasuk golongan<br />
kami barangsiapa yang menyeru<br />
kepada ashabiyyah (fanatisme<br />
kelompok). Dan tidaklah<br />
termasuk golongan kami<br />
barangsiapa yang berperang<br />
atas dasar ashabiyyah<br />
(fanatisme kelompok). Dan<br />
tidaklah termasuk golongan<br />
kami barangsiapa yang<br />
terbunuh atas nama ashobiyyah<br />
(fanatisme kelompok). &quot; (HR. Abu<br />
Dawud)<br />
Selanjutnya Rasulullah pernah<br />
menyebut kematian orang-<br />
orang yang terbunuh di bawah<br />
bendera ashabiyah sebagai mati<br />
jahiliyah. Syaikh Safiyurrahman<br />
al Mubarakfuri dalam kitab Al<br />
Ahzab As Siyasiyyah fil Islam<br />
mengutip sebuah hadits yang<br />
diriwayatkan dari Abu Hurairah<br />
ra, bahwa Rasulullah Saw telah<br />
bersabda:<br />
&quot;Barangsiapa berjuang di bawah<br />
bendera kefanatikan,<br />
bermusuhan karena kesukuan<br />
dan menyeru kepada kesukuan,<br />
serta tolong menolong atas<br />
dasar kesukuan maka bila dia<br />
terbunuh dan mati, matinya<br />
seperti jahiliyah&quot;. (HR. Muslim)<br />
Namun suatu yang jenaka bisa<br />
kita tarik sebagai bahan<br />
evaluasi. Bayangkan kita saja<br />
yang ngaji belum tentu siap mati<br />
demi agama, tapi mereka yang<br />
&quot; ngaji&quot;-nya di lapangan malah<br />
rela menggadai nyawa, walau<br />
hanya demi urusan rumput<br />
hijau. Tampak sepele dan<br />
menggelikan memang, tapi itu<br />
nyata di sekeliling kita.<br />
Kisah Aremania dan gerakan<br />
sepuluh ribunya menjadi catatan<br />
menarik kesekian yang patut<br />
untuk dibahas. Bayangkan<br />
mereka yang rata-rata muslim<br />
itu berhasil mengumpulkan uang<br />
Rp 61 juta di tengah saudara<br />
semuslimnya di Palestina,<br />
Afganistan, Sudan, dan lain-lain<br />
berperang serta kelaparan.<br />
Bahkan dengan mengamen yang<br />
dimulai pukul 13.30 WIB dalam<br />
waktu tidak lebih dua setengah<br />
jam terkumpul uang Rp<br />
1.828.900. Para Aremania dari<br />
Malang dan Kota Batu ini<br />
mengambil tempat di patung<br />
Apel alun-alun dan dikoordinasi<br />
langsung oleh Yuli Sumpil.<br />
Bergeser ke bagian Barat. Di<br />
Bandung, ada gambaran<br />
militansi utuh digelar oleh<br />
bobotoh Persib. Untuk<br />
membantu tim kesayangannya<br />
berlaga di kompetisi Superliga<br />
Indonesia 2009/10 dan<br />
mempertahankan pemain senior<br />
supaya tidak hengkang dari<br />
Bandung, pertengahan agustus<br />
2009 lalu, kelompok suporter<br />
Viking Persib Club bakal<br />
memberikan bantuan dana hasil<br />
patungan anggotanya. Dan<br />
ditengah geliat kemiskinan,<br />
bukan main-main Viking hanya<br />
membatasi sumbangan minimal<br />
Rp15 ribu per orang.<br />
Itu baru pada level suporter,<br />
sekarang kita beranjak pada<br />
elemen kepemerintahan.<br />
Gubernur provinsi DKI Jakarta<br />
beberapa tahun yang lalu, demi<br />
kelangsungan nyawa Persija rela<br />
menggelontorkan uang Rp 23<br />
Miliar. Tak sedikit uang itu<br />
disedot buat bayar pemain asing<br />
yang tidak jelas apa<br />
sumbangsihnya bagi negara,<br />
apalagi sumbangannya buat<br />
umat Islam. Itu semua tanpa<br />
dosa dilakukan pemerintah DKI<br />
ditengah para Pedagang Kaki<br />
Lima yang kios-kiosnya<br />
dirubuhkan. Di tengah para<br />
pedagang asongan yang<br />
dilarang mengeluarkan insting<br />
bisnisnya di perempatan lampu<br />
merah. Di tengah para pedagang<br />
kecil-kecilan yang gerobak<br />
kayunya dibakar hanya karena<br />
mengganggu jalan, dan di<br />
tengah rakyat kelaparan yang<br />
tak berapa lama statusnya cepat<br />
berganti menjadi almarhum.<br />
Bisa disimpulkan inilah suntikan<br />
ideologi materialisme buta yang<br />
mendera akidah kita. Pemerintah<br />
DKI rela lebih memilih uang<br />
untuk membayar pemain asing<br />
ketimbang memberi makan PKL<br />
yang rata-rata mereka kelaparan<br />
dan warga asli DKI Jakarta<br />
sendiri. Jika ditanya, tak lama<br />
mereka berdalih: atas instruksi<br />
Undang-undang dan sudah<br />
sesuai prosedur hukum. Jadilah<br />
penulis seperti ingin<br />
mengatakan, &quot;Selamat datang di<br />
negeri Materialisme, Welcome to<br />
Kabbalah &#039;s Value&quot;. Padahal Allah<br />
jelas berfirman, &quot;Hai orang-<br />
orang yang beriman, janganlah<br />
kamu mengkhianati Allah dan<br />
Rasul (Muhammad) dan (juga)<br />
janganlah kamu mengkhianati<br />
amanat-amanat yang<br />
dipercayakan kepadamu, sedang<br />
kamu mengetahui&quot; (QS Al-Anfaal<br />
27).<br />
Dan amanah itu akan<br />
dipertanggungjawabkan di<br />
hadapan Allah,<br />
Imam yang diangkat untuk<br />
memimpin manusia itu adalah<br />
laksana penggembala, dan dia<br />
akan dimintai<br />
pertanggungjawaban akan<br />
rakyatnya (yang<br />
digembalakannya). [HR. Imam al-<br />
Bukhari dari sahabat Abdullah<br />
bin Umar r.a.]<br />
Kisah diatas hanyalah segelintir<br />
catatan bagaimana Ideologi<br />
Materialisme dan Hedonisme<br />
Yahudi perlahan tanpa kita<br />
sadari tersamar dalam keIslaman<br />
kita. Gagasan yang dikonstruk<br />
dari filosofi Pagan ala Kabbalah<br />
Mesir Kuno ini memang tidak<br />
muncul dalam rupa<br />
menyeramkan. Karena Zionisme<br />
Yahudi tahu betul apa strategi<br />
yang langsung menembus titik<br />
lemah musuh-musuh-nya. Tidak<br />
usah diinvasi oleh rudal atau jet-<br />
jet canggih yang dimoncongnya<br />
bertulis KFR itu, tapi cukup<br />
dengan sepakbola umat muslim<br />
akan semakin menjauh dari cita-<br />
cita Islam, kalau tidak mau<br />
disebut kafir.<br />
Gambar Setan sebagai<br />
Representasi<br />
Freemason yang berpusat di<br />
Inggris memang menyebarkan<br />
pengaruhnya, salah satunya<br />
melalui olah raga yang paling<br />
popular. Sepak bola sudah<br />
menjadi ikon bisnis dunia.<br />
Program penghapusan Agama<br />
ala Freemasonry Yahudi ini<br />
menjadi tidak terlelakkan kala<br />
kita-kita juga telah menjadi<br />
agennya. Negara kita begitu<br />
bernafsu menjadi Tuan Rumah<br />
Piala Dunia, yang sama sekali<br />
tidak jelas kadar keuntungan<br />
Iman bagi umat muslim. Sebab<br />
semuanya itu demi Rupiah<br />
semata. Padahal banyak PR yang<br />
layak diselesaikan tinimbang<br />
membayang-bayangkan<br />
memenuhi Negara ini dengan<br />
dagelan sepakbola seperti itu.<br />
Masih banyak guru yang tidak<br />
sejahtera dan kualitasnya<br />
terpendam. Masih jamak anak<br />
bangsa yang potensial tapi<br />
hidup dari memungut sampah di<br />
stasiun kota. Masih menjadi<br />
mayoritas kala kita berdiskusi<br />
tentang sekolah-sekolah yang<br />
berdiri seadanya. Masih banyak<br />
kampus-kampus Islam yang<br />
perpustakaan-nya minim buku<br />
bermutu. Menyedihkan.<br />
Gambar Setan sebagai<br />
Representasi &quot;Satanic Symbols&quot;.<br />
Pagan dan Sihir adalah jelmaan<br />
ideologi Freemasonry dari hasil<br />
kepercayaan Mesir Kuno<br />
Jadi dengan skenario itu, tak<br />
bisa dipungkiri bahwa sepakbola<br />
adalah media pencetak uang<br />
andalan bagi Freemason. Sebagai<br />
contoh, Manchester United<br />
pernah dikuasai oleh Ruppert<br />
Murdoch, raja media Yahudi.<br />
Salah satu klub bola terkaya di<br />
dunia. Fans setia mereka sudah<br />
tersebar diseluruh penjuru<br />
dunia. Termasuk dari anak-anak<br />
kita yang tergila-gila memiliki<br />
kaosnya.<br />
Logo Setan Chelsea, sebuah<br />
simbolisasi Pagan<br />
Belum lagi Chelsea, klub<br />
sepakbola yang bercokol di<br />
papan atas Liga Inggris saat ini.<br />
The Blues memiliki jutaan<br />
penggemar seantero bumi,<br />
Eropa, Amerika, Asia hingga<br />
Papua. Ia dikuasai oleh Roman<br />
Abramovich seorang Yahudi<br />
tulen. Dan uniknya di kedua logo<br />
klub tersebut terbentang<br />
gambar setan, yang notabene<br />
menjadi symbol Pagan Kabbala.<br />
Nuansa itu semakin kental<br />
dengan sebutan MU yang<br />
tersohor sebagai The Red Devils,<br />
Si Setan Merah dan gambar tiga<br />
singa di Footbal Association (FA)<br />
mirip dengan lambang Spihnx<br />
(Manusia berkepala Singa) yang<br />
acap kita temui di loge-loge<br />
Masonik.<br />
Bahkan ketika salah seorang<br />
fans MU di sebuah situs<br />
dikonfrontir tentang hegemoni<br />
Yahudi di MU, ia malah<br />
membalas, &quot;Fans MU bukan<br />
mendukung Yahudi-nya bro, tapi<br />
klubnya !!!! ini dunia olahraga<br />
coy bukan tempat SARA. &quot;<br />
Bayangkan, persoalan Yahudi<br />
hanya dianggap persolan SARA<br />
yang tidak kalah penting dari<br />
sebuah fanatisme sepakbola.<br />
Padahal justru Yahudilah<br />
penganut Fasisme sejati. Sudah<br />
jutaan anak-anak Palestina,<br />
Afghanistan, Sudah, Somalia, dan<br />
negera muslim lainnya merana.<br />
Ini jelas dalam Kitab Talmud<br />
Yahudi, bagaimana mereka<br />
menjadikan Talmud sebagai<br />
landasan teologis mereka untuk<br />
beraksi.<br />
&quot;Hanya orang-orang Yahudi<br />
yang manusia, sedangkan<br />
orang-orang non Yahudi<br />
bukanlah manusia, melainkan<br />
binatang. &quot; (Kerithuth 6b hal.78,<br />
Jebhammoth 61a)<br />
&quot;Angka kelahiran orang-orang<br />
non-Yahudi harus ditekan sekecil<br />
mungkin. &quot; (Zohar II, 4b) &quot;Angka<br />
kelahiran orang-orang non-<br />
Yahudi harus ditekan sekecil<br />
mungkin. &quot; (Zohar II, 4b) &quot;Orang<br />
Yahudi boleh berdusta untuk<br />
menipu orang kafir &quot;. Baba<br />
Kamma 113a.<br />
Selain itu, beberapa musim lalu,<br />
MU dengan logo setan-nya<br />
tersebut, juga ditunjang oleh<br />
sponsor Vodafone yang<br />
lambangnya mengandung<br />
Ouroboros. Jika kita mempelajari<br />
symbol-simbol Yahudi,<br />
Ouroboros termasuk ke dalam<br />
&#039; Satanic Symbols&#039; yang memiliki<br />
arti sebagai keabadian,<br />
kesemestaan, yang juga<br />
mewakili kekuatan Lucifer.<br />
Lalu, remaja kita juga digempur<br />
untuk selalu berfikir sepakbola.<br />
Jika kita tanya kepada pelajar SD<br />
dan SMP tentang gambaran<br />
profesi kedepan. Mereka dengan<br />
lantang menjawab, &quot;Ingin jadi<br />
pemain bola, dong&quot;<br />
Main sepak bola memang tidak<br />
haram. Itu sah-sah saja. Tapi<br />
yang mengkhawatirkan adalah<br />
cita-cita itu lahir dari<br />
menjejalnya tayangan sepakbola<br />
dari malam ketemu pagi (subuh),<br />
lanjut ke sore, mahgrib, sampai<br />
ketemu malam kembali. Inilah<br />
trik musuh-musuh Allah<br />
mengatur jadwal pertandingan<br />
sedemikian rupa agar tidak<br />
berbenturan antara sesama liga-<br />
liga elit dunia dan habisnya<br />
waktu umat muslim untuk<br />
menontong sepakbola adalah<br />
keniscayaan. Coba kita telisik<br />
acara TV kita, menjelang Isya<br />
ada liga Inggris. Agak malam<br />
muncul daratan liga Italia. Dan<br />
ketika pucuk hari menggelayut<br />
saat subuh menyingsing,<br />
datanglah Lionel Messi dan<br />
kawan-kawan.<br />
Ini juga dikonstruk oleh petinggi<br />
Indonesian Super League (ISL).<br />
Jika kita perhatikan kenapa<br />
negara dengan penganut Islam<br />
terbesar di dunia ini, ketika<br />
melaksanakan pertandingan<br />
sepakbola saja selalu<br />
berbenturan dengan waktu<br />
shalat. Kini pada sore, ISL kerap<br />
bertarung pas adzan Shalat<br />
Ashar berkumandang pukul<br />
15.30. Kemudian saat<br />
pertandingan waktu malam,<br />
bergesekan antara waktu<br />
Maghrib dan Isya. Padahal<br />
logikanya apa susahnya PSSI<br />
menggelar waktu pertandingan<br />
malam tepat pukul delapan atau<br />
selebihnya. Atau ketika sore<br />
dilangsungkan pukul empat<br />
setelah shalat Ashar.<br />
Ketika<br />
penulis aktif menjadi supporter,<br />
mau shalat saja susahnya bukan<br />
main. Stadion terbesar sekelas<br />
Senayan ternyata tidak memiliki<br />
cucuran air yang memadai.<br />
Bahkan tempat khusus shalat di<br />
dalam stadion saja tidak ada.<br />
Tapi kalau sudah pemenuhan<br />
daya terang, pemerintah akan<br />
mengeluarkan cucuran dana<br />
berlimpah. Sekulerisme dalam<br />
spakbola terjadi karena memang<br />
FIFA tidak pernah menuangkan<br />
item adanya tempat ibadah di<br />
stadion sebagai suatu<br />
keharusan. Tentu ini menjadi<br />
tanda tanya apabila jargon<br />
sepakbola sebagai pemersatu<br />
digemborkan oleh FIFA.<br />
Ouroboros, Ular mengiggit sama<br />
dengan lambang Vodafone,<br />
Sponsor MU<br />
Negara Arab pun juga demikian.<br />
Arab Saudi yang katanya ketat<br />
dalam penerapan sunnah, malah<br />
membiarkan pemainnya bermain<br />
tanpa menutup aurat. Bahkan di<br />
Mesir tahun lalu muncul fatwa<br />
boleh tak berpuasa bagi pemain<br />
sepakbola. Ya Mesir, negara yang<br />
pemerintahnya hobi berkoalisi<br />
dengan Israel itu. Seperti<br />
kelihatan konyol memang, Islam<br />
sebagai agama paripurna harus<br />
tunduk dengan sepakbola, justru<br />
di Negara yang tak akan lupa<br />
oleh sjearah, sbeagai Negara<br />
tempat turunnya para Nabi.<br />
Malah sekarang ini ada gejala<br />
baru. Menurut sebuah berita,<br />
para pengusaha dan anggota<br />
kerajaan di negeri Arab sekarang<br />
ini berbondong-bondong<br />
membeli klub sepakbola Premier<br />
League. Tercatat ada nama<br />
Syeikh Mansour yang memiliki<br />
klub Manchester City. Ada pula<br />
Pangeran Faisal yanag tengah<br />
dalam proses membeli klub<br />
Liverpool. Yang terakhir adalah<br />
Ali Al Faraj yang membeli klub<br />
Porstmouth.<br />
Ali Faraj ini kemudian<br />
memperkerjakan seorang Israel,<br />
Avram Grant. Grant adalah<br />
seorang Yahudi yang pernah<br />
melatih klub Chelsea, namun<br />
kemudian digantikan oleh Luis<br />
Felipe Scolari karena dianggap<br />
gagal memenuhi ekspektasi sang<br />
pemilik klub, Roman Abramovic.<br />
Di Portsmouth, Grant akan<br />
ditunjuk sebagai Direktur<br />
Sepakbola klub tersebut untuk<br />
durasi dua tahun. Grant sendiri<br />
bukanlah orang baru dalam<br />
tubuh Portsmouth. Empat tahun<br />
lalu, sebelum melatih Chelsea, ia<br />
pernah menjabat sebagai<br />
Direktur Teknik.<br />
Itulah sekelumit bagaimana<br />
Zionisme menyerang hal-hal<br />
yang tampak sepele tapi kini<br />
menjadi bahan hiburan bagi<br />
dunia. Setiap umat muslim patut<br />
waspada, apalagi anda-anda<br />
yang bergelar mujahid dakwah.<br />
Jangan sampai terlenakan oleh<br />
perkara elementer seperti ini,<br />
dan tidak terasa bahwa musuh-<br />
musuh Allah sudah<br />
menghunguskan senjata di<br />
hidung kita.<br />
Mungkin sekarang ini orang<br />
Yahudi sedang tertawa<br />
terbahak-bahak melihat umat<br />
Islam yang matanya miring dan<br />
tekantuk lalu pulas tidur hingga<br />
lupa kewajiban lima waktunya.<br />
Demi Arsenal, Demi goyangan<br />
Samba Barcelona, hingga tarian<br />
bola Sriwijaya. Dan mungkin<br />
para annggota Mason sekarang<br />
sedang tersenyum-senyum<br />
sendiri, lalu tak lama<br />
menonggakan kepala dan<br />
dengan indah bernyanyi.<br />
&quot;Kuyakin hari ini pasti<br />
menang....oooo....aaaaaa.....ooooo<br />
o...aaaaaa&quot;.<br />
Wallahu&#039;alam bishshawab.<br />
<br />
( Sabili )]]></description>
</item>
<item>
<title>Penelitian : Kebanyakan Duduk MenyebabkanKematian</title>
<link>http://lucky.mywapblog.com/post/169.xhtml</link>
<pubDate>Sat, 23 Jan 2010 19:52:00 -0600</pubDate>
<description><![CDATA[TEMPO Interaktif, London -<br />
Para pakar kesehatan<br />
mengeluarkan peringatan<br />
mengejutkan: duduk itu<br />
mematikan. Mereka<br />
memperingatkan bahwa duduk<br />
dalam jangka waktu lama, meski<br />
Anda juga berolah raga secara<br />
teratur, dapat berakibat buruk<br />
bagi kesehatan. Tempat Anda<br />
duduk pun tak jadi soal, entah di<br />
kantor, sekolah, mobil, serta di<br />
depan komputer atau televisi.<br />
Masalahnya adalah, berapa lama<br />
Anda melakukannya.<br />
Riset para ilmuwan itu memang<br />
masih penelitian pendahuluan.<br />
Tapi sejumlah studi<br />
menunjukkan bahwa orang<br />
yang menghabiskan sebagian<br />
besar waktunya dengan duduk<br />
cenderung menjadi gemuk,<br />
terkena serangan jantung, atau,<br />
bahkan, meninggal.<br />
Dalam editorial British Journal of<br />
Sports Medicine, pekan ini, Elin<br />
Ekblom-Bak dari Swedish School<br />
of Sport and Health Sciences<br />
memberi saran agar pejabat<br />
kesehatan memikirkan kembali<br />
bagaimana mereka<br />
mendefinisikan aktivitas fisik<br />
untuk menyoroti bahaya duduk.<br />
Pejabat kesehatan telah<br />
mengeluarkan panduan yang<br />
merekomendasikan kegiatan<br />
fisik minimum agar seseorang<br />
tetap bugar, namun mereka<br />
tidak memberikan saran kepada<br />
orang untuk membatasi berapa<br />
banyak waktu yang dihabiskan<br />
dalam posisi duduk. &quot;Setelah<br />
empat jam duduk, tubuh mulai<br />
mengirimkan sinyal berbahaya,&quot;<br />
kata Ekblom-Bak. Dia<br />
menjelaskan bahwa gen yang<br />
mengatur jumlah glukosa dan<br />
lemak dalam tubuh mulai padam.<br />
Meskipun orang itu rutin berolah<br />
raga, menghabiskan waktu lama<br />
duduk di depan meja tetap<br />
berbahaya. Tim Armstrong,<br />
pakar kegiatan fisik di<br />
Organisasi Kesehatan Dunia<br />
(WHO), mengatakan orang yang<br />
berolah raga setiap hari, namun<br />
masih menghabiskan banyak<br />
waktu dengan duduk, baru<br />
memperoleh manfaat jika olah<br />
raga itu dilakukan beberapa kali<br />
dalam sehari daripada dilakukan<br />
hanya sekali.<br />
Dalam sebuah studi yang<br />
dipublikasikan tahun lalu, para<br />
ilmuwan yang melakukan<br />
pemantauan terhadap 17 ribu<br />
warga Kanada selama beberapa<br />
tahun menemukan bahwa orang<br />
yang banyak duduk memiliki<br />
risiko kematian yang jauh lebih<br />
tinggi, entah mereka berolah<br />
raga atau tidak. &quot;Kami belum<br />
memiliki bukti yang cukup untuk<br />
menyatakan berapa lama duduk<br />
yang berbahaya,&quot; kata Peter<br />
Katzmarzyk dari Pennington<br />
Biomedical Research Center di<br />
Baton Rouge, Amerika, yang<br />
memimpin studi itu. &quot;Tapi<br />
tampaknya, makin sering Anda<br />
berdiri dan menyela perilaku tak<br />
bergerak itu, makin bagus.&quot;<br />
Survei yang dilakukan sebuah<br />
lembaga di Amerika Serikat pada<br />
2003-2004 menunjukkan bahwa<br />
orang Amerika menghabiskan<br />
lebih dari separuh waktu mereka<br />
di atas kursi, mulai bekerja di<br />
depan meja sampai di balik<br />
kemudi mobil.<br />
Para ilmuwan menyatakan perlu<br />
lebih banyak riset untuk<br />
mengetahui duduk berapa lama<br />
yang berbahaya dan apa yang<br />
dapat dilakukan untuk<br />
mengatasi pengaruh buruk<br />
tersebut. &quot;Orang harus tetap<br />
berolahraga karena itu<br />
mempunyai banyak manfaat,&quot;<br />
kata Ekblom-Bak. &quot;Tapi ketika<br />
mereka di kantor, mereka harus<br />
berusaha menyela aktivitasnya<br />
di atas kursi sesering mungkin.<br />
Jangan mengirim e-mail kepada<br />
rekan sekantor. Berjalan dan<br />
bicara langsung padanya.<br />
Berdiri.&quot;<br />
TJANDRA DEWI l AP]]></description>
</item>
<item>
<title>“Islam Progresif” dan SeksBebas</title>
<link>http://lucky.mywapblog.com/post/168.xhtml</link>
<pubDate>Fri, 08 Jan 2010 20:35:00 -0600</pubDate>
<description><![CDATA[Akibat logis konsep<br />
dekonstruksi kitab suci, bukan<br />
aneh dukungan kaum liberal<br />
terhadap praktik seks bebas.<br />
Baca CAP Adian ke-276<br />
Oleh: Dr. Adian Husaini*<br />
Di antara pegiat “Islam<br />
Progresif”, atau “Islam Liberal”,<br />
nama Sumanto Al Qurtuby<br />
memang sudah bukan asing lagi.<br />
Alumnus Fakultas Syariah IAIN<br />
Semarang ini terkenal dengan<br />
ide-ide liberalnya yang sangat<br />
berani. Di sebuah Jurnal yang<br />
terbit di Fakultas Syariah IAIN<br />
Semarang, Justisia, ia pernah<br />
mengusulkan agar sejumlah ayat<br />
Al-Quran diamandemen.<br />
Belakangan, kaum liberal di<br />
Indonesia, semakin terbuka<br />
melontarkan wacana perlunya<br />
proses ”Desakralisasi Al-Quran”.<br />
Meskipun sudah terbiasa<br />
membaca berbagai pendapat<br />
liberal dan progresif yang aneh-<br />
aneh, tetapi saya tetap<br />
terbelalak dan nyaris tak<br />
percaya, ada sebuah tulisan<br />
yang secara terbuka mendukung<br />
praktik seks bebas, asal<br />
dilakukan suka sama suka, tanpa<br />
paksaan. Tulisan Sumanto itu<br />
berjudul ”Agama, Seks, dan<br />
Moral”, yang dimuat dalam<br />
sebuah buku berjudul Jihad<br />
Melawan Ekstrimis Agama,<br />
Membangkitkan Islam Progresif<br />
(terbit pertama Oktober 2009).<br />
Kita perlu ”berterimakasih”<br />
kepada Sumanto yang secara<br />
jujur dan terbuka melontarkan<br />
ide liberal dan progresif,<br />
sehingga lebih mudah dipahami.<br />
Sebab, selama ini banyak yang<br />
mengemas ide ”Islam progresif”<br />
dan ”Islam liberal” dengan<br />
berbagai kemasan indah dan<br />
menawan, sehingga berhasil<br />
menyesatkan banyak orang.<br />
Untuk lebih jelas menyimak<br />
persepsi ”Islam Progresif”<br />
tentang seks bebas ini, ada<br />
baiknya kita kutip agak panjang<br />
artikel dari penulis yang dalam<br />
buku ini memperkenalkan<br />
dirinya sebagai kandidat doktor<br />
bidang antropologi politik dan<br />
agama di Boston University.<br />
Kutipan ini ada di halaman<br />
182-184:<br />
”Apa yang diwartakan oleh<br />
agama (Islam, Kristen dan<br />
lainnya) hanyalah satu sisi<br />
saja dari sekian banyak<br />
persepsi tentang seks itu<br />
atau katakanlah sex among<br />
others. Bahkan jika kita kaji<br />
lebih jauh, ajaran Kristen<br />
atau Islam yang begitu<br />
” konservatif” terhadap<br />
tafsir teks sebetulnya<br />
hanyalah reaksi saja atas<br />
peradaban Yunani<br />
(Hellenisme) yang<br />
memandang seks secara<br />
wajar dan natural. Kita tahu<br />
peradaban Yunani telah<br />
merasuk ke wilayah Eropa<br />
(lewat Romawi) dan juga<br />
Timur Tengah di Abad<br />
Pertengahan yang<br />
kemudian menimbulkan<br />
sejumlah ketegangan<br />
kebudayaan. Oleh karena itu<br />
tidak selayaknya jika<br />
persepsi agama ini<br />
kemudian dijadikan sebagai<br />
parameter untuk menilai,<br />
mengevaluasi dan bahkan<br />
menghakimi pandangan di<br />
luar agama tentang seks.<br />
Apa yang kita saksikan<br />
dewasa ini adalah sebuah<br />
pemandangan keangkuhan<br />
oleh kaum beragama (dan<br />
lembaga agama) terhadap<br />
fenomena seksualitas yang<br />
vulgar sebagai haram,<br />
maksiat, tidak bermoral, dan<br />
seterusnya. Padahal<br />
moralitas atau halal-haram<br />
bukanlah sesuatu yang<br />
given dari Tuhan, melainkan<br />
hasil kesepakatan atau<br />
konsensus dari ”tangan-<br />
tangan gaib” (invisible<br />
hand, istilah Adam Smith)<br />
kekuasaan, baik kekuasaan<br />
politik maupun otoritas<br />
agama. Teks-teks<br />
keagamaan dalam banyak<br />
hal juga merupakan hasil<br />
”perselingkuhan” antara<br />
ulama/pendeta dengan<br />
pemimpin politik dalam<br />
rangka menciptakan<br />
stabilitas.<br />
Saya rasa Tuhan tidak<br />
mempunyai urusan dengan<br />
seksualitas. Jangankan<br />
masalah seksual, persoalan<br />
agama atau keyakinan saja<br />
yang sangat fundamental,<br />
Tuhan – seperti secara<br />
eksplisit tertuang dalam<br />
Alqur ’an – telah<br />
membebaskan manusia<br />
untuk memilih: menjadi<br />
mukmin atau kafir. Maka,<br />
jika masalah keyakinan saja<br />
Tuhan tidak perduli, apalagi<br />
masalah seks? Jika kita<br />
mengandaikan Tuhan akan<br />
mengutuk sebuah praktik<br />
” seks bebas” atau praktik<br />
seks yang tidak mengikuti<br />
aturan resmi seperti<br />
tercantum dalam diktum<br />
keagamaan, maka<br />
sesungguhnya kita tanpa<br />
sadar telah merendahkan<br />
martabat Tuhan itu sendiri.<br />
Jika agama masih mengurusi<br />
seksualitas dan alat kelamin,<br />
itu menunjukkan rendahnya<br />
kualitas agama itu.<br />
Demikian juga jika kita<br />
masih meributkan soal<br />
kelamin – seperti yang<br />
dilakukan MUI yang ngotot<br />
memperjuangkan UU<br />
Pornografi dan Pornoaksi –<br />
itu juga sebagai pertanda<br />
rendahnya kualitas<br />
keimanan kita, sekaligus<br />
rapuhnya fondasi spiritual<br />
kita. Sebaliknya, jika roh dan<br />
spiritualitas kita tangguh,<br />
maka apalah artinya<br />
segumpal daging bernama<br />
vagina dan penis itu. Apalah<br />
bedanya vagina dan penis<br />
itu dengan kuping, ketiak,<br />
hidung, tangan, dan organ<br />
tubuh yang lain. Agama<br />
semestinya<br />
” mengakomodasi” bukan<br />
”mengeksekusi” fakta<br />
keberagaman ekspresi<br />
seksualitas masyarakat.<br />
Ingatlah bahwa dosa bukan<br />
karena ”daging yang kotor”,<br />
tetapi lantaran otak dan ruh<br />
kita yang penuh noda. Paul<br />
Evdokimov dalam The<br />
Struggle with God telah<br />
menuturkan kata-kata yang<br />
indah dan menarik: ”Sin<br />
never comes from below;<br />
from the flesh, but from<br />
above, from the spirit. The<br />
first fall occurred in the<br />
world of angels pure<br />
spirit …”<br />
Bahkan lebih jauh, ide<br />
tentang dosa sebetulnya<br />
adalah hal-hal yang terkait<br />
dengan sosial-kemanusiaan,<br />
bukan ritual-ketuhanan.<br />
Dalam konteks ini maka<br />
hubungan seks baru<br />
dikatakan “berdosa” jika<br />
dilakukan dengan<br />
pemaksaan dan menyakiti<br />
(baik fisik atau non-fisik)<br />
atas pasangan kita. Seks<br />
jenis inilah yang kemudian<br />
disebut “pemerkosaan”.<br />
Kata ini tidak hanya<br />
mengacu pada hubungan<br />
seks di luar rumah tangga,<br />
tetapi juga di dalam rumah<br />
tangga itu sendiri.<br />
Seseorang (baik laki-laki<br />
maupun perempuan)<br />
dikatakan<br />
“ memperkosa” (baik dalam<br />
rumah tangga yang sudah<br />
diikat oleh akad-nikah<br />
maupun bukan) jika ia<br />
ketika melakukan perbuatan<br />
seks ada pihak yang<br />
tertekan, tertindas (karena<br />
mungkin diintimidasi)<br />
sehingga menimbulkan<br />
perasaan tidak nyaman.<br />
Inilah tafsir pemerkosaan.<br />
Dalam konteks ini pula saya<br />
menolak sejumlah teks<br />
keislaman (apapun<br />
bentuknya) yang berisi<br />
kutukan dan laknat Tuhan<br />
kepada perempuan/istri jika<br />
tidak mau melayani birahi<br />
seks suami. Sungguh teks<br />
demikian bukan hanya bias<br />
gender tetapi sangat tidak<br />
demokratis, dan karena itu<br />
berlawanan dengan spirit<br />
keislaman dan nilai-nilai<br />
universal Islam.<br />
Lalu bagaimana hukum<br />
hubungan seks yang<br />
dilakukan atas dasar suka<br />
sama suka, “demokratis”,<br />
tidak ada pihak yang<br />
“ disubordinasi” dan<br />
“diintimidasi”? Atau<br />
bagaimana hukum orang<br />
yang melakukan hubungan<br />
seks dengan pelacur (maaf<br />
kalau kata ini kurang sopan),<br />
dengan escort lady, call girl,<br />
dan sejenisnya? Atau<br />
hukum seorang perempuan,<br />
tante-tante, janda-janda,<br />
atau wanita kesepian yang<br />
menyewa seorang gigolo<br />
untuk melampiaskan nafsu<br />
seks? Jika seorang dosen<br />
atau penulis boleh “menjual”<br />
otaknya untuk<br />
mendapatkan honor, atau<br />
seorang dai atau<br />
pengkhotbah yang<br />
“ menjual” mulut untuk<br />
mencari nafkah, atau<br />
penyanyi dangdut yang<br />
“ menjual” pantat dan<br />
pinggul untuk mendapatkan<br />
uang, atau seorang penjahit<br />
atau pengrajin yang<br />
“ menjual” tangan untuk<br />
menghidupi keluarga,<br />
apakah tidak boleh seorang<br />
laki-laki atau perempuan<br />
yang “menjual” alat<br />
kelaminnya untuk<br />
menghidupi anak-istri/<br />
suami mereka?<br />
Ada sebuah kisah dalam<br />
sejarah keislaman yang<br />
layak kita jadikan bahan<br />
renungan: ada seorang<br />
pelacur kawakan yang<br />
sudah letih mencari<br />
pengampunan, kemudian<br />
menyusuri padang pasir<br />
yang tandus. Ia hanya<br />
berbekal sebotol air dan<br />
sepotong roti. Tapi di<br />
tengah perjalanan ia melihat<br />
seekor anjing yang sedang<br />
kelaparan dan kehausan.<br />
Karena perasaan iba pada<br />
anjing tadi, si pelacur<br />
kemudian memberikan air<br />
dan roti itu padanya. Berita<br />
ini sampai kepada Nabi<br />
Muhammad yang mulia.<br />
Dengan bijak beliau<br />
mengatakan bahwa si<br />
pelacur tadi kelak akan<br />
masuk surga!<br />
Kisah ini menunjukkan<br />
bahwa Islam lebih<br />
mementingkan rasa sosial-<br />
kemanusiaan ketimbang<br />
urusan<br />
perkelaminan …” (***)<br />
Demikianlah gagasan “Islam-<br />
progresif” dalam soal kebebasan<br />
seksual yang diungkapkan<br />
Sumanto. Memang, sekarang,<br />
istilah “Islam progresif” sedang<br />
digandrungi kalangan perguruan<br />
tinggi Islam. Pada Juli 2009, di<br />
UIN Jakarta diadakan Konferensi<br />
&#039;Debating Progressive Islam: A<br />
Global Perspective&#039;. Tentu<br />
banyak tafsir dan penjelasan<br />
tentang makna “Islam<br />
Progresif”. Salah satunya adalah<br />
versi Sumanto.<br />
Islam progresif biasanya<br />
dimaksudkan sebagai “Islam<br />
yang maju”, sesuai dengan asal<br />
kata dalam bahasa Latin<br />
“ progredior”. Sebagaimana<br />
banyak pemikir yang mengaku<br />
progresif, mereka menempatkan<br />
Islam sebagai “evolving<br />
religion”, yakni agama yang<br />
selalu berkembang mengikuti<br />
zaman. Dalam perspektif ini,<br />
Islam juga dipandang sebagai<br />
agama budaya. Karena itulah,<br />
tidak mengherankan, jika<br />
mereka memandang tidak ada<br />
satu ajaran Islam yang bersifat<br />
tetap. Semua harus tunduk<br />
dengan realitas zaman. Agama<br />
ditundukkan oleh akal. Salah satu<br />
yang banyak dijadikan dasar<br />
pijakan adalah aspek<br />
“kemaslahatan” dan sifat Islam<br />
sebagai “rahmatan lil-alamin”.<br />
Dengan alasan inilah, berbagai<br />
kemunkaran dan kejahatan bisa<br />
disahkan. Tentang keabsahan<br />
praktik homoseksual, misalnya,<br />
ditulis dalam buku ini:<br />
“Agama, apalagi Islam, yang<br />
mengusung jargon<br />
“ rahmatan lil alamin” --<br />
rahmat bagi sekalian alam<br />
ini-- harus memberi ruang<br />
kepada umat gay, lesbi, atau<br />
waria untuk diposisikan<br />
secara equal dengan lainnya.<br />
Tuhan, saya yakin tidak<br />
hanya milik laki-laki dan<br />
perempuan saja, tetapi juga<br />
“ mereka” yang<br />
terpinggirkan di lorong-<br />
lorong sepi<br />
kebudayaan. ” (hal. 176).<br />
Karena berpijak pada realitas<br />
dan sejarah sebagai penentu<br />
kebenaran -- juga syahwat atau<br />
hawa nafsu – maka teks-teks<br />
wahyu, sunnah Rasulullah saw,<br />
dan tafsir wahyu yang<br />
otoritatif dikesampingkan. Cara<br />
berpikir seperti ini juga sangat<br />
paradoks. Dengan berdalih sikap<br />
kritis kepada tafsir Al-Quran dari<br />
para ulama yang otoritatif,<br />
banyak kaum yang mengaku<br />
liberal dan progresif pada<br />
akhirnya tidak mampu bersikap<br />
kritis sama sekali pada sejumlah<br />
ilmuwan Barat. Mereka sangat<br />
ta’dzim dalam mengutip<br />
pendapat-pendapat ilmuwan<br />
non-Muslim. Ketika<br />
menyimpulkan bahwa dosa<br />
bukan karena ”daging yang<br />
kotor” tetapi lantaran otak dan<br />
ruh yang penuh noda, dikutiplah<br />
pendapat Paul Evdokimov<br />
dengan penuh hormat dan<br />
takjub, bahwa si Evdokimov<br />
“ telah menuturkan kata-kata<br />
yang indah dan menarik.”<br />
Kita sudah sering membuktikan,<br />
sikap sok kritis yang diusung<br />
oleh kaum yang menamakan diri<br />
liberal dan progresif ini biasanya<br />
hanya kritis terdapat pendapat<br />
para ulama yang dianggapnya<br />
tidak sesuai dengan hawa<br />
nafsunya. Dan Allah sudah<br />
mengingatkan dalam Al-Quran<br />
bahwa, jika seorang manusia<br />
sudah menjadikan hawa<br />
nafsunya sebagai Tuhannya,<br />
maka akan tertutuplah hati,<br />
telinga dan matanya untuk<br />
menerima kebenaran. (QS 45:23).<br />
Orang bisa memiliki kepandaian<br />
yang tinggi, tetapi ilmunya tidak<br />
bermanfaat, bahkan bisa<br />
merusak.<br />
Karena itulah, untuk menjaga<br />
agar ilmu tidak merusak, para<br />
ulama selalu menekankan<br />
pentingnya masalah adab dalam<br />
urusan keilmuan. Dalam kitabnya<br />
yang berjudul Adabul ‘Alim wal-<br />
Muta’allim, pendiri NU, Kyai Haji<br />
Hasyim Asy’ari mengutip<br />
pendapat Ibn al-Mubarak yang<br />
menyatakan: “Nahnu iaa qalilin<br />
minal adabi ahwaja minnaa ilaa<br />
katsirin mina ’ilmi.” (Kami lebih<br />
membutuhkan adab, meskipun<br />
sedikit, daripada banyaknya ilmu<br />
pengetahuan).<br />
Demikian pendapat KH Hasyim<br />
Asy ’ari. Orang yang beradab<br />
tahu meletakkan dirinya sendiri<br />
di hadapan Allah, Rasulullah saw,<br />
para ulama pewaris Nabi, dan<br />
juga tahu bagaimana<br />
menempatkan ilmu. Karena<br />
itulah, Al-Quran menekankan<br />
pentingnya ada klasifikasi<br />
sumber informasi di antara<br />
manusia. Jika sumber informasi<br />
berasal dari orang fasiq (orang<br />
jahat, seperti pelaku dosa besar),<br />
maka jangan dipercaya begitu<br />
saja ucapannya. Ada unsur<br />
akhlak yang harus dimasukkan<br />
dalam menilai kriteria sumber<br />
informasi yang patut dipercaya.<br />
(QS 49:6). Seorang yang tidak<br />
beradab (biadab) dalam<br />
keilmuan sudah tidak dapat lagi<br />
membedakan mana sumber ilmu<br />
yang shahih dan mana yang<br />
bathil.<br />
Soal zina, misalnya. Sebagai<br />
Muslim, tentu kita yakin benar<br />
bahwa zina itu tindakan haram<br />
dan biadab. Keyakinan itu<br />
berdasarkan kepada penjelasan<br />
yang sangat tegas dalam ayat-<br />
ayat Al-Quran, banyak hadits<br />
Rasulullah saw, pendapat para<br />
sahabat Nabi, dan para ulama<br />
Islam terkemuka. Dalam soal zina<br />
ini, kita lebih percaya kepada<br />
pendapat para ulama ketimbang<br />
pendapat Karl Marx, Paul<br />
Evdokimov, Bill Clinton, atau<br />
Ernest Hemingway. Sebagai<br />
manusia beradab kita bisa<br />
membedakan, mana sumber<br />
informasi yang layak dipakai<br />
dan mana yang tidak. Sebab,<br />
Allah sendiri membedakan jenis-<br />
jenis manusia. Orang mukmin<br />
disebut “khairul barriyyah”<br />
(sebaik-baik makhluk) dan orang<br />
kafir disebut “syarrul<br />
barriyyah” (sejelek-jeleknya<br />
makhluk) (QS 9<img src="http://www.mywapblog.com/images/emoticons/icon_cool.gif" alt="cool" />. Meskipun<br />
sering mengkampanyekan<br />
“ kesetaraan semua pemeluk<br />
agama”, tetapi faktanya, kaum<br />
yang menamakan diri mereka<br />
sebagai pengikut “Islam liberal”,<br />
“Islam pluralis” atau “Islam<br />
progresif” juga tetap<br />
menggunakan identitas Islam.<br />
Tidak ada yang mau menyebut<br />
dirinya “kafir-liberal” atau<br />
“kafir-progresif”.<br />
Sebenarnya, jika kita menelaah<br />
pemikiran liberal, dukungan<br />
terhadap praktik seks bebas<br />
bukanlah hal yang aneh. Ini<br />
adalah akibat logis dari sebuah<br />
konsep dekonstruksi aqidah dan<br />
dekonstruksi kitab suci. Jika<br />
seorang sudah tidak percaya<br />
bahwa Allah adalah satu-<br />
satunya Tuhan dan Nabi<br />
Muhammad saw adalah<br />
utusannya, kemudian dia pun<br />
tidak percaya kepada otoritas<br />
ulama-ulama Islam yang<br />
mu ’tabarah – seperti Imam al-<br />
Syafii – maka yang dia jadikan<br />
sebagai standar pengukur<br />
kebenaran adalah akalnya<br />
sendiri atau hawa nafsunya<br />
sendiri. Kita paham, masyarakat<br />
Barat saat ini tidak memandang<br />
praktik seks bebas sebagai suatu<br />
kejahatan. Homoseksual juga<br />
dipandang sebagai hal yang<br />
normal. Sebaliknya, bagi mereka,<br />
praktik poligami dikutuk.<br />
Nilai-nilai masyarakat Barat yang<br />
sekular – tidak berpijak pada<br />
ajaran agama -- inilah yang<br />
sejatinya dianut juga oleh kaum<br />
yang mengaku liberal atau<br />
progresif ini. Bagi mereka,<br />
seperti tergambar dalam<br />
pendapat Sumanto ini, urusan<br />
seks dipandang sekedar urusan<br />
syahwat biologis semata,<br />
sebagaimana layaknya praktik<br />
seksual para babi, kambing,<br />
monyet, ayam, dan<br />
sebagaimana. Seks dianggap<br />
seperti soal buang hajat besar<br />
atau kecil, kapan mereka mau,<br />
maka mereka akan salurkan<br />
begitu saja. Yang penting ada<br />
kerelaan; suka sama suka. Tapi,<br />
bagi kita yang Muslim, dan juga<br />
pemeluk agama lain, jelas soal<br />
seksual dipandang sebagai hal<br />
yang sakral. Karena itulah,<br />
agama-agama yang hidup di<br />
Indonesia, sangat menghormati<br />
lembaga perkawinan.<br />
Dalam pandangan Islam, jelas<br />
ada perbedaan nilai dan posisi<br />
antara penis dengan pipi,<br />
meskipun keduanya sama-sama<br />
daging. Bagi seorang Muslim,<br />
yang menjadikan “penis” dan<br />
“pipi” berbeda adalah nilai-nilai<br />
yang diajarkan oleh Islam.<br />
Sebelum zaman Islam, banyak<br />
suku bangsa yang masih<br />
memandang sama kedudukan<br />
daging wanita dengan daging<br />
kambing, sehingga mereka<br />
menjadikan ritual korban<br />
dengan menyembelih wanita<br />
dan kemudian meminum<br />
darahnya. Seorang Muslim<br />
memandang penting perbedaan<br />
antara “daging manusia”<br />
dengan “daging ayam”. Daging<br />
ayam halal hukumnya untuk<br />
dimakan. Jenazah manusia harus<br />
dihormati. Jangankan dimakan<br />
dagingnya, jenazah manusia<br />
harus dihormati dan<br />
diperlakukan dengan baik.<br />
Jika kaum liberal melakukan<br />
dekonstruksi dalam aqidah dan<br />
nilai-nilai moral, maka akibatnya,<br />
pornografi atau seks bebas pun<br />
kemudian didukung. Sebab,<br />
dalam pikiran liberal, tidak ada<br />
aturan yang pasti, mana bagian<br />
tubuh yang boleh dibuka dan<br />
mana yang harus ditutup. Yang<br />
menjadi standar baik buruk<br />
adalah ”kepantasan umum”.<br />
Kalau memang bertelanjang atau<br />
beradegan porno sesuai dengan<br />
tuntutan skenario dan dilakukan<br />
” pada tempatnya”, maka itu<br />
dianggap sebagai hal yang baik.<br />
Kepastian akan kebenaran dan<br />
nilai itulah yang membedakan<br />
antara Muslim dengan kaum<br />
liberal. Orang Muslim yakin<br />
dengan kebenaran imannya, dan<br />
yakin ada kepastian dalam soal<br />
halal dan haram. Hukum tentang<br />
haramnya babi sudah jelas dan<br />
tetap haram sampai kiamat.<br />
Begitu juga dengan haramnya<br />
zina, dan haramnya perkawinan<br />
sesama jenis (homo dan lesbi).<br />
Tapi, dalam perspektif liberal dan<br />
progresif, seperti dipaparkan<br />
oleh buku ini, larangan agama<br />
terhadap perkawinan sesama<br />
jenis ini pun dianggapnya sudah<br />
tidak berlaku. Tentang perlunya<br />
legalisasi perkawinan sesama<br />
jenis, ditulis dalam buku ini:<br />
”Dan harap diingat, konsep<br />
perkawinan dalam suatu<br />
ikatan ”sakral” bukan melulu<br />
untuk mereproduksi<br />
keturunan melainkan juga<br />
untuk mewujudkan<br />
keluarga sakinah<br />
(ketenteraman/<br />
kebahagiaan). Maka, dalam<br />
bingkai untuk mewujudkan<br />
keluarga sakinah ini seorang<br />
gay atau lesbian harus<br />
menikahi sesama jenis.<br />
Justru melapetaka yang<br />
terjadi jika kaum gay-lesbian<br />
dipaksa kawin dengan lain<br />
jenis. Untuk mewujudkan<br />
gagasan perkawinan sejenis<br />
ini, maka paling tidak ada<br />
dua hal yang harus<br />
ditempuh: pembongkaran di<br />
tingkat wacana keagamaan,<br />
yakni teks-teks skriptural<br />
(dalam konteks Islam: teks<br />
tafsir dan fiqih khususnya)<br />
yang masih terkesan<br />
diskriminatif dan kemudian<br />
pembongkaran di tingkat<br />
struktur normatif<br />
masyarakat yang masih bias<br />
dalam memandang pola<br />
relasi antar-<br />
manusia. ” (halaman 175).<br />
Berulangkali kita menyerukan<br />
kepada kaum yang mengaku<br />
liberal, progresif dan sejenisnya,<br />
agar mengimbangi sikap kritis<br />
dengan adab. Ada adab kepada<br />
Al-Quran, adab kepada para Nabi,<br />
adab kepada ulama pewaris<br />
Nabi. Sayangnya, buku yang<br />
memuat pendapat yang<br />
merusak – seperti dukungan<br />
terhadap praktik seks bebas ini<br />
-- justru dipuji-puji dan<br />
didukung oleh orang yang<br />
seharusnya justru bersikap kritis<br />
dan mendidik masyarakat<br />
dengan akhlak yang mulia.<br />
Di sampul buku bagian belakang,<br />
dicantumkan sejumlah pujian.<br />
Djohan Effendi, pendiri<br />
Indonesian Conference on<br />
Religion and Peace (ICRP),<br />
menyebut buku ini: “sangat<br />
inspiratif untuk melakukan<br />
refleksi atas perjalanan umat<br />
Islam selama ini. Pendapatan dan<br />
sikap kritis yang ia lakukan<br />
merupakan sumbangan yang<br />
sangat berarti untuk mendorong<br />
pemikiran progresif di kalangan<br />
generasi baru umat Islam yang<br />
menginginkan kemajuan<br />
bersama dengan orang dan<br />
umat lain. ”<br />
Di tengah upaya kita mendidik<br />
anak-anak kita dengan akhlak<br />
mulia dan menjauhkan mereka<br />
dari praktik pergaulan bebas,<br />
kita tentu patut berduka dengan<br />
sikap sebagian kalangan yang<br />
mengusung jargon “Islam<br />
progresif” tetapi justru<br />
memberikan dukungan terhadap<br />
praktik seks bebas semacam ini.<br />
Bagi kita, ini suatu ujian iman.<br />
Kita tidak bertanggung jawab<br />
atas amal mereka. Mudah-<br />
mudahan, dengan bimbingan<br />
dan lindungan Allah SWT, kita<br />
selamat dalam meniti kehidupan<br />
dan mengakhiri hidup kita<br />
dengan husnul khatimah. Amin.<br />
[Solo, 22 Muharram 1431 H/8<br />
Januari 2010/<br />
<a href="http://www.hidayatullah.com/">www.hidayatullah.com</a>]<br />
Ilustrasi: Otto Pilny/Fine Art<br />
Photographic Library/Corbis<br />
Catatan Akhir Pekan<br />
[CAP] adalah hasil<br />
kerjasama antara<br />
Radio Dakta 107<br />
FM dan]]></description>
</item>
<item>
<title>&quot;Natal Bersama dan Misi Kristen&quot;</title>
<link>http://lucky.mywapblog.com/post/167.xhtml</link>
<pubDate>Sun, 03 Jan 2010 08:18:00 -0600</pubDate>
<description><![CDATA[Para misionaris, seperti van Lith,<br />
berkeinginan memisahkan orang<br />
Jawa dengan Islam. Baca Catatan<br />
Akhir Pekan [CAP] Adian Husaini<br />
ke-275<br />
Oleh: Dr. Adian Husaini<br />
Pada 27 Desember 2009, saya<br />
sempat menonton acara<br />
Perayaan Natal Bersama melalui<br />
TVRI. Acara itu seperti sudah<br />
dianggap sebagai ritual tahunan<br />
kenegaraan. Biasanya pejabat<br />
tinggi banyak yang diundang.<br />
Malam itu, Presiden SBY juga<br />
datang. Ada juga Wapres<br />
Boediono, dan sejumlah pejabat<br />
tinggi negara lainnya. Menyimak<br />
rangkaian acaranya, Perayaan<br />
Natal Bersama itu jelas sebagai<br />
suatu bentuk Proklamasi agama<br />
Kristen dan realisasi konsep Misi<br />
Kristen di Indonesia.<br />
Pesan utama yang ingin<br />
disampaikan melalui acara<br />
tersebut sangat jelas bahwa<br />
Jesus, Putra Tuhan, sang Juru<br />
Selamat sudah tiba untuk<br />
menebus dosa manusia.<br />
Berbagai lagu dan sendratari<br />
yang ditampilkan membawa<br />
pesan tersebut. Disamping lagu<br />
dan tari, ada pesan Natal dan<br />
juga Doa Syafaat dibawakan<br />
oleh pejabat KWI (Katolik) dan<br />
PGI (Protestan).<br />
Menarik jika kita amati wajah<br />
Pak SBY dan pejabat muslim<br />
lainnya yang hadir acara itu. Kita<br />
juga mencoba menebak-nebak,<br />
apa kira-kira perasaan Pak SBY<br />
dan orang Muslim di situ, ketika<br />
mendengar lagu-lagu dan seruan<br />
tentang kedatangan Jesus<br />
sebagai anak Allah dan Juru<br />
Selamat. Kita berprasangka baik,<br />
dan menduga-duga, hati Pak SBY<br />
yang Muslim itu pasti berkata:<br />
&quot; Ini tidakbenar! Sebab, saya<br />
Muslim. Saya yakin benar, bahwa<br />
Nabi Isa tidak mati di tiang salib.<br />
Saya yakin, Nabi Isa adalah<br />
utusan Allah, rasul Allah; bukan<br />
Tuhan atau anak Tuhan. &quot;<br />
Pak SBY yang punya sebuah<br />
Majlis Zikir tentu sudah pernah<br />
mendengar ayat Al-Quran: &quot;Dan<br />
ingatlah ketika Isa Ibn Maryam<br />
berkata, wahai Bani Israil<br />
sesungguhnya aku adalah<br />
utusan Allah kepada kalian, yang<br />
membenarkan apa yang ada<br />
padaku, yaitu Taurat, dan<br />
menyampaikan kabar gembira<br />
akan datangnya seorang Rasul<br />
yang bernama Ahmad<br />
(Muhammad). &quot; (Terjemah QS as-<br />
Shaff: 6).<br />
Ada juga ayat Al-Quran yang<br />
menyatakan: &quot;Dan mereka<br />
mengatakan, (Allah) Yang Maha<br />
Pemurah itu punya anak.<br />
Sungguh (kalian yang<br />
menyatakan bahwa Allah punya<br />
anak), telah melakukan tindakan<br />
yang sangat mungkar. Hampir-<br />
hampir langit pecah gara-gara<br />
ucapan itu dan bumi terbelah<br />
dan gunung-gunung runtuh,<br />
karena mereka menuduh Allah<br />
Yang Maha Pemurah punya<br />
anak. &quot; (Terjemah QS Maryam:<br />
88-91).<br />
Sebagai Muslim, Pak SBY tentu<br />
paham benar ayat-ayat Al-Quran<br />
tersebut. Dalam Perayaan Natal<br />
Bersama itu, orang-orang Muslim<br />
&quot; dipaksa&quot; mendengar cerita-<br />
cerita tentang Jesus yang<br />
bertentangan dengan keimanan<br />
mereka. Kata beberapa orang,<br />
praktik-praktik pencampuran<br />
Perayaan Hari Raya Agama<br />
seperti itu perlu dilakukan demi<br />
tujuan mulia, yaitu untuk<br />
membina Kerukunan Umat<br />
Beragama. Malah, ada yang<br />
berpendapat, agar MUI<br />
mencabut fatwa tentang Haram-<br />
nya seorang Muslim merayakan<br />
Natal Bersama. Sebagai Muslim,<br />
dan juga sebagai Presiden, Pak<br />
SBY ketika itu &quot;harus&quot; duduk<br />
mendengarkan semua cerita<br />
tentang Jesus, yang sudah pasti<br />
tidak diyakininya. Pada kondisi<br />
seperti itulah, Pak SBY juga<br />
terpaksa tidak menyatakan<br />
secara terbuka, bahwa dia<br />
mempunyai kepercayaan dan<br />
keimanan yang berbeda dengan<br />
kaum Nasrani.<br />
Sebenarnya, jika kita berpikir<br />
jernih, praktik-praktik semacam<br />
ini seharusnya dihentikan.<br />
Membangun kerukunan umat<br />
beragama tidak perlu dilakukan<br />
dengan cara-cara yang dapat<br />
menyuburkan kemunafikan<br />
seperti itu. Rasulullah saw, para<br />
sahabat, dan para ulama Islam -<br />
yang sejati - tidak pernah<br />
mengajarkan tindakan seperti<br />
itu. Untuk membangun<br />
kerukunan umat beragama,<br />
banyak cara lain yang bisa<br />
dilakukan. Sebenarnya, jika kaum<br />
Nasrani merayakan hari raya<br />
mereka, di kalangan mereka<br />
sendiri, itu juga tidak ada<br />
masalah dan tidak perlu<br />
mengundang kontroversi.<br />
Berita tentang ke-Tuhanan Jesus<br />
tentu tidak mudah ditelan<br />
begitu saja oleh kaum Muslim.<br />
Sebab, Islam memiliki kitab suci<br />
Al-Quran yang dengan sangat<br />
gamblang menjelaskan<br />
kesalahan kepercayaan kaum<br />
Kristen tersebut. Al-Quran<br />
menyatakan, bahwa berita<br />
tentang penyaliban Jesus (Nabi<br />
Isa) adalah bohong belaka.<br />
Penyaliban Jesus, dalam<br />
pandangan Islam, tidak memiliki<br />
dasar yang kuat. &quot;Dan untuk<br />
memperingatkan kepada orang-<br />
orang yang berkata: &quot;Allah<br />
mengambil seorang anak.<br />
Mereka sekali-kali tidak<br />
mempunyai pengetahuan<br />
tentang hal itu. Begitu pula<br />
nenek moyang mereka.<br />
Alangkah jeleknya kata-kata<br />
yang keluar dari mulut mereka;<br />
mereka tidak mengatakan<br />
(sesuatu) kecuali<br />
dusta. &quot; (Terjemah QS al-Kahfi:<br />
4-5).<br />
Ayat-ayat dalam kitab suci yang<br />
secara tegas membantah klaim-<br />
klaim kaum Kristen tentang<br />
ketuhanan Jesus seperti ini<br />
hanya dijumpai dalam Al-Quran.<br />
Ayat semacam itu tidak kita<br />
dijumpai pada Kitab Veda<br />
(Hindu), Tripitaka (Budha), atau<br />
Su Si (Konghucu). Karena itu,<br />
wajar, selama seorang mengaku<br />
dan meyakini keimanan Islam-<br />
nya, hatinya akan dengan tegas<br />
menolak semua pernyataan<br />
yang tidak benar tentang Nabi<br />
Isa. Kaum Ahlul Kitab yang<br />
hatinya ikhlas dalam menerima<br />
kebenaran pasti akan mengakui<br />
kenabian Muhammad saw dan<br />
kebenaran Al-Quran (QS 3:199).<br />
Keyakinan kaum Muslim tentang<br />
Nabi Isa seperti itu seharusnya<br />
dihormati oleh kaum Kristen.<br />
Sehingga, tidaklah etis jika<br />
&quot;memaksa&quot; seorang Muslim<br />
yang berpegang kepada iman<br />
Islam-nya untuk duduk<br />
mendengar cerita tentang Yesus<br />
dalam versi Kristen yang sama<br />
sekali berbeda versinya dengan<br />
cerita tentang Nabi Isa dalam<br />
versi Islam. Inilah sebenarnya<br />
hakekat saling hormat-<br />
menghormati antar pemeluk<br />
agama. Mereka bisa bekerjasama<br />
satu sama lain, dalam berbagai<br />
hal. Tetapi, bukan membiasakan<br />
diri bersikap &quot;pura-pura&quot; dalam<br />
soal keimanan. Sikap saling<br />
menghormati bisa ditumbuhkan<br />
dengan tetap berpegang kepada<br />
keimanan masing-masing.<br />
Islam juga menghormati sikap<br />
pemimpin Katolik Paus Yohanes<br />
Paulus II, ketika menyatakan,<br />
bahwa Islam, bahwa Islam<br />
bukanlah agama penyelamatan:<br />
&quot; Islam is not a religion of<br />
redemption.&quot; Paus juga<br />
menyatakan, dalam Islam tidak<br />
ada ruang bagi Salib dan<br />
Kebangkitah Yesus. Yesus<br />
memang disebutkan, tetapi, kata<br />
Paus, dia hanya sekedar seorang<br />
Nabi, yang menyiapkan<br />
kedatangan Nabi terakhir, yaitu<br />
Muhammad. Karena itulah, Paus<br />
berkesimpulan: &quot;For this reason,<br />
not only the theology but also<br />
the anthropology of Islam is<br />
very distant from Christianity.&quot;<br />
Jadi,menurut Paus, secara<br />
teologis dan antropologis, ada<br />
perbedaan yang mendasar<br />
antara Islam dan Kristen. (Lihat,<br />
John Cornwell, The Pope in<br />
Winter: The Dark Face of John<br />
Paul II&#039;s Papacy, (London:<br />
Penguin Books Ltd., 2005).<br />
Ada lagi yang sering tidak<br />
dipahami oleh pemeluk agama<br />
selain Islam atau bahkan<br />
kalangan Muslim sendiri. Yaitu,<br />
bahwasanya Islam adalah agama<br />
wahyu yang memiliki uswah<br />
hasanah (contoh teladan).<br />
Sebagai agama wahyu (agama<br />
langit), Islam mendasarkan<br />
keyakinan dan semua praktik<br />
ritualnya berdasarkan wahyu<br />
dan contoh dari Nabi<br />
Muhammad saw. Karena itu,<br />
hanya orang Muslim yang kini<br />
memiliki bentuk ibadah yang<br />
satu. Orang Muslim membaca al-<br />
Fatihah yang sama dalam shalat;<br />
ruku&#039; dengan cara yang sana;<br />
sujud dengan cara yang sama,<br />
dan salam dengan cara yang<br />
sama pula. Semua itu ada contoh<br />
dari Nabi Muhammad saw.<br />
Bahkan, kaum Muslim berdebat<br />
tentang hal-hal yang &quot;kecil&quot;<br />
dalam ibadah shalat, seperti<br />
apakah dalam tahiyat, jari<br />
telunjuk digerakkan atau tidak.<br />
Sebab, memang ada riwayat<br />
yang berbeda dari Rasulullah<br />
saw tentang hal itu. Yang jelas,<br />
semua Muslim ingin mencontoh<br />
Sang Nabi sampai hal-hal yang<br />
&quot; kecil&quot; seperti itu diperdebatkan.<br />
Tapi, semua orang Muslim, saat<br />
melaksanakan tahiyat dalam<br />
shalat, pasti mengeluarkan jari<br />
telunjuk, bukan jari jempol atau<br />
jari kelingking.<br />
Karena kuatnya berpegang pada<br />
keteladanan Nabi Muhammad<br />
saw dalam ibadah itulah, maka -<br />
misalnya -- orang Islam tidak<br />
mudah untuk diajak mengganti<br />
salam Islam dengan salam<br />
lainnya. Karena salam resmi<br />
orang Islam, sesuai ajaran Nabi<br />
saw adalah: Assalaamu &#039;alaikum<br />
warahmatullaahi<br />
wabarakaatuh. &quot; Ucapan salam<br />
seperti ini berdasarkan contoh<br />
dari Nabi Muhammad, bukan<br />
berasal dari budaya atau hasil<br />
Kongres umat Islam pada saat<br />
tertentu. Di mana pun, kapan<br />
pun, umat Islam akan<br />
mengucapkan salam seperti itu.<br />
Apa pun suku dan bangsanya.<br />
Upaya untuk &quot;pribumisasi&quot;<br />
salam Islam dan menggantinya<br />
dengan &quot;Selamat pagi&quot; dan<br />
sejenisnya, telah gagal dilakukan.<br />
Dulu, semasa menjabat sebagai<br />
Menteri P&amp;K (1978-1982), Dr.<br />
Daoed Joesoef menolak<br />
mengucapkan salam Islam,<br />
dengan alasan, ia bukan hanya<br />
menterinya orang Islam.<br />
Sekarang, cara berpikir Daoed<br />
Joesoef itu sudah out of date,<br />
sudah ketinggalan zaman. Kini,<br />
Presiden SBY pun sangat fasih<br />
dalam mengucapkan salam.<br />
Bahkan, biasanya ia mendahului<br />
dengan ucapan basmalah.<br />
Sekarang sudah banyak tokoh<br />
non-Muslim yang dengan lancar<br />
mengucapkan salam Islam. Saya<br />
pernah bertanya kepada<br />
seorang tokoh non-Muslim,<br />
apakah dia boleh mengucapkan<br />
salam Islam, seperti yang baru<br />
saja dia ucapkan. Dia menjawab:<br />
Boleh!<br />
Kondisi seperti itu berbeda<br />
dengan umat Islam. Untuk<br />
urusan salam saja, Rasulullah<br />
saw memberikan contoh dan<br />
panduan yang sangat rinci.<br />
Bagaimana seharusnya seorang<br />
Muslim memberikan salam<br />
kepada sesama Muslim,<br />
bagaimana menjawab salam dari<br />
non-Muslim, dan sebagainya.<br />
Umat Islam secara ikhlas<br />
berusaha mengikuti apa yang<br />
diajarkan oleh Rasulullah saw<br />
tersebut. Sifat dan posisi ajaran<br />
Islam seperti ini seyogyanya<br />
dipahami. Termasuk dalam soal<br />
perayaan Hari Besar Agama.<br />
Panduan dalam soal ini juga<br />
sangat jelas. Karena itu, jika<br />
umat Islam menolak untuk<br />
mengikuti Perayaan Hari Besar<br />
agama lain, itu pun harusnya<br />
dipahami dan tidak dicap<br />
sebagai bentuk rasa<br />
permusuhan dengan agama lain.<br />
Pemahaman akan sifat dan<br />
karakter masing-masing agama<br />
itu perlu dipahami oleh masing-<br />
masing tokoh agama, agar tidak<br />
memaksakan pemahamannya<br />
kepada orang lain.<br />
Budaya dan Misi<br />
Aspek lain yang menonjol dalam<br />
Peraayaan Natal Bersama 27<br />
Desember 2009 adalah upaya<br />
kaum Kristen untuk<br />
menampilkan citra adanya<br />
penyatuan Kristen dengan<br />
budaya Indonesia. Para penari<br />
mengenakan pakaian adat dari<br />
berbagai daerah. Citra<br />
penyatuan Kristen dengan adat<br />
istiadat di Indonesia sudah lama<br />
diusahakan oleh para misionaris<br />
di Indonesia. Strategi budaya<br />
dijalankan agar misi Kristen lebih<br />
mudah diterima oleh rakyat<br />
Indonesia, dan agar citra Kristen<br />
sebagai agama penjajah dapat<br />
hilang di mata rakyat.<br />
Penyebaran agama Kristen<br />
dengan strategi budaya Jawa<br />
pada dekade pertama abad XX,<br />
misalnya, terutama ditempuh<br />
oleh kalangan Yesuit dan juga<br />
misi Katolik pada umumnya. Misi<br />
Kristen ingin menggusur atau<br />
memisahkan citra penyatuan<br />
Islam dengan Jawa. Tokoh<br />
misionaris Katolik, misalnya,<br />
telah lama berusaha menggusur<br />
dominasi bahasa Melayu dan<br />
menggantinya dengan bahasa<br />
Jawa. Di sekolah Katolik di<br />
Muntilan, misalnya, penggunaan<br />
bahasa Melayu dihindari sejauh<br />
mungkin. Sebab, bahasa Melayu<br />
identik dengan bahasa kaum<br />
Muslim. Penggunaan bahasa<br />
Melayu dikhawatirkan akan<br />
menyiratkan dukungan<br />
terhadap agama Islam.<br />
J.D. Wolterbeek dalam bukunya,<br />
Babad Zending di Pulau Jawa,<br />
mengatakan: &quot;Bahasa Melayu<br />
yang erat hubungannya dengan<br />
Islam merupakan suatu bahaya<br />
besar untuk orang Kristen Jawa<br />
yang mencintai Tuhannya dan<br />
juga bangsanya. &quot;<br />
Senada dengan ini, tokoh Yesuit<br />
Frans van Lith (m. 1926)<br />
menyatakan: &quot;Dua bahasa di<br />
sekolah-sekolah dasar (yaitu<br />
bahasa Jawa dan Belanda)<br />
adalah batasannya. Bahasa<br />
ketiga hanya mungkin bila<br />
kedua bahasa yang lain<br />
dianggap tidak memadai. Melayu<br />
tidak pernah bisa menjadi<br />
bahasa dasar untuk budaya<br />
Jawa di sekolah-sekolah, tetapi<br />
hanya berfungsi sebagai parasit.<br />
Bahasa Jawa harus menjadi<br />
bahasa pertama di Tanah Jawa<br />
dan dengan sendirinya ia akan<br />
menjadi bahasa pertama di<br />
Nusantara. (Seperti dikutip oleh<br />
Karel A. Steenbrink, dalam<br />
bukunya, Orang-Orang Katolik di<br />
Indonesia).<br />
Kiprah Pater van Lith dalam<br />
gerakan misi di Jawa<br />
digambarkan oleh Fl. Hasto<br />
Rosariyanto, SJ dalam bukunya,<br />
Van Lith, Pembuka Pendidikan<br />
Guru di Jawa, Sejarah 150 th<br />
Serikat Jesus di Indonesia<br />
(2009). Dalam buku ini<br />
diceritakan, bahwa dalam suatu<br />
Kongres bahasa Jawa, secara<br />
provokatif van Lith<br />
memperingatkan orang-orang<br />
Jawa untuk berbangga akan<br />
budaya mereka dan karena itu<br />
mereka harus menghapus<br />
bahasa Melayu dari sekolah. Van<br />
Lith lebih suka mempromosikan<br />
bahasa Belanda, karena<br />
dianggapnya sebagai bahasa<br />
kemajuan.<br />
Upaya untuk menggusur bahasa<br />
Melayu dari kehidupan<br />
berbangsa di Indonesia,<br />
sebagaimana dipromosikan van<br />
Lith tidak berhasil dilakukan.<br />
Pada 28 Oktober 1928, para<br />
pemuda dari berbagai suku<br />
bangsa justru mendeklarasikan:<br />
&quot; Kami berbahasa satu, bahasa<br />
Indonesia.&quot; Demi persatuan<br />
bangsa, para pemuda dari Jawa<br />
juga merelakan bahasa Jawa<br />
tidak dijadikan sebagai bahasa<br />
nasional Indonesia.<br />
Van Lith, yang datang ke<br />
Indonesia pada 1896, menulis<br />
dalam sebuah suratnya:<br />
&quot;Jika para misionaris ingin<br />
membawa orang non-<br />
Kristen kepada Kristus,<br />
mereka harus menemukan<br />
titik-awal bagi penginjilan.<br />
Di dalam agama merekalah<br />
terletak hati dari orang-<br />
orang ini. Kalau para<br />
misionaris mengabaikan ini,<br />
mereka juga akan<br />
kehilangan titik temu untuk<br />
menawarkan kabar gembira<br />
dalam hati mereka. Di Pulau<br />
Jawa, khususnya, di mana<br />
penduduk yang paling maju<br />
dari seluruh kepulauan ini<br />
tinggal, mempelajari<br />
Hinduisme, Budhisme, Islam,<br />
dan budaya Jawa adalah<br />
sebuah keharusan yang<br />
tidak bisa ditunda. Agama-<br />
agama ini telah<br />
berkembang, tetapi agama<br />
asli tidak pernah tercabut<br />
dari hati orang-orang ini. &quot;<br />
Dalam salah satu artikelnya yang<br />
ditemukan sesudah<br />
kematiannya, van Lith juga<br />
menyemangati teman-teman<br />
misionaris agar menempatkan<br />
diri sesama warga dengan orang<br />
Jawa:<br />
&quot;Kalau kita, orang Belanda,<br />
ingin tetap tinggal di Jawa<br />
dan hidup dalam damai dan<br />
menikmati keindahan serta<br />
kekayaan pulau tercinta ini,<br />
maka ada satu tuntutan,<br />
yaitu bahwa kita harus<br />
selalu belajar<br />
memperlakukan orang Jawa<br />
sebagai saudara kita. Di<br />
tengah-tengah orang Jawa,<br />
kita tidak bisa berlagak<br />
seperti penguasa, atau<br />
sebagai majikan, atau<br />
sebagai komandan, tetapi<br />
seharusnya sebagai sesama<br />
warga. Kita harus belajar<br />
menyesuaikan diri, belajar<br />
menguasai bahasa orang-<br />
orang ini dan adat<br />
kebiasaan mereka; hanya<br />
dengan berlaku demikian<br />
kita bisa menjalin<br />
persahabatan dengan<br />
mereka ini. &quot;<br />
Demi pendekatan budaya, van<br />
Lith sampai bisa menerima<br />
orang Katolik Jawa melakukan<br />
sunat. Padahal, dalam suratnya,<br />
Paulus menyatakan:<br />
&quot; Sesungguhnya, aku, Paulus,<br />
berkata kepadamu: jikalau kamu<br />
menyunatkan dirimu, Kristus<br />
sama sekali tidak akan berguna<br />
bagimu &quot;. (Gal. 5,2). Van Lith<br />
menerima sunat bagi orang<br />
Katolik Jawa, tetapi menolak<br />
tambahan doa Arab (Islam). Ia<br />
juga menentang sunat sebagai<br />
bentuk pertobatan menjadi<br />
Muslim.<br />
Para misionaris, seperti van Lith,<br />
berkeinginan memisahkan orang<br />
Jawa dengan Islam. Sebab, orang<br />
Jawa memang sangat kokoh<br />
memegang identitasnya sebagai<br />
Muslim, meskipun mereka belum<br />
mengamalkan ajaran Islam<br />
sepenuhnya. Sulitnya orang<br />
Jawa ditembus misi Kristen<br />
digambarkan oleh tokoh misi<br />
Katolik, Pater van den Elzen,<br />
dalam sebuah suratnya<br />
bertanggal 19 Desember 1863:<br />
&quot;Orang Jawa menganggap<br />
diri mereka sebagai Muslim<br />
meskipun mereka tidak<br />
mempraktekkannya. Mereka<br />
tidak bertindak sebagai<br />
Muslim seperti dituntut oleh<br />
ajaran &quot;Buku Suci&quot; mereka.<br />
Saya tidak dapat<br />
mempercayai bahwa tidak<br />
ada satu pun orang Jawa<br />
menjadi Katolik semenjak<br />
didirikannya missi pada<br />
tahun 1808. Dulunya Jawa<br />
ini sedikit lebih maju<br />
daripada sekarang ini. Sejak<br />
tahun 1382, ketika Islam<br />
masuk, Jawa terus<br />
mengalami kemunduran.<br />
Saya dapat mengerti<br />
sekarang, mengapa Santo<br />
Fransiskus Xaverius tidak<br />
pernah menginjakkan<br />
kakinya di Jawa. Tentulah ia<br />
mendapat informasi yang<br />
amat akurat tentang<br />
penduduk di wilayah ini,<br />
termasuk Jawa. Dan<br />
Portugis yang telah berhasil<br />
menduduki beberapa<br />
tempat disini menganjurkan<br />
agar ia pergi ke Maluku,<br />
Jepang, dan Cina, karena<br />
tahu tak ada apa-apa yang<br />
bisa dibuat di Jawa. Akan<br />
tetapi, dalam pandanganku<br />
di pedalaman toh ada<br />
sesuatu yang dapat<br />
dilakukan.&quot;<br />
Demikianlah semangat misi<br />
Kristen untuk mengubah agama<br />
orang Jawa, dari Islam menjadi<br />
Kristen. Berbagai cara telah dan<br />
terus digunakan untuk<br />
menjalankan misi tersebut. Kaum<br />
Muslim memahami semangat<br />
kaum Kristen tersebut. Tapi,<br />
tentunya, tidak mudah bagi<br />
kaum Muslim untuk menerima<br />
begitu saja usaha kaum<br />
misionaris tersebut. Sebab, bagi<br />
orang Muslim, keimanan adalah<br />
harta yang paling berharga<br />
dalam kehidupan mereka.<br />
[Depok, 14 Muharram 1431 H/1<br />
Januari 2010/<br />
<a href="http://www.hidayatullah.com/">www.hidayatullah.com</a>]<br />
Catatan Akhir Pekan<br />
[CAP] adalah hasil<br />
kerjasama antara<br />
Radio Dakta 107 FM<br />
dan]]></description>
</item>
<item>
<title>Ternyata Pendidikan Anak Itu Diserahkan Oleh Sang Bapak dan Bukan Oleh Sang Ibu.</title>
<link>http://lucky.mywapblog.com/post/166.xhtml</link>
<pubDate>Mon, 28 Dec 2009 19:52:00 -0600</pubDate>
<description><![CDATA[Menurut orang modern yang namanya pendidikan modern yang namanya pendidikan dini bagi anak usia pasca balita itu sungguh terletak pada orang tua yang bernama ayah, bapak, abi atau papa. Artinya, bukan semata-mata diserahkan dan mutlak 100% jadi tanggung jawab sang ibu, mama, umi atau emak itu. Ternyata jika diserahkan bulat-bulat kepada sang ibu, konon hasil pendidikannya kelak akan timpang atau kurang maksimal ketimbang jika ditangani oleh sang ayah itu sendiri.<br />
<br />
Ini sungguh menarik ! Kita selama ini memang salah kaprah, terutama masyarakat kita di indonesia lantaran menyerahkan tugas dan tanggung jawab pendidikan anak sepenuhnya kepada isteri kita atau ibu dari anak-anak kita itu. Labih kacau dan celaka lagi, malah bukan sepenuhnya ditangan ibu kandung mereka, akan tetapi berada di tangan guru-guru mereka disekolah.<br />
<br />
Didalam Al-Quran sangat tegas dan jelas bahwa pendidikan anak pasca-balita itu adalah ditangan bapaknya. Cobalah baca Surat Luqman ayat 1-34 :<br />
<br />
<br />
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ<br />
الم<br />
<br />
[31:1] Alif Laam Miim 1179<br />
<br />
<br />
تِلْكَ آيَاتُ الْكِتَابِ الْحَكِيمِ<br />
<br />
[31:2] Inilah ayat-ayat Al<br />
Quraan yang mengandung<br />
hikmat,<br />
<br />
<br />
هُدًى وَرَحْمَةً لِّلْمُحْسِنِينَ<br />
<br />
[31:3] menjadi petunjuk dan<br />
rahmat bagi orang-orang yang<br />
berbuat kebaikan,<br />
<br />
<br />
الَّذِينَ يُقِيمُونَ الصَّلَاةَ وَيُؤْتُونَ الزَّكَاةَ<br />
وَهُم بِالْآخِرَةِ هُمْ يُوقِنُونَ<br />
<br />
[31:4] (yaitu) orang-orang<br />
yang mendirikan shalat,<br />
menunaikan zakat dan mereka<br />
yakin akan adanya negeri akhirat.<br />
<br />
<br />
أُوْلَئِكَ عَلَى هُدًى مِّن رَّبِّهِمْ وَأُوْلَئِكَ هُمُ<br />
الْمُفْلِحُونَ<br />
<br />
[31:5] Mereka itulah orang-<br />
orang yang tetap mendapat<br />
petunjuk dari Tuhannya dan<br />
mereka itulah orang-orang yang<br />
beruntung.<br />
<br />
<br />
وَمِنَ النَّاسِ مَن يَشْتَرِي لَهْوَ الْحَدِيثِ<br />
لِيُضِلَّ عَن سَبِيلِ اللَّهِ بِغَيْرِ عِلْمٍ وَيَتَّخِذَهَا<br />
هُزُواً أُولَئِكَ لَهُمْ عَذَابٌ مُّهِينٌ<br />
<br />
[31:6] Dan di antara manusia<br />
(ada) orang yang<br />
mempergunakan perkataan<br />
yang tidak berguna untuk<br />
menyesatkan (manusia) dari<br />
jalan Allah tanpa pengetahuan<br />
dan menjadikan jalan Allah itu<br />
olok-olokan. Mereka itu akan<br />
memperoleh azab yang<br />
menghinakan.<br />
<br />
<br />
وَإِذَا تُتْلَى عَلَيْهِ آيَاتُنَا وَلَّى مُسْتَكْبِراً كَأَن<br />
لَّمْ يَسْمَعْهَا كَأَنَّ فِي أُذُنَيْهِ وَقْراً فَبَشِّرْهُ<br />
بِعَذَابٍ أَلِيمٍ<br />
<br />
[31:7] Dan apabila dibacakan<br />
kepadanya 1180 ayat-ayat Kami<br />
dia berpaling dengan<br />
menyombongkan diri seolah-<br />
olah dia belum mendengarnya,<br />
seakan-akan ada sumbat di<br />
kedua telinganya; maka beri<br />
kabar gembiralah dia dengan<br />
azab yang pedih.<br />
<br />
<br />
إِنَّ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ لَهُمْ<br />
جَنَّاتُ النَّعِيمِ<br />
<br />
[31:8] Sesungguhnya orang-<br />
orang yang beriman dan<br />
mengerjakan amal-amal saleh,<br />
bagi mereka syurga-syurga yang<br />
penuh keni&#039;matan,<br />
<br />
<br />
خَالِدِينَ فِيهَا وَعْدَ اللَّهِ حَقّاً وَهُوَ الْعَزِيزُ<br />
الْحَكِيمُ<br />
<br />
[31:9] Kekal mereka di<br />
dalamnya; sebagai janji Allah<br />
yang benar. Dan Dialah Yang<br />
Maha Perkasa lagi Maha<br />
Bijaksana.<br />
<br />
<br />
خَلَقَ السَّمَاوَاتِ بِغَيْرِ عَمَدٍ تَرَوْنَهَا وَأَلْقَى<br />
فِي الْأَرْضِ رَوَاسِيَ أَن تَمِيدَ بِكُمْ وَبَثَّ<br />
فِيهَا مِن كُلِّ دَابَّةٍ وَأَنزَلْنَا مِنَ السَّمَاءِ مَاءً<br />
فَأَنبَتْنَا فِيهَا مِن كُلِّ زَوْجٍ كَرِيمٍ<br />
<br />
[31:10] Dia menciptakan<br />
langit tanpa tiang yang kamu<br />
melihatnya dan Dia meletakkan<br />
gunung-gunung (di permukaan)<br />
bumi supaya bumi itu tidak<br />
menggoyangkan kamu; dan<br />
memperkembang biakkan<br />
padanya segala macam jenis<br />
binatang. Dan Kami turunkan air<br />
hujan dari langit, lalu Kami<br />
tumbuhkan padanya segala<br />
macam tumbuh-tumbuhan yang<br />
baik.<br />
<br />
<br />
هَذَا خَلْقُ اللَّهِ فَأَرُونِي مَاذَا خَلَقَ الَّذِينَ<br />
مِن دُونِهِ بَلِ الظَّالِمُونَ فِي ضَلَالٍ مُّبِينٍ<br />
<br />
[31:11] Inilah ciptaan Allah,<br />
maka perlihatkanlah olehmu<br />
kepadaku apa yang telah<br />
diciptakan oleh sembahan-<br />
sembahan(mu) selain Allah.<br />
Sebenarnya orang-orang yang<br />
zalim itu berada di dalam<br />
kesesatan yang nyata.<br />
<br />
<br />
وَلَقَدْ آتَيْنَا لُقْمَانَ الْحِكْمَةَ أَنِ اشْكُرْ لِلَّهِ<br />
وَمَن يَشْكُرْ فَإِنَّمَا يَشْكُرُ لِنَفْسِهِ وَمَن<br />
كَفَرَ فَإِنَّ اللَّهَ غَنِيٌّ حَمِيدٌ<br />
<br />
[31:12] Dan sesungguhnya<br />
telah Kami berikan hikmat<br />
kepada Luqman, yaitu:<br />
&quot;Bersyukurlah kepada Allah. Dan<br />
barangsiapa yang bersyukur<br />
(kepada Allah), maka<br />
sesungguhnya ia bersyukur<br />
untuk dirinya sendiri; dan<br />
barangsiapa yang tidak<br />
bersyukur, maka sesungguhnya<br />
Allah Maha Kaya lagi Maha<br />
Terpuji&quot;.<br />
<br />
<br />
وَإِذْ قَالَ لُقْمَانُ لِابْنِهِ وَهُوَ يَعِظُهُ يَا بُنَيَّ<br />
لَا تُشْرِكْ بِاللَّهِ إِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ<br />
<br />
[31:13] Dan (ingatlah) ketika<br />
Luqman berkata kepada<br />
anaknya, di waktu ia memberi<br />
pelajaran kepadanya: &quot;Hai<br />
anakku, janganlah kamu<br />
mempersekutukan Allah,<br />
sesungguhnya<br />
mempersekutukan (Allah) adalah<br />
benar-benar kezaliman yang<br />
besar&quot;.<br />
<br />
<br />
وَوَصَّيْنَا الْإِنسَانَ بِوَالِدَيْهِ حَمَلَتْهُ أُمُّهُ<br />
وَهْناً عَلَى وَهْنٍ وَفِصَالُهُ فِي عَامَيْنِ أَنِ<br />
اشْكُرْ لِي وَلِوَالِدَيْكَ إِلَيَّ الْمَصِيرُ<br />
<br />
[31:14] Dan Kami<br />
perintahkan kepada manusia<br />
(berbuat baik) kepada dua orang<br />
ibu-bapanya; ibunya telah<br />
mengandungnya dalam keadaan<br />
lemah yang<br />
<br />
bertambah-tambah, dan<br />
menyapihnya dalam dua tahun<br />
1181. Bersyukurlah kepadaKu<br />
dan kepada dua orang ibu<br />
bapakmu, hanya kepada-Kulah<br />
kembalimu.<br />
<br />
<br />
وَإِن جَاهَدَاكَ عَلى أَن تُشْرِكَ بِي مَا<br />
لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ فَلَا تُطِعْهُمَا وَصَاحِبْهُمَا<br />
فِي الدُّنْيَا مَعْرُوفاً وَاتَّبِعْ سَبِيلَ مَنْ أَنَابَ<br />
إِلَيَّ ثُمَّ إِلَيَّ مَرْجِعُكُمْ فَأُنَبِّئُكُم بِمَا كُنتُمْ<br />
تَعْمَلُونَ<br />
<br />
[31:15] Dan jika keduanya<br />
memaksamu untuk<br />
mempersekutukan dengan Aku<br />
sesuatu yang tidak ada<br />
pengetahuanmu tentang itu,<br />
maka janganlah kamu mengikuti<br />
keduanya, dan pergaulilah<br />
keduanya di dunia dengan baik,<br />
dan ikutilah jalan orang yang<br />
kembali kepada-Ku, kemudian<br />
hanya kepada-Kulah kembalimu,<br />
maka Kuberitakan kepadamu<br />
apa yang telah kamu kerjakan.<br />
<br />
<br />
يَا بُنَيَّ إِنَّهَا إِن تَكُ مِثْقَالَ حَبَّةٍ مِّنْ خَرْدَلٍ<br />
فَتَكُن فِي صَخْرَةٍ أَوْ فِي السَّمَاوَاتِ أَوْ<br />
فِي الْأَرْضِ يَأْتِ بِهَا اللَّهُ إِنَّ اللَّهَ لَطِيفٌ<br />
خَبِيرٌ<br />
<br />
[31:16] (Luqman berkata):<br />
&quot;Hai anakku, sesungguhnya jika<br />
ada (sesuatu perbuatan) seberat<br />
biji sawi, dan berada dalam batu<br />
atau di langit atau di dalam<br />
bumi, niscaya Allah akan<br />
mendatangkannya<br />
<br />
(membalasinya). Sesungguhnya<br />
Allah Maha Halus 1182 lagi Maha<br />
Mengetahui.<br />
<br />
<br />
يَا بُنَيَّ أَقِمِ الصَّلَاةَ وَأْمُرْ بِالْمَعْرُوفِ<br />
وَانْهَ عَنِ الْمُنكَرِ وَاصْبِرْ عَلَى مَا أَصَابَكَ<br />
إِنَّ ذَلِكَ مِنْ عَزْمِ الْأُمُورِ<br />
<br />
[31:17] Hai anakku,<br />
dirikanlah shalat dan suruhlah<br />
(manusia) mengerjakan yang<br />
baik dan cegahlah (mereka) dari<br />
perbuatan yang mungkar dan<br />
bersabarlah terhadap apa yang<br />
menimpa kamu. Sesungguhnya<br />
yang demikian itu termasuk hal-<br />
hal yang diwajibkan (oleh Allah).<br />
<br />
<br />
وَلَا تُصَعِّرْ خَدَّكَ لِلنَّاسِ وَلَا تَمْشِ فِي<br />
الْأَرْضِ مَرَحاً إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ كُلَّ<br />
مُخْتَالٍ فَخُورٍ<br />
<br />
[31:18] Dan janganlah kamu<br />
memalingkan mukamu dari<br />
manusia (karena sombong) dan<br />
janganlah kamu berjalan di<br />
muka bumi dengan angkuh.<br />
Sesungguhnya Allah tidak<br />
menyukai orang-orang yang<br />
sombong lagi membanggakan<br />
diri.<br />
<br />
<br />
وَاقْصِدْ فِي مَشْيِكَ وَاغْضُضْ مِن صَوْتِكَ<br />
إِنَّ أَنكَرَ الْأَصْوَاتِ لَصَوْتُ الْحَمِيرِ<br />
<br />
[31:19] Dan sederhanalah<br />
kamu dalam berjalan 1183 dan<br />
lunakkanlah suaramu.<br />
Sesungguhnya seburuk-buruk<br />
suara ialah suara keledai.<br />
<br />
<br />
أَلَمْ تَرَوْا أَنَّ اللَّهَ سَخَّرَ لَكُم مَّا فِي<br />
السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ وَأَسْبَغَ<br />
عَلَيْكُمْ نِعَمَهُ ظَاهِرَةً وَبَاطِنَةً وَمِنَ<br />
النَّاسِ مَن يُجَادِلُ فِي اللَّهِ بِغَيْرِ عِلْمٍ<br />
وَلَا هُدًى وَلَا كِتَابٍ مُّنِيرٍ<br />
<br />
[31:20] Tidakkah kamu<br />
perhatikan sesungguhnya Allah<br />
telah menundukkan untuk<br />
(kepentingan)mu apa yang di<br />
langit dan apa yang di bumi dan<br />
menyempurnakan untukmu<br />
ni&#039;mat-Nya lahir dan batin. Dan di<br />
antara manusia ada yang<br />
membantah tentang (keesaan)<br />
Allah tanpa ilmu pengetahuan<br />
atau petunjuk dan tanpa Kitab<br />
yang memberi penerangan.<br />
<br />
<br />
<br />
وَإِذَا قِيلَ لَهُمُ اتَّبِعُوا مَا أَنزَلَ اللَّهُ قَالُوا<br />
بَلْ نَتَّبِعُ مَا وَجَدْنَا عَلَيْهِ آبَاءنَا أَوَلَوْ كَانَ<br />
الشَّيْطَانُ يَدْعُوهُمْ إِلَى عَذَابِ السَّعِيرِ<br />
<br />
[31:21] Dan apabila<br />
dikatakan kepada mereka:<br />
&quot;Ikutilah apa yang diturunkan<br />
Allah&quot;. Mereka menjawab:<br />
&quot;(Tidak), tapi kami (hanya)<br />
mengikuti apa yang kami dapati<br />
bapak-bapak kami<br />
mengerjakannya&quot;. Dan apakah<br />
mereka (akan mengikuti bapak-<br />
bapak mereka) walaupun syaitan<br />
itu menyeru mereka ke dalam<br />
siksa api yang menyala-nyala<br />
(neraka)?<br />
<br />
<br />
وَمَن يُسْلِمْ وَجْهَهُ إِلَى اللَّهِ وَهُوَ مُحْسِنٌ<br />
فَقَدِ اسْتَمْسَكَ بِالْعُرْوَةِ الْوُثْقَى وَإِلَى<br />
اللَّهِ عَاقِبَةُ الْأُمُورِ<br />
<br />
[31:22] Dan barangsiapa<br />
yang menyerahkan dirinya<br />
kepada Allah, sedang dia orang<br />
yang berbuat kebaikan, maka<br />
sesungguhnya ia telah<br />
berpegang kepada buhul tali<br />
yang kokoh. Dan hanya kepada<br />
Allah-lah kesudahan segala<br />
urusan.<br />
<br />
<br />
وَمَن كَفَرَ فَلَا يَحْزُنكَ كُفْرُهُ إِلَيْنَا<br />
مَرْجِعُهُمْ فَنُنَبِّئُهُم بِمَا عَمِلُوا إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ<br />
بِذَاتِ الصُّدُورِ<br />
<br />
[31:23] Dan barangsiapa<br />
kafir maka kekafirannya itu<br />
janganlah menyedihkanmu.<br />
Hanya kepada Kami-lah mereka<br />
kembali, lalu Kami beritakan<br />
kepada mereka apa yang telah<br />
mereka kerjakan. Sesungguhnya<br />
Allah Maha Mengetahui segala isi<br />
hati.<br />
<br />
<br />
نُمَتِّعُهُمْ قَلِيلاً ثُمَّ نَضْطَرُّهُمْ إِلَى عَذَابٍ<br />
غَلِيظٍ<br />
<br />
[31:24] Kami biarkan mereka<br />
bersenang-senang sebentar,<br />
kemudian Kami paksa mereka<br />
(masuk) ke dalam siksa yang<br />
keras.<br />
<br />
<br />
وَلَئِن سَأَلْتَهُم مَّنْ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ<br />
وَالْأَرْضَ لَيَقُولُنَّ اللَّهُ قُلِ الْحَمْدُ لِلَّهِ بَلْ<br />
أَكْثَرُهُمْ لَا يَعْلَمُونَ<br />
<br />
[31:25] Dan sesungguhnya<br />
jika kamu tanyakan kepada<br />
mereka: &quot;Siapakah yang<br />
menciptakan langit dan bumi?&quot;<br />
Tentu mereka akan menjawab:<br />
&quot;Allah&quot;. Katakanlah : &quot;Segala puji<br />
bagi Allah&quot;; tetapi kebanyakan<br />
mereka tidak mengetahui.<br />
<br />
<br />
لِلَّهِ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ إِنَّ اللَّهَ<br />
هُوَ الْغَنِيُّ الْحَمِيدُ<br />
<br />
[31:26] Kepunyaan Allah-lah<br />
apa yang di langit dan yang di<br />
bumi. Sesungguhnya Allah Dia-<br />
lah Yang Maha Kaya lagi Maha<br />
Terpuji.<br />
<br />
<br />
وَلَوْ أَنَّمَا فِي الْأَرْضِ مِن شَجَرَةٍ أَقْلَامٌ<br />
وَالْبَحْرُ يَمُدُّهُ مِن بَعْدِهِ سَبْعَةُ أَبْحُرٍ مَّا<br />
نَفِدَتْ كَلِمَاتُ اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ عَزِيزٌ حَكِيمٌ<br />
<br />
[31:27] Dan seandainya<br />
pohon-pohon di bumi menjadi<br />
pena dan laut (menjadi tinta),<br />
ditambahkan kepadanya tujuh<br />
laut (lagi) sesudah (kering)nya,<br />
niscaya tidak akan habis-<br />
habisnya (dituliskan) kalimat<br />
<br />
Allah 1184. Sesungguhnya Allah<br />
Maha Perkasa lagi Maha<br />
Bijaksana.<br />
<br />
<br />
مَّا خَلْقُكُمْ وَلَا بَعْثُكُمْ إِلَّا كَنَفْسٍ وَاحِدَةٍ<br />
إِنَّ اللَّهَ سَمِيعٌ بَصِيرٌ<br />
<br />
[31:28] Tidaklah Allah<br />
menciptakan dan<br />
membangkitkan kamu (dari<br />
dalam kubur) itu melainkan<br />
hanyalah seperti (menciptakan<br />
dan membangkitkan)<br />
<br />
satu jiwa saja 1185.<br />
Sesungguhnya Allah Maha<br />
Mendengar lagi Maha Melihat.<br />
<br />
<br />
أَلَمْ تَرَ أَنَّ اللَّهَ يُولِجُ اللَّيْلَ فِي النَّهَارِ<br />
وَيُولِجُ النَّهَارَ فِي اللَّيْلِ وَسَخَّرَ الشَّمْسَ<br />
وَالْقَمَرَ كُلٌّ يَجْرِي إِلَى أَجَلٍ مُّسَمًّى وَأَنَّ<br />
اللَّهَ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ<br />
<br />
[31:29] Tidakkah kamu<br />
memperhatikan, bahwa<br />
sesungguhnya Allah<br />
memasukkan malam ke dalam<br />
siang dan memasukkan siang ke<br />
dalam malam dan Dia tundukkan<br />
matahari dan bulan masing-<br />
masing berjalan sampai kepada<br />
waktu yang ditentukan, dan<br />
sesungguhnya Allah Maha<br />
Mengetahui apa yang kamu<br />
kerjakan.<br />
<br />
<br />
ذَلِكَ بِأَنَّ اللَّهَ هُوَ الْحَقُّ وَأَنَّ مَا يَدْعُونَ<br />
مِن دُونِهِ الْبَاطِلُ وَأَنَّ اللَّهَ هُوَ الْعَلِيُّ<br />
الْكَبِيرُ<br />
<br />
[31:30] Demikianlah, karena<br />
sesungguhnya Allah,<br />
<br />
Dia-lah yang hak 1186 dan<br />
sesungguhnya apa saja yang<br />
mereka seru selain dari Allah<br />
itulah yang batil; dan<br />
sesungguhnya Allah Dialah Yang<br />
Maha Tinggi lagi Maha Besar.<br />
<br />
<br />
أَلَمْ تَرَ أَنَّ الْفُلْكَ تَجْرِي فِي الْبَحْرِ بِنِعْمَتِ<br />
اللَّهِ لِيُرِيَكُم مِّنْ آيَاتِهِ إِنَّ فِي ذَلِكَ لَآيَاتٍ<br />
لِّكُلِّ صَبَّارٍ شَكُورٍ<br />
<br />
[31:31] Tidakkah kamu<br />
memperhatikan bahwa<br />
sesungguhnya kapal itu berlayar<br />
di laut dengan ni&#039;mat Allah,<br />
supaya diperlihatkan-Nya<br />
kepadamu sebahagian dari<br />
tanda-tanda (kekuasaan)-Nya.<br />
Sesungguhnya pada yang<br />
demikian itu benar-benar<br />
terdapat tanda-tanda bagi<br />
semua orang yang sangat sabar<br />
lagi banyak bersyukur.<br />
<br />
<br />
وَإِذَا غَشِيَهُم مَّوْجٌ كَالظُّلَلِ دَعَوُا اللَّهَ<br />
مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ فَلَمَّا نَجَّاهُمْ إِلَى الْبَرِّ<br />
فَمِنْهُم مُّقْتَصِدٌ وَمَا يَجْحَدُ بِآيَاتِنَا إِلَّا كُلُّ<br />
خَتَّارٍ كَفُورٍ<br />
<br />
[31:32] Dan apabila mereka<br />
dilamun ombak yang besar<br />
seperti gunung, mereka<br />
menyeru Allah dengan<br />
memurnikan ketaatan kepada-<br />
Nya maka tatkala Allah<br />
menyelamatkan mereka sampai<br />
di daratan, lalu sebagian<br />
<br />
mereka tetap menempuh jalan<br />
yang lurus 1187. Dan tidak ada<br />
yang mengingkari ayat-ayat<br />
Kami selain orang-orang yang<br />
tidak setia lagi ingkar.<br />
<br />
<br />
يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمْ وَاخْشَوْا يَوْماً<br />
لَّا يَجْزِي وَالِدٌ عَن وَلَدِهِ وَلَا مَوْلُودٌ هُوَ<br />
جَازٍ عَن وَالِدِهِ شَيْئاً إِنَّ وَعْدَ اللَّهِ حَقٌّ<br />
فَلَا تَغُرَّنَّكُمُ الْحَيَاةُ الدُّنْيَا وَلَا يَغُرَّنَّكُم<br />
بِاللَّهِ الْغَرُورُ<br />
<br />
[31:33] Hai manusia,<br />
bertakwalah kepada Tuhanmu<br />
dan takutilah suatu hari yang<br />
(pada hari itu) seorang bapak<br />
tidak dapat menolong anaknya<br />
dan seorang anak tidak dapat<br />
(pula) menolong bapaknya<br />
sedikitpun. Sesungguhnya janji<br />
Allah adalah benar, maka<br />
janganlah sekali-kali kehidupan<br />
dunia memperdayakan kamu,<br />
dan jangan (pula) penipu<br />
(syaitan) memperdayakan kamu<br />
dalam (mentaati) Allah.<br />
<br />
<br />
إِنَّ اللَّهَ عِندَهُ عِلْمُ السَّاعَةِ وَيُنَزِّلُ الْغَيْثَ<br />
وَيَعْلَمُ مَا فِي الْأَرْحَامِ وَمَا تَدْرِي نَفْسٌ<br />
مَّاذَا تَكْسِبُ غَداً وَمَا تَدْرِي نَفْسٌ بِأَيِّ<br />
أَرْضٍ تَمُوتُ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ<br />
<br />
[31:34] Sesungguhnya Allah,<br />
hanya pada sisi-Nya sajalah<br />
pengetahuan tentang Hari<br />
Kiamat; dan Dia-lah Yang<br />
menurunkan hujan, dan<br />
mengetahui apa yang ada dalam<br />
rahim. Dan tiada seorangpun<br />
yang dapat mengetahui (dengan<br />
pasti) apa yang akan<br />
diusahakannya<br />
<br />
besok 1188. Dan tiada<br />
seorangpun yang dapat<br />
mengetahui di bumi mana dia<br />
akan mati. Sesungguhnya Allah<br />
Maha Mengetahui lagi Maha<br />
Mengenal.<br />
<br />
<br />
<br />
<br />
Disitu Quran merinci, bagaimana Luqmanulhakim sebagai representasi kaum bapak memberikan pengajaran kepada anaknya. Sebuah tutur pengajaran yang penuh hikmah.]]></description>
</item>
<item>
<title>Hukum Karma</title>
<link>http://lucky.mywapblog.com/post/165.xhtml</link>
<pubDate>Fri, 25 Dec 2009 22:00:00 -0600</pubDate>
<description><![CDATA[Apakah Islam mengenal hukum karma seperti yang sering kita dengar dari masyarakat ?<br />
<br />
Hukum karma itu dari kepercayaan Hindu, kalau kita berbuat salah, kita dihukum di dunia juga. Kalau kita menipu, nanti ditipu lagi oleh orang lain. Lazimnya yang dikenal dengan hukum karma seperti itu. Banyak orang yang berbuat jelek, namun dengan kekuasaan dan harta dia bisa menutupi kejelekannya sehingga dia dikenal sebagai orang baik, bahkan sampai mati belum sempat dibalas kejelekannya. Ada orang yang korupsi besar-besaran dan menikmati hasil korupsi sepanjang hidupnya, begitu mati dimakamkan dimakam pahlawan. Itulah pentingnya hari akherat.<br />
<br />
Kalau kita berpikir hari akherat tidak ada, Tuhan itu tidak adil karena ada orang yang mencuri kecil-kecilan, kemudian ketahuan dipukuli babak belur, bahkan ada yang dibakar hidup-hidup. Tetapi yang mencuri besar-besaran malah menikmati hidupnya dengan baik.<br />
<br />
Kalau kita berpendapat, apakah menurut Islam ada beberapa dosa yang akan Allah bakar di dunia ini juga, yaitu durhaka kepada orang tua, dan berlaku sewenang-wenang. Balasannya tentu bermacam-macam dan kita tidak boleh menyebutnya dengan hukum karma ! karena kita untuk bertasyabbuh (meniru) dengan agama lain. Kalau dalam Islam kita menyebutnya dengan Iqab sebagai balasan dan menurut Islam seluruh dosa dibalas didunia maupun diakherat nanti. Cara membalasnya macam-macam, ada yang diturunkan berupa siksaan yang sama dan ada juga yang tidak sama dengan perbuatannya.]]></description>
</item>
<item>
<title>Efek Dari Kata-Kata</title>
<link>http://lucky.mywapblog.com/post/164.xhtml</link>
<pubDate>Thu, 24 Dec 2009 22:06:00 -0600</pubDate>
<description><![CDATA[Dalam buku The True Power of<br />
Water, Dr Masaro Emoto<br />
membuktikan bahwa air dapat<br />
membawa pesan. Air yang<br />
dibacakan kata-kata positif akan<br />
merespons dan membentuk<br />
kristal-kristal positif yang<br />
merekah bagaikan bunga di pagi<br />
hari. Apalagi jika yang diucapkan<br />
di hadapan air adalah doa-doa.<br />
Sebaliknya, jika yang diucapkan<br />
adalah kata-kata negatif, maka<br />
air akan membentuk kristal-<br />
kristal pecah yang berdampak<br />
negatif. Hasil penelitian ini<br />
menegaskan betapa pentingnya<br />
kata-kata positif bagi manusia<br />
yang 70 persen tubuhnya terdiri<br />
atas air.<br />
Dalam kehidupan rumah tangga,<br />
tidak jarang anggota keluarga<br />
mengucapkan kata-kata negatif<br />
kepada anggota keluarga<br />
lainnya. Dampak dari ucapan<br />
negatif ini sering kali tidak<br />
disadari karena minimnya<br />
pengetahuan tentang bahaya<br />
ucapan negatif itu. Kata<br />
&#039;&#039;bodoh&#039;&#039;, &#039;&#039;pemalas&#039;&#039;, &#039;&#039;cengeng&#039;&#039;,<br />
dan lain-lain sering terucap dari<br />
bibir orang tua kepada anaknya.<br />
Meski demikian, Allah<br />
mengingatkan agar seorang<br />
anak tidak mengucapkan kata-<br />
kata kasar kepada orang tuanya.<br />
&#039;&#039;Maka sekali-kali janganlah kamu<br />
mengatakan kepada keduanya<br />
perkataan &#039;&#039;ah&#039; dan janganlah<br />
kamu membentak mereka dan<br />
ucapkanlah kepada mereka<br />
perkataan yang mulia.&#039;&#039; (QS Al-<br />
Isra&#039; [17]: 23). Larangan<br />
mengucapkan kata negatif tentu<br />
tidak hanya berlaku pada anak<br />
terhadap orang tuanya.<br />
Larangan ini berlaku bagi siapa<br />
saja dan terhadap siapa saja.<br />
Selain berdampak menyakitkan<br />
hati--yang berarti merusak<br />
hubungan kekeluargaan--kata-<br />
kata negatif juga mempengaruhi<br />
orang yang menjadi sasaran<br />
kata-kata itu secara psikologis.<br />
Dalam tubuh manusia yang 70<br />
persen terdiri atas air akan<br />
terbentuk kristal-kristal pecah<br />
ketika ia sering menerima<br />
ucapan yang negatif. Bayangkan<br />
jika itu terjadi pada anak-anak<br />
kita.<br />
Hasil penelitian Emoto juga<br />
menegaskan bahwa pada<br />
hakikatnya kata-kata memiliki<br />
kekuatan &#039;&#039;mencipta&#039;&#039;. Kata-kata<br />
negatif akan menciptakan<br />
sesuatu yang negatif dan kata-<br />
kata positif akan menciptakan<br />
sesuatu yang positif. Mungkin<br />
inilah rahasia sabda Rasulullah<br />
yang menegaskan, &#039;&#039;Barangsiapa<br />
beriman kepada Allah dan hari<br />
akhir, hendaknya ia<br />
mengucapkan kata-kata baik<br />
atau diam.&#039;&#039; Hadis ini<br />
diriwayatkan oleh banyak imam<br />
hadis.<br />
Penemuan ilmiah Emoto tersebut<br />
sangat penting untuk<br />
menegaskan hikmah di balik<br />
hadis di atas. Jika kita tidak<br />
mampu mengucapkan kata-kata<br />
yang baik, maka pilihan bijak<br />
adalah diam. Karena, ucapan<br />
negatif memiliki dampak negatif<br />
secara sosial dan psikologis yang<br />
berarti menciptakan ketegangan<br />
dan penyimpangan dalam<br />
kehidupan, baik kehidupan<br />
rumah tangga ataupun<br />
kehidupan bermasyarakat. Maka,<br />
hendaknya kita ciptakan<br />
kehidupan yang baik dan damai<br />
dengan mengucapkan kata-kata<br />
positif kepada semua orang di<br />
sekitar kita.<br />
<br />
Taufik Damas<br />
Republika.com]]></description>
</item>
<item>
<title>Penemuan Yang Menggemparkan.</title>
<link>http://lucky.mywapblog.com/post/163.xhtml</link>
<pubDate>Thu, 24 Dec 2009 22:08:00 -0600</pubDate>
<description><![CDATA[Penemuan Baru yg<br />
Menggemparkan !<br />
Dari Milist sebelah<br />
----------------------------<br />
Para ilmuwan di Univeritas<br />
Oxford baru-baru ini telah<br />
memecahkan misteri batu<br />
Malinkundang di tanah Minang.<br />
Sekian lama batu yg menyerupai<br />
sosok tokoh<br />
Malinkundang tersebut, dalam<br />
cerita rakyat Minang,<br />
diyakini hanya merupakan cerita<br />
legenda belaka.<br />
Namun para ahli sekarang telah<br />
mengetahui bhw<br />
batu tsb diawetkan dengan<br />
formula canggih khas<br />
resep indonesia yg<br />
kehebatannya melebihi ramuan<br />
para Mummi dari Mesir.<br />
Formula rahasia Malinkundang<br />
terkuak setelah ditemukan<br />
sisa-sisa cairan yang terdapat<br />
pada botol, terkubur<br />
secara aman, tak jauh dari batu<br />
Malinkundang.<br />
Pada label botol tersebut tertulis<br />
dengan jelas<br />
&quot;For Malin&quot; yg artinya &quot;untuk<br />
Malin&quot;. Penduduk<br />
sektarnya dan rakyat indonesia<br />
pada umumnya<br />
biasa menyebut &quot;formalin&quot; yaitu<br />
sebuah resep rahasia<br />
nenek moyang yg biasa<br />
digunakan utk mengawetkan<br />
mayat, namun karena kenaikan<br />
harga BBM dan krisis yg<br />
berkepanjangan, formalin saat<br />
ini lazim dipakai<br />
utk mengawetkan tahu, ikan<br />
asin, bakso, mie basah dan<br />
tentu saja... Mayat, seperti dapat<br />
terlihat pada<br />
batu Malinkundang yg masih<br />
tetap awet sampai skrg di<br />
tanah Minang.<br />
From,<br />
Datuk Rang Kayo di Ranah<br />
Minang<br />
Arsip : &lt; http://<br />
news.mahawarman.net&gt;]]></description>
</item>
<item>
<title>Mari Bermuhasabah (Mengevaluasi Diri) Di Akhir Tahun.</title>
<link>http://lucky.mywapblog.com/post/162.xhtml</link>
<pubDate>Thu, 17 Dec 2009 20:37:00 -0600</pubDate>
<description><![CDATA[Hari esok adalah hari setelah hari<br />
ini. Namun, tak seorang pun<br />
mampu menjamin bahwa dia<br />
akan sampai pada hari esok. Hari<br />
kemarin adalah hari yang sudah<br />
jauh meninggalkan kita dan<br />
tidak mungkin kembali ditemui.<br />
Sementara, perbekalan yang<br />
harus dibawa, kebaikan yang<br />
dilakukan, serta kelalaian yang<br />
dikerjakan harus dievaluasi agar<br />
mendatangkan keuntungan.<br />
Muhasabah atau dalam<br />
manajemen modern dikenal<br />
dengan evaluasi merupakan<br />
poin penting dalam setiap hal<br />
dan pekerjaan. Lima belas abad<br />
yang silam, Islam telah<br />
mengingatkan penganutnya<br />
untuk selalu mengadakan<br />
evaluasi dalam setiap amalan<br />
dan perjalanan hidupnya.<br />
&#039;&#039;Hasibu anfusakum qabla an<br />
tuhasabu, wazzinu anfusakum<br />
qabla an tuwazanu&#039;&#039; (evaluasilah<br />
diri kalian sebelum kalian<br />
dievaluasi dan timbanglah ia<br />
sebelum engkau ditimbang).<br />
Demikian Amirul Mukminin, Umar<br />
bin Al-Khathab mengingatkan<br />
para sahabat dan orang-orang<br />
setelahnya.<br />
Bahkan, Maimun bin Mahran<br />
sebagaimana dikutip Sa&#039;id<br />
Hawwa mengatakan, &#039;&#039;Seorang<br />
hamba tidak termasuk golongan<br />
orang bertakwa sehingga dia<br />
menghisab dirinya lebih keras<br />
ketimbang muhasabah-nya<br />
terhadap mitra usahanya;<br />
sedangkan dua orang mitra<br />
usaha saling muhasabah setelah<br />
bekerja.&#039;&#039;<br />
Hisab di akhirat akan menjadi<br />
ringan bagi orang-orang yang<br />
melakukan muhasabah--<br />
mengevaluasi diri--di dunia, dan<br />
akan menjadi berat pada hari<br />
Kiamat bagi orang yang<br />
mengambil urusan ini tanpa<br />
muhasabah.<br />
Dalam konteks hidup<br />
bermasyarakat, muhasabah<br />
jama&#039;i atau evaluasi bersama<br />
merupakan tuntutan dan<br />
keniscayaan bagi seluruh<br />
anggota masyarakat. Karena<br />
perbaikan masyarakat tidak bisa<br />
dilakukan oleh perorangan atau<br />
dikerjakan sebagian kecil<br />
warganya, namun harus<br />
dilakukan seluruh elemen<br />
masyarakat.<br />
&#039;&#039;Sesungguhnya Allah tidak<br />
mengubah keadaan sesuatu<br />
kaum sehingga mereka<br />
mengubah keadaan yang ada<br />
pada diri mereka sendiri. Dan<br />
apabila Allah menghendaki<br />
keburukan terhadap suatu<br />
kaum, maka tak ada yang dapat<br />
menolaknya; dan sekali-kali tak<br />
ada pelindung bagi mereka<br />
selain Dia.&#039;&#039; (QS Ar-Ra&#039;du [13] :<br />
11).<br />
Kata pengganti nama pada kata<br />
anfusihim (diri-diri mereka)<br />
dalam surat itu, tertuju kepada<br />
qaum/masyarakat. Hal ini<br />
menunjukkan bahwa perbaikan<br />
suatu komunitas atau<br />
masyarakat tidak bisa terwujud<br />
sempurna, kecuali dilakukan oleh<br />
seluruh warga masyarakat<br />
secara bersama-sama.<br />
<br />
Oleh : Ahmad SM<br />
Republika]]></description>
</item>
</channel>
</rss>